“Universitas Sahid ingin menonjol di entrepreneurship dan tourism (wirausaha dan pariwisata), kami berusaha mewujudkan itu secara perlahan,” kata perempuan yang disapa Tatie ini.
Jiwa wirausaha dalam diri seseorang ternyata tak hanya lahir dari talenta yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta kepadanya. Sesungguhnya spirit untuk menciptakan lapangan pekerjaan itu bisa dibentuk oleh lingkungan, termasuk di dalamnya adalah dari dunia pendidikan.
Pendidikan yang dilandaskan pada kewirausahaan memang mutlak diperlukan dalam sebuah negara. Ini demi terciptanya daya saing yang kuat khususnya di era perdagangan bebas saat ini dan ke depan. Itulah yang juga diyakini oleh Sutyastie Soemitro Remi. Bahkan, sebagai orang pertama di Universitas Sahid (Usahid) dirinya percaya bahwa kewirausahaan utamanya dibentuk melalui pendidikan.
Rektor Usahid itu telah membuktikannya melalui kurikulum yang diterapkan di universitas yang telah dipimpinnya sejak 2009 tersebut. Ia mengatakan ada dua pendapat soal jiwa entrepreneurship atau kewirausahaan. Pertama, jiwa kewirausahaan bisa dibentuk melalui pendidikan, dan kedua kewirausahaan merupakan bakat alam.
Diakuinya, tidak semua mahasiswa sudah berhasil menunjukkan kewirausahaannya, tapi mulai banyak bermunculan wirausaha muda yang berbisnis di seputar kampus. Tahun lalu, universitas yang telah berusia 23 tahun ini bahkan mengirim tiga mahasiswanya ke salah satu universitas di Jerman untuk mengikuti summer school selama dua pekan.
“Universitas Sahid ingin menonjol di entrepreneurship dan tourism (wirausaha dan pariwisata), kami berusaha mewujudkan itu secara perlahan,” kata perempuan yang disapa Tatie ini. Itu bukan saja karena universitas ini didirikan oleh pengusaha kelas kakap Sukamdani Sahid Gitosardjono, tetapi juga demi mendukung program pemerintah untuk menumbuhkan 500.000 wirausaha baru pada 2015.
Dengan demikian, sarjana pengangguran yang cukup membuat pusing banyak orang bisa dikurangi, atau bahkan dihilangkan. Menumbuhkan wirausahan ini menjadi penting bagi Indonesia untuk membuat rakyatnya sejahtera. Profesor Psikologi Universitas Harvad, David McClelland, berpendapat bahwa sebuah negara makmur bila 2 persen dari penduduknya adalah wirausaha. Indonesia masih jauh dari angka itu. Idealnya, jika penduduk Indonesia berjumlah 237 juta jiwa, wirausahanya setidaknya berjumlah 4,5 juta orang. Tapi, angka itu masih jauh dari harapan. Indonesia baru bisa menciptakan sekitar 0,2 persen atau sekitar 450.000 dari jumlah penduduknya.
Ini tentu jauh dari Singapura yang sudah mampu menciptakan 7 persen wirausahan, atau Amerika Serikat yang sudah mencapai 11 persen. Tahun lalu, Usahid mendirikan pusat studi kewirausahaan yang memiliki kegiatan pendidikan, pelatihan, dan pengabdian pada masyarakat. Dalam kurikulum pengajaran, universitas ini juga menyisipkan mata kuliah kewirausahaan di setiap fakultasnya, bahkan di Fakultas Hukum yang notabene jauh dari kegiatan ekonomi.
Tujuannya bukan hanya mahasiswa mampu membentuk usaha, tapi juga mahasiswa nantinya memiliki softskill kewirausahaan yang di antaranya tahan banting dan berani mengambil risiko. Tentu, di awal masuk ke universitas itu mahasiswa tidak terpikir untuk menjadi wirausaha. Tapi perempuan kelahiran Yogyakarta, 11 Mei 1953 ini yakin bahwa dengan modul kuliah yang diberikan, inkubator bisnis yang disediakan, mereka akan bisa terdorong berwirausaha.
Dalam waktu enam bulan setelah lulus, ia bisa bekerja atau mendirikan usaha sendiri sehingga tidak perlu menambah angka pengangguran yang membuat pusing pemerintah.
Alami Kesulitan
Mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran ini mengakui, ia juga mengalami kesulitan ketika menciptakan wirausaha dari kampus.
“Cukup banyak kesulitannya, selain paradigma bahwa kewirausahaan bisa dilatih atau tidak, dari 100 mahasiswa, dapat 10 persen saja sudah bagus,” katanya.
Di samping itu, Usahid yang saat ini memiliki lima fakultas (Fakultas Ekonomi/FE, Fakultas Ilmu Komunikasi, Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, dan Fakultas Teknologi Industri Pertanian) ini tetap tak mau ketinggalan menciptakan para pekerja di bidang pariwisata yang andal dari jurusan pariwisata yang jadi bagian dari FE. Itu tidak terlepas dari tujuan pertama kali universitas ini didirikan ketika masih bernama sekolah tinggi pariwisata. (Mila Novita)
Bolak-balik Jakarta-Bandung

Sutyastie Soemitro Remi sebelumnya dikenal sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (Unpad) periode 2004-2008.
Sebelumnya, ia menjabat sebagai Ketua Program Magister Ekonomi Terapan (MET) dan banyak lagi jabatan di fakultas yang sama. Tahun 2009 lalu, ia ikut seleksi menjadi rektor di Unviversitas Sahid.Itu awal mula ia menjadi bagian dari salah satu universitas swasta di kawasan selatan Jakarta ini.
“Tidak ada bedanya antara negeri dan swasta, sama-sama masih di dunia pendidikan,” kata Tatie tersenyum.
Kesibukannya di dua universitas ini membuat Tatie sibuk bolak-balik Jakarta- Bandung. Senin sampai Kamis, ia tinggal di Jakarta untuk menjalankan tugasnya sebagai rektor di Usahid, sementara akhir pekan ia habiskan di Bandung untuk mengajar di Unpad.
“Jadi setiap pekan, Senin sampai Kamis di sini, Jumat dan Sabtu untuk Unpad,” kata dia.
Di Unpad, doktor program Pascasarjana Unpad, spesialisasi bidang ekonomi ini mengajar Program Doktor
Manajemen Bisnis. Di luar itu, ia juga mengajar di beberapa universitas lain di antaranya program Doktor Perencanaan Wilayah Universitas Sumatera Utara (USU), Program Magister Keuangan Daerah Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta, Program Magister Manajemen Universitas Tanjung Pura Pontianak, dan Pascasarjana Bidang Ilmu Kebijakan, Lembaga Administrasi Negara (LAN).(Mila Novita)
BIOADATA
Nama : Prof Dr Hj Sutyastie Soemitro Remi, SE, MS
Tempat/Tgl Lahir : Yogyakarta, 11 Mei 1953
Pangkat/golongan : Pembina utama madya/Guru Besar/IV d
Jabatan : Rektor Universitas Sahid Jakarta
Alamat rumah : Jl. Kawista No 26 Kompleks Rancakendal,Bandung.
Pendidikan:
Sarjana Muda Ekonomi, Universitas Padjajaran, 1976
Sarjana Ekonomi (SE), Universitas Padjajaran, spesialisasi dalam Ekonomi Makro, 1978
Magister Sains (MS), Fakultas Pasca Sarjana Universitas
Padjajaran, spesialisasi dalam Ekonomi Pertanian, 1996
Doktor Program Pasca Sarjana Universitas Padjajaran,
spesialisasi dalam Ilmu Ekonomi, 1996
Guru Besar Universitas Padjajaran dalam Bidang Ekonomi Sumberdaya Manusia, Agustus 2001.