Wawasan kebangsaan, leadership, dan entrepreneurship merupakan tiga kata kunci yang diusung Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), Koesnadi Kardi, M.Sc, RCDS. Tiga kata kunci tersebut juga menjadi program Koesnadi selama periode 2011-2015.
Sejak dilantik sebagai Rektor baru UPNV Jakarta pada 11 Februari 2011 lalu, Koesnadi praktis menyibukkan hari-harinya di kampus hijau ini. Pria yang memulai kariernya di dunia militer sebagai Penerbang Tempur TNI AU ini telah banyak memiliki pengalaman dalam bidang pertahanan negara, khususnya pada bidang air power. Pengalaman lainnya, sebagai dosen tamu di lembaga pendidikan militer di Pusdiklat Manajemen Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan secara rutin mengajar di Universitas Pertatahanan Kemhan, selain memberikan ceramah tentang strategi pertahanan, leadership strategic, dan air power di SESKO TNI, SESKOAD, SESKO AU, dan SESKO AL. Selain itu, Koesnadi juga menjadi dosen tamu dan penguji di program S-2 UI program Strategi Ketahanan Nasional, di program S-2 Managemen UNSURYA, dan program S-2 UPNV Jakarta jurusan Manajemen.
Pria ini terobsesi untuk lebih memajukan UPNV Jakarta. Program "Three in One" menjadi langkah awal dalam kepemimpinannya di kampus kejuangan ini dengan menumbuhkan kepedulian terhadap wawasan kebangsaan, menciptakan jiwa-jiwa entrepreneur, dan pemimpin-pemimpin masa depan.
Menurut kandidat Doktor yang tengah menyelesaikan program doktornya di FISIP UI program Sosiologi, fenomena saat ini menunjukkan telah lunturnya cinta terhadap tanah air. Masyarakat yang terlahir dari perbedaan baik suku, agama, ras, antar golongan, merupakan sebuah keberagaman yang mestinya dijadikan satu menjadi kebhinekaan. Akan tetapi, yang terjadi adalah timbulnya konflik horizontal yang merupakan cerminan konflik vertikal dimana saja dan kapan saja di Indonesia.
Bukan perkara gampang bagi kampus UPNV Jakarta untuk menyukseskan ketiga program tersebut. Dalam mewujudkan program tersebut, sebagai salah satu pakar manajemen pertahanan Kemhan ini melakukan beberapa terobosan. Baginya para dosen adalah orang pertama yang harus menyerap dulu ketiga program tersebut sebelum mahasiswa. Setiap Selasa, Koesnadi juga menggelar coffee morning dengan mengundang para pakar yang terkait dengan tiga program kerjanya untuk menyampaikan bidang-bidang tersebut, antara lain tentang wawasan kebangsaan, termasuk Pancasila dengan paradigma barunya, leadership, dan entrepreneurship. Selain itu, juga diundang pakar-pakar pertahanan dari Kemhan.
Bagi Koesnadi, apabila mahasiswa telah lulus, mereka diharapkan tidak harus bekerja di perusahaan atau sebagai anggota PNS, akan tetapi mereka harus bisa meng-create pekerjaan karena memiliki jiwa kewirausahaan. Dengan demikian mereka lebih confident dan bisa menciptakan pekerjaan baru. Demikiannyalah kiatnya tentang bagaimana mendidik para mahasiswa sehingga memiliki kemampuan dalam bidang enterpreneurship.
Program ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah masalah kepemimpinan. Koesnadi mempertanyakan sulitnya bangsa Indonesia maju sehingga sejajar dengan negara-negara maju di dunia. Apabila bangsa Indonesia sulit bersatu dan menghargai perbedaan, tak lain karena terjadinya krisis kepemimpinan. Ke depan menurut mantan Instruktur Penerbang Tempur Angkatan Udara ini, mahasiswa dapat dilatih untuk menjadi pemimpin masa depan. Mahasiswa akan dilatih bagaimana menjadi pemimpin yang bagus, mampu sebagai pembicara dan juga sebagai pendengar yang baik, dan mempunyai analisa-analisa jitu dalam mempersatukan bangsa ini.
Bela Negara dan Dokter Militer
Kerjasama-kerjasama dengan berbagai institusi pun digalakkan. Fakultas Kedokteran yang merupakan fakultas unggulan di kampus ini pun berencana berkunjung ke salah satu universitas kedokteran di Amerika Serikat guna melakukan studi banding dan kerjasama. Kerjasama yang telah dilakukan adalah dengan RSPAD Jakarta, TNI AL, dan dalam waktu dekat direncanakan dengan TNI AU. Kekhasan yang akan dikembangkan di fakultas ini adalah mencetak dokter-dokter militer sekaligus dokter umum. Dengan memiliki kemampuan plus ini akan mampu menangani kesehatan pasukan komando, crew kapal selam, dan para penerbang TNI AU.
Ke depan, kata Koesnadi melalui Fakultas FISIP akan membuka program Bela Negara. Program tersebut menurut penulis buku “Quantum Leadership” ini penting karena saat ini orang sudah mulai alergi dalam membela negara. Terkait hal tersebut, UPNV Jakarta akan menjaring 33 lulusan SMA yang memiliki IQ superior dan jenius, untuk kuliah di UPNV Jakarta sehingga memiliki wawasan kebangsaan, jiwa leadership, dan kemampuan enterpreneurship. Karena mahasiswanya berasal dari seluruh provinsi di Indonesia, maka mereka akan menghargai perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan, memiliki jiwa cinta tanah air, dan secara mental mereka akan disiapkan menjadi pemimpin masa depan di daerahnya masing-masing. Ke-33 mahasiswa tersebut akan mendapat beasiswa penuh dimana yang menjadi bapak angkat mereka adalah para Gubernur di masing-masing provinsi tersebut.
Guna mewujudkan rencana tersebut, UPNV Jakarta akan melakukan safari ke-33 provinsi guna menjalin kerjasama tersebut. Rencananya program “Three in One” tersebut akan direalisasikan pada tahun 2012. Koesnadi berharap akan mendapat kontribusi penuh dari para Gubernur. Ke-33 mahasiswa yang terjaring nantinya akan tinggal di asrama dan dilatih supaya tetap sehat serta menjadi pemimpin masa depan yang handal, pandai berbicara dan juga pandai mendengar, serta memiliki karakter yang kuat.
Baginya, program baru ini merupakan tantangan dalam melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang memiliki tiga quick yaitu : quick to see, quick to analyze, and quick to act. Ketiganya bertalian dengan pemimpin yang memiliki karakter kuat. Melalui program Three in One ini maka FISIP sebagai fakultas di UPNV Jakarta akan memiliki keunggulan tesendiri.
“Di UPNV Jakarta ini kita harus meningkatkan kekhasan pada fakultas-fakultas yang ada. Seperti Fakultas Kedokteran dengan kekhasan mencetak Dokter Militer, Fakultas Ekonomi, mencetak lulusan yang memiliki jiwa entrepreneurship, serta FISIP dengan Bela Negara dan Kepemimpinan sebagai kekhasan tersendiri,” ungkap pria yang pernah mengenyam pendidikan di Amerika Serikat dengan gelar Master of Science (M.Sc) dalam bidang Manajemen, dan di London, Inggris dengan gelar Royal College of Defense Studies (RCDS) dalam bidang International Studies.
Selain kekhasan UPNV Jakarta yang menjadi fokusnya, perhatian Koesnadi pun tercurah pada para dosen. Para dosen diberi kesempatan untuk mengikuti kursus bahasa Inggris bagi tidak bisa. Sementara yang sudah mampu berbahasa Inggris akan dikirim studi ke luar negeri untuk mengambil program S-2 dan S-3. Dengan demikian akan menjadi pendorong bagi para dosen dalam meningkatkan kualitasnya. Bagi para mahasiswa lulusan S-1 yang berpredikat cum laude, juga diberi kesempatan dan didukung untuk melanjutkan program S-2 ke luar negeri.
Kampus UPNV Jakarta yang saat ini mengelola 7 Fakultas dan 14 program studi pasca sarjana juga menyelenggarakan beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi maupun yang memerlukan bantuan karena kesulitan ekonomi dalam menyelesaikan tugas belajar. UPNV Jakarta menyelenggarakan dananya secara program mandiri melalui kerjasama dengan pihak luar, antara lain dengan Depdiknas/Kopertis Wilayah III, Yayasan Supersemar, Yayasan Kencana Lestari (Departemen Pertahanan), TIFICO, BBM, PPA, TPSDP. Hingga saat ini tercatat kurang lebih 8000 mahasiswa kuliah di kampus tersebut.
Pusat kajian untuk kepentingan Keamanan Nasional pun telah didirikan di kampus yang berada di bawah naungan Kementerian Pertahanan ini, yaitu CNSS (Centre foe National Security Studies) yang rencananya akan bekerjasama dengan APCSS (Asia Pacific Centre for Security Studies) yang berkedudukan di Hawaii, AS. Melalui CNSS ini pakar-pakar keamanann nasional dan pertahanan negara dari dalam negeri maupun dari luar negeri diundang untuk bergabung di CNSS dan bersama-sama melakukan kajian-kajian yang berkaitan dengan masalah keamanan nasional, pertahanan negara, dan wawasan kebangsaan. Selain itu ada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Badan Penjaminan Mutu (BPM), Lembaga Kajian Ekonomi dan Manajemen (LKEM-FE), Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH-FH), Perpustakaan Pusat Universitas dan Pusbabimkar Bahasa Inggris.
Meski masa kepemimpinannya masih dalam hitungan bulan, Koesnadi bertekad, setelah 3 bulan akan menyusun roadmap guna mewujudkan ketiga program yang dicanangkan tersebut. Bagi Koesnadi, jauh lebih penting dari semuanya adalah bukan lagi tujuannya akan tetapi strateginya. Karena menurutnya, tanpa strategi bagaimana mungkin dapat mencapai tujuan.
Lalu apa tujuan yang akan dilakukan sang Rektor? Tak lain adalah meningkatkan UPNV Jakarta menjadi universitas yang prestisius di Indonesia dan berkelas internasional.”Butuh waktu hingga 2015 bagi saya untuk meletakkan dasar yang kuat sehingga kampus ini menjadi pilihan untuk kuliah dan melahirkan para pemimpin masa depan bagi daerahnya masing-masing,”pungkas penerima 10 tanda jasa termasuk 1 Bintang Swabuana Paksa Naraya dan 2 Bintang Yudha Dharma Nararya.
Prajurit, Birokrat, hingga Pendidik yang Cemerlang
Perjalanan karier Koesnadi Kardi sangat jelas. Koesnadi, mengawali karier sebagai militer, kemudian birokrat, dan kini sebagai pendidik. Semuanya menurut pria kelahiran Pringsewu, Lampung, 10 Juni 1951 ini merupakan sebuah amanah yang harus diemban dan dijalankan sebaik-baiknya.
Ketika berkarir di dunia militer, pria ini telah banyak memiliki pengalaman dalam bidang pertahanan negara khususnya pada bidang air power. Setelah menyelesaikan sekolah militernya di AKABRI Udara pada 1973, pria ini pernah mengenyam pendidikannya di Amerika dan mendapat gelar terakhirnya Master of Science, dan di Inggris dengan gelar Royal College of Defense Studies (RCDS). RCDS adalah pendidikan bidang International Studies yang mempersiapkan pejabat-pejabat pemerintah atau pejabat senior militer di Inggris dan negara lain untuk menjabat di organisasi-organisasi terhormat di negara mereka.
Selama berkarier di Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Koesnadi biasa ia disapa sempat menjabat sebagai Kepala Bagian Pendidikan dan Pelatihan dan mendirikan Kursus Pimpinan Menejemen Pertahanan (Suspimjemen) di Pusjemen Kemhan dengan bantuan dana dari UNDP. Dia juga pernah menjabat sebagai Wakil Komandan Sesko TNI dengan pangkat Marsekal Muda TNI dan saat ini juga sebagai anggota Pakar Manajemen Pertahanan Kemhan. Pengalaman dalam bidang militernya banyak dia sampaikan selain kepada anak didiknya juga dalam berbagai kesempatan seperti seminar dan pelatihan.
Pria yang hobi menulis ini juga telah menelurkan sebuah buku berJUDUL “Quantum Leadership” bersama Managing Partner The Jakarta Consulting Group, A.B Susanto pada 2003 lalu. Kesamaan dan perbedaan yang ada pada Koesnadi dan AB Susanto, telah membuat Quantum Leadership menjadi satu-satunya buku yang menyodorkan konsep kepemimpinan bisnis dan militer yang diharapkan dapat menjadi jembatan yang efektif bagi para pemimpin bisnis dan militer. Setelah itu dia mendapat tantangan dari para siswa Sesko Angkatan dan Sesko TNI yang menjadi muridnya, apakah bisa membuktikan tulisannya tidak hanya sekedar teori. Akhirnya dia buktikan dengan membangun sebuah usaha setelah masa pensiun. Usaha rumah makan yang sukses di tanah seluas 8500 meter dengan nama “Saung Sari Parahyangan” di Jln. Krangan Raya tidak jauh dari Mabes TNI yang digelutinya bersama isterinya, sehingga menjadi langganan tetapnya para anggota dari Mabes TNI, Mabesal, dan Mabesau telah menjadi pembuktian dari teori di bukunya.
Sejak dia mengajar di Program Pasca Sarjana UPNV Jakarta yang ada di kampus Pondok Labu dan Gambir, pria bekacamata ini terobsesi untuk lebih memajukan UPNV Jakarta. Jalur “Three in One” akan menjadi langkah awal dalam kepemimpinannya di kampus kejuangan ini. Menumbuhkan kepedulian terhadap wawasan kebangsaan, menciptakan jiwa-jiwa entrepreneur dan pemimpin-pemimpin masa depan menjadi rencana yang dijalankan Koesnadi dalam waktu dekat ini.
Pria ini giat mensosialisasikan ke mahasiswa. Dengan mengumpulkan para mahasiswa, penulis buku berJUDUL Jati di TNI, Air Power Indonesia, dan Joint Maritime Surveillance System - Indonesia and Australia ini akan mensosialisasikan soal kedisiplinan agar mindset mahasiswa terbentuk dan kultur disiplin menjadi ciri khas mahasiswa di kampus tersebut.
Pria ini sebagai editor pada terjemahan buku Making Strategy dan How to be a Better Speaker selain itu sebagai penulis di berbagai media dan surat khabar, antara lain di Kompas, Sinar Harapan, Majalah Gatra, Majalah Angkasa, dan Majalah Dephan KSATRIA yang juga senang membaca buku-buku karya Deal Carnegie dan The Power of Positive Thingking.
Ibarat orang mau akrobatik, sebelum berhasil, pikirannya dulu harus berhasil, “we can if we think we can”, paparnya. Karenanya pria ini pun bercita-cita ingin mendirikan sekolah unggulan yang bisa mendidik anak-anak yang siap menjadi pemimpin masa depan dan pemimpin bangsa.
RIWAYAT HIDUP
Nama : Koesnadi Kardi
Lahir di : Pringsewu, Lampung, 10 Juni 1951
Pangkat terakhir : Marsekal Muda TNI (Purn)
Agama : Islam
Pendidikan Umum
: SD, SMP, dan SMA
: S2 Management Science, Naval Posgraduate School, USA tahun 1990.
: S2 International Studies, RCDS London, UK,1998
: Doktor (Candidate) “FISIP – UI” program “Sosiologi”
Militer : AKABARI Udara,tahun 1973
: Sekolah Penerbang,tahun 1975
: Suspa Potrud,tahun 1976
: Sekolah Instruktur Penerbang,tahun 1981
: SEKKAU, tahun 1982
: Flight Safety Officer Course, USA, tahun 1985
: SESKOAL. tahun 1991
: Air Power Fellowship,Australia,tahun 1995
: SESKO ABRI,tahun 1997
: Def. Restructuring Mngt, USA,tahun 2003
: Executive Course, APCSS, Hawai,USA,tahun 2005
Tanda Jasa: 10 tanda jasa, termasuk
(1) Bintang Swabuana Paksa Naraya
(2) Bintang Yudha Dharma Nararya