Orang Indonesia adalah smiling people, smart, dan pekerja keras. Selain itu mereka memiliki semangat hospitality. Modal utama untuk memajukan pariwisata Indonesia.
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk, memiliki lebih dari empat ratus suku bangsa, karena Indonesia berada di jalur silang antara dua samudera dan dua benua dengan jumlah pulau 17.504. Maka, diperlukan pengembangan pariwisata bagi Indonesia guna mengambil langkah demi pengembangan potensi alam dan budaya Indonesia untuk pemanfaatan maksimal dan tepat guna bagi masyarakat.
Demikian dikatakan Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti, Djoko Sudibyo beberapa waktu yang lalu di Jakarta dalam sebuah seminar pariwisata. Menurut Djoko, kekayaan seni budaya Indonesia idealnya dihargai dan dilestarikan oleh masyarakat.
Pria kelahiran Malang, 31 Desember 1948 ini mengatakan kekayaan seni budaya Indonesia, idealnya dihargai oleh masyarakat hingga tidak terjaga kelestariannya. Hal ini kata Djoko terjadi karena mengikuti perkembangan dari komunitas masyarakat.
Sektor pariwisata itu sangat penting. Menurut Djoko, pariwisata itu make of the people happy! Dikatakan Djoko, Indonesia memiliki banyak destinasi wisata yang sangat bagus dan tidak kalah dengan Thailand dan Malaysia. “Trully Asia itu sebenarnya Indonesia,”tegas Djoko.
Karenanya dengan dukungan sumberdaya manusia lulusan STP Trisakti, yang siap bersaing di tingkat regional, Djoko yakin Indonesia menjadi destinasi wisata yang diperhitungkan baik di kancah regional maupun internasional.
Djoko yang juga Ketua Umum Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia (Hildiktipari) mengatakan pencitraan Indonesia merupakan tanggung jawab penuh ahli-ahli pariwisata dan ke depan yang mesti dikembangkan adalah destinasi wisata di kawasan Indonesia timur. Hal ini dikarenakan Indonesia timur memiliki potensi yang sangat besar namun belum tergarap.
Lebih lanjut Doktor Pariwisata lulusan Universitas Malaysia Utara ini mengatakan, masalah mendasar dunia pendidikan kepariwisataan yakni belum mengarah kepada peningkatan kompetensi mahasiswa yang komprehensif. Kondisi ini diperkuat dengan belum maksimalnya kinerja Sistem Penjaminan Mutu Internal Perguruan Tinggi (SPMI-PT) secara maksimal.
Peluang menggarap dan mengembangkan pariwisata di Indonesia menjadi concern Djoko dalam mempersiapkan lulusan dari STP Trisakti. STP Trisakti menurutnya harus menjadi center of excelent daripada pariwisatanya. Sehingga pembenahan secara internal di STP Trisakti yakni dengan meningkatkan kemampuan para dosen dengan melanjutkan kuliah lagi, memberikan beasiswa bagi mahasiswa yang beprestasi untuk belajar di Thailand, Malaysia, sehingga mereka bisa melihat dan belajar tentang pariwisata di negara tersebut dalam kerangka MIT-Malaysia-Indonesia-Thailand.
Orang Indonesia menurut pria yang juga alumnus STP Trisakti (dulu bernama Akademi Pariwisata Trisakti), merupakan smile of the people, juga smart dan pekerja keras. Selain itu mereka juga memiliki semangat hospitality dan make of the people happy. Hal-hal tersebut juga melekat pada mahasiswa STP Trisakti. Tentu ini juga merupakan kerja keras Djoko bersama tim mempersiapkan mahasiswa untuk terus membuat orang selalu gembira mengunjungi Indonesia.
STP Trisakti kata Djoko, atas permintaan beberapa hotel di Oman telah mengirim lebih dari 100 lulusannya bekerja disana untuk menggantikan karyawan yang berasal di Filipina. Tentu, juga didukung oleh ketekunan, keramahan serta terus menjadi smile of the people yang dibekali selama kuliah.
Dalam memimpin STP Trisakti, Djoko berobsesi untuk terus meningkatkan kemampuan para dosen, dan juga mempersiapkan tongkat estafet orang-orang muda untuk menggantikan yang sudah tua guna memberikan input, kontribusi positif, serta outcome yang mampu menjadi sokoguru didalam peran pembentukan karakter generasi muda. Prinsip Djoko adalah, STP Trisakti tidak pernah menolak datangnya ilmu sehingga para dosen, mahasiswa akan terus belajar. Ini merupakan hukum wajib bagi mereka.
Kelas Dunia

Disinggung soal pencitraan di mata internasional dimana salah satu kontribusinya dari sektor pariwisata, Djoko mengatakan pencitraan itu nomor satu. Pemerintah, harus giat mempromosikan Indonesia hingga ke pelosok dunia bahwa pariwisata itu akan mengangkat harkat dan martabat manusia serta meningkatkan taraf hidup. Sementara dunia pendidikan, akan membantu pemerintah bagaimana melayani orang.
STP Trisakti juga kata Djoko, siap menjadi pesaing dengan peningkatan kualitas sumberdaya melalui budaya unggul menuju era regional. Budaya unggul suatu organisasi, sangat terkait dengan visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategi organisasinya yang mengandung impian jauh ke depan guna mengutarakan ide yang tidak 'seragam', atau tidak biasa dilakukan orang lain.
STP Trisakti, menghadapi persaingan dalam memberikan jasa pendidikan pariwisata kata Djoko tetap mengedepankan pendidikan vokasi disamping pendidikan akademik sebagai strategi dalam bersaing terhadap sekitar 24 perguruan tinggi di Jakarta dan juga membuka program pariwisata, dimana mahasiswa yang lulus dari STP Trisakti dapat dipastikan mempunyai berbagai keterampilan hard skill dan soft skill operasional servis dan hospitaliti maupun ilmu manajemen yang mempersiapkan mereka bersaing dalam karir, baik di industri hospitaliti maupun di industri umum lainnya.
Untuk mensejajarkan STP Trisakti dengan sekolah pariwisata kelas dunia, 30 November 2007 lalu telah diresmikan program double degree antara STP Trisakti dengan IMI-Swiss oleh Duta Besar Swiss untuk Indonesia disaksikan Depdikbud dan Pembina Yayasan Trisakti. Program ini diikuti lulusan SLA atau lulusan Diploma Tiga Pariwisata dimana mereka akan mendapat kesempatan training di Indonesia dan Asean, dan pada tahun terakhir dilaksanakan di IMI-Swiss dengan satu kali training. Lulusan memperoleh gelar SST.Par dan BA (Hons) dari IMI-Swiss dan Manchester Metropolitan University (MMU) Inggris sebagai partner IMI. Diharapkan lulusan STP Trisakti mudah berkarier di negara-negara Eropa dan jaringan IMI di dunia.
Kepiawaian berkiprah di pendidikan pariwisata terbukti dengan telah banyak menjalankan kerjasama internasional. Khusus di tahun 2011 ini telah terjalin MoU dengan Burapa University dan Raja Manggala Thailand juga Shatec dari Singapura. Semua kerjasama ini tak lain merupakan visi lembaga yang akan menjadikan pemain global bagi lulusan STP Trisakti dan telah diimplementasikan dari sebahagian alumni yang telah berkiprah di dunia internasional dalam industri hospitalitydan tourism. Oktober lalu misalnya, STP Trisakti melepaskan 18 mahasiswa untuk kuliah selama empat bulan di Burapha University Thailand.
Bertepatan dengan acara wisuda sarjana sains terapan di Manggala Wanabakti, Jakarta, Sabtu (22/10), Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti (STPT) berhasil meraih penghargaan International Organization for Standardization (ISO), yaitu Sertifikat ISO 9001:2008 dan International Workshop Agreement (IWA), yaitu IWA-2:2007. Kedua penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh perwakilan SGS (Systems and Services Certification).
Menurut Djoko, sertifikat tersebut sangat penting bagi STPT agar menjadi lebih sempurna. Menurut Commercial Manager SGS, Waras Putri Andrianti, STPT layak meraih sertifikat tersebut karena telah memenuhi persyaratan ISO dan IWA. Selain itu, komitmen dari top manajemen juga memastikan mutu pelayanan, mutu dari produk yang dihasilkan bagi mahasiswa dan orang tua, serta customer.
Djoko mengatakan, sertifikat ini merupakan bukti komitmen dari seluruh sivitas akademika STP Trisakti untuk secara konsisten menerapkan dan menjalankan sistem manajemen mutu yang telah disesuaikan dengan persyaratan ISO 9001:2008/IWA- 2:2007 sebagai pedoman kerja serta terus-menerus menyempurnakannya menuju sistem kerja yang lebih efektif dan efisien sehingga kepuasan pelanggan selalu dapat diperoleh dan ditingkatkan.
Djoko juga menegaskan bahwa STP Trisakti akan berusaha menjadi pemimpin dunia kepariwisataan di Indonesia dan siap bersaing di Asia maupun di Eropa dan berdaya saing tinggi. (Farida Denura)
Pariwisata Itu Pilihannya
Pariwisata identik dengan Djoko. Bidang pariwisata sebenarnya sudah menjadi pilihannya setamat SMA. Sejak itu pula, Djoko Subibyo terus berusaha mempelajari dan mendalaminya. Keinginan tersebut timbul setelah ia menyadari, bahwa kemajuan sebuah bangsa harus diawali dengan majunya industri yang dapat memberikan dampak positif kepada masyarakat sekitar. Salah satunya kemajuan perekonomian, sehingga meningkatkan taraf hidup warga.
Djoko pertama kali menempuh pendidikan kepariwisataan saat mendaftar di Akademi Pariwisata Trisakti. Saat itu, kampusnya masih di wilayah Grogol, Jakarta Barat. Djoko kemudian kembali meneruskan kuliah di Universitas Gunadarma Jakarta untuk meraih gelar sarjana.
Demi meningkatkan ketrampilan dalam menyumbangkan ilmu kepada generasi baru kepariwisataan di Indonesia, Djoko meneruskan pendidikan pasca sarjananya di IPWI. Di sini ia mendapatkan pemahaman tambahan untuk membantu mayarakat agar menjadi produktif dan maju untuk ikut menyumbangkan kreasinya.
Salah satu peningkatan SDM pariwisata, kata Djoko, dengan menambahkan fasilitas tambahan. Itu diperlukan untuk mengasah keterampilan para mahasiswa STP Trisakti melalui sebuah praktek lapangan yang tersedia. Di dalamnya terdapat beberapa macam restoran lengkap dengan dekorasi plus ruang dapur yang sesuai hotel berbintang.
Semua konsep tersebut disesuaikan dengan lapangan kerja yang nyata dan pernah menjadi bagian dari pengalamannya selama menggeluti bidang pariwisata. Dia beranggapan, dengan adanya praktek lapangan tersebut. setidaknya mahasiswa akan terbiasa mengerjakan sesuatu sesuai dengan bidang yang dipilihnya.
Gelar-gelar akademik telah diraih Djoko berkat kerja keras dan ketekunannya dalam belajar. Lengkap sudahlah pemahaman Djoko bagaimana mengelola kepariwisataan Indonesia.
Biodata:
Nama : Djoko Sudibyo, SE, MM, Ph.D
Tempat & PUBLISH_DATE Lahir : Malang, 31 Desember 1948
Jabatan : Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti
Alamat Kantor : Jl. IKPN Bintaro, Tanah Kusir, Jakarta Selatan
Pendidikan:
1987 : Diploma 3 Perhotelan, Akademi Pariwisata Trisakti, Jakarta
1996 : S1 Manajemen, Universitas Gunadarma, Jakarta
1998 : S2 Manajemen, IPWI, Jakarta
2006 : S3 Ph.D (Doctor of Philosophy), Universitas Utara Malaysia