Tahun ini tepatnya 3 Maret 2013, lembaga pendidikan tinggi Bina Sarana Informatika yang lebih dikenal dengan BSI, genap berusia 25 tahun. Di usianya itu, BSI telah banyak mencetak sumber daya manusia berkualitas dan siap pakai.
BSI merupakan salah satu perguruan tinggi yang berpihak kepada masyarakat golongan menengah ke bawah. Ribuan lulusannya telah bekerja di berbagai instansi baik instansi swasta maupun negeri termasuk perusahaan multinasional.
Tentu BSI punya rahasia sehingga mengantar lulusannya memasuki gerbang baru, dunia kerja dengan sukses. Kepada SH, Kamis (16/6) sore lalu di ruang kerjanya di kampus BSI Dewi Sartika, Cawang, Direktur BSI, Ir Naba Aji Notoseputro membuka rahasia sukses memimpin BSI.
Pengangguran kata Naba Aji, masih menjadi masalah bagi bangsa Indonesia. Dan, masalah ini sangat terkait dengan pendidikan. Tak heran, dalam berbagai institusi pendidikan, pengangguran menjadi fokus untuk diuraikan, dipecahkan. Perguruan tinggi lanjut dia, tidak hanya sekadar penyelenggara pendidikan, namun juga dituntut mampu memberikan peluang di dunia kerja yang seluas-luasnya untuk mempersiapkan mahasiswa dan alumni dalam menghadapi persaingan dunia kerja.
Sebagai institusi yang bertanggung jawab pada peserta didik dan alumninya, BSI jelas Naba pada tahun 2004 lalu telah membentuk wadah yaitu BSI Career Center (BCC) yang berfungsi membantu alumni BSI agar cepat tertampung serta terserap di dunia kerja. Selain itu, BCC mempunyai fungsi, antara lain mempersiapkan mahasiswa dan alumni dalam menghadapi persaingan dunia kerja.
BSI pun kian gencar melakukan sinergi dengan dunia industri dan dunia usaha. Bahkan pada 1 Juni 2013 lalu BSI telah mencetak Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas keberhasilan dalam penandatanganan kerja sama (MoU) dengan 457 perusahaan.
Naba Aji menuturkan, saat ini jumlah mahasiswa-mahasiswi se-Indonesia sebanyak 60 ribu orang dan mengantar BSI mencetak rekor MURI 2012 lalu sebagai kampus terbanyak jumlah mahasiswanya di Indonesia.
“Dengan jumlah dan lulusan yang banyak, kami takut kalau mereka setelah lulus menjadi pengangguran. Dan, pada akhirnya orang akan berkata, mungkin kuliah di BSI terjangkau, fasilitas memadai, tetapi begitu lulus, nganggur. Itu yang paling banyak ditakuti oleh perguruan tinggi. Nah, itu yang kami tidak mau seperti itu. Seperti wisuda kemarin ketika saya tanya siapa yang sudah bekerja, banyak yang angkat tangan,”tegas Aji Naba.
Melalui BCC, para mahasiswa kata dia, ditempa untuk menjadi pekerja yang profesional di bidangnya, memiliki keahlian dan kompetensi yang tinggi sesuai kebutuhan di dunia industri. “Kami terus menerus mengupayakan, agar mahasiswa yang kuliah di BSI, setelah lulus tidak menganggur. Caranya, kita membuat link dengan dunia kerja, karena kami tidak ingin menciptakan pengangguran-pengganguran terdidik baru, kami punya tanggung jawab tidak hanya sekadar meluluskan. Namun, memberi peluang bagi para alumni BSI agar terserap di dunia kerja,”kata Naba Aji.
Dengan adanya wadah ini kata dia, ada sejumlah hal yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa maupun alumni. Misalnya saja mahasiswa dan alumni difasilitasi dan dimediatori untuk terjun ke dunia kerja melalui kerjasama untuk program magang, kunjungan ilmiah, penyaluran SDM mahasiswa atau alumni, dan program pelatihan karier dan entrepreneurship. Beberapa lembaga SDM dan praktisi perusahaan di bidang SDM juga memberikan pelatihan langsung kepada mahasiswa.
Naba Aji menambahkan mahasiswa dipersiapkan untuk terjun ke dunia kerja sejak mulai kuliah, dan ditargetkan minimal setelah lulus kuliah akan langsung mendapatkan pekerjaan. Selain itu, mahasiswa juga dipersiapkan sedini mungkin untuk mengikuti seminar karier, talkshow karier, workshop karier untuk pelatihan dan seleksi kerja, job fair, dan lain-lain.
Bursa kerja ini kata dia, biasanya diadakan setiap dua bulan sekali atau tidak lama setelah wisuda mahasiswa dilaksanakan. Di Jakarta, diadakan setahun dua kali, selebihnya di kota-kota lain seperti Karawang, Sukabumi, Tasikmalaya, Yogyakarta, Purwokerto, dan Pontianak.
Melalui bursa kerja ini perusahaan-perusahaan siap menampung lulusan BSI untuk segala macam posisi. BCC pun kata dia menjadi mediasi dan memfasilitasi antara perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja dengan lulusan BSI yang mencari pekerjaan. Bahkan bila diperlukan, BCC terlibat langsung dalam proses seleksi lamaran pekerjaan.
Beraneka ragam peluang pekerjaan yang ditawarkan mulai dari Staff IT, Programmer, Data Entry, Teknisi Komputer, Pramugari, Staff Administrasi, Jurnalis, Sekretaris, Supervisor, Accounting, Marketing, dan masih banyak lagi pekerjaan yang ditawarkan selama acara tersebut.
BSI pun menurut dia turut berperan aktif dalam memenuhi kebutuhan SDM berbagai perusahaan untuk direkomendasikan ke berbagai perusahaan yang memberikan peluang kerja kepada BSI. “Setiap hari tidak kurang dari lima perusahaan meminta SDM mahasiswa atau alumni BSI. Ditargetkan mahasiswa maupun alumni segera mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya, mahasiswa dapat mempersiapkan karirnya sejak dini,”terang Naba Aji.
Terkemuka dan Terkenal
Pria asal Yogyakarta yang juga salah satu pendiri BSI ini mengungkapkan visi misi yang diusung di dalam memimpin BSI, yakni menjadi perguruan tinggi terkemuka dan terkenal berbasis ICT. Tentu alumnus S1 IPB punya alasan.
“Kenapa terkemuka dan terkenal? Orang tetap mau kuliah, itu ada labelnya apa, kamu lulusan mana? Lulusan UI, lulusan BSI. Tapi kalau disebut lulusan PTS E, orang tidak kenal. Jadi ada unsur brand. Kekuatan brand BSI itu makanya kita menjadi terkemuka dan terkenal dan ditunjang ICT menjadi efisien sehingga banyak hal ditekan. Jadi, murah tapi tidak murahan dan mutu bisa diadu. Sekaligus juga menepis bahwa yang murah itu belum tentu tidak bermutu,”papar penyuka travelling ini.
Aji Naba juga menambahkan unsur lain yang menyebabkan BSI terkenal tak lain adalah positioning-nya yang tepat. BSI membidik mahasiswa dari kalangan menengah. Kata dia kelas yang paling banyak di Indonesia adalah kelas menengah.

Ditambahkan dia, pendirian BSI memiliki dua tujuan yaitu pertama supaya lembaga tersebut tetap eksis dan kedua adalah kepedulian terhadap orang-orang yang terbatas kemampuan finansialnya supaya bisa kuliah.
Selain itu menurut pengamatan dia, seseorang itu untuk pindah strata sosial cuma satu jalannya yaitu pendidikan. Karenanya, BSI menerima banyak mahasiswa dengan biaya terjangkau supaya lebih banyak orang yang kuliah, dan lebih banyak orang yang naik status sosial. Hal itu pula kata dia, yang melandasi positioning BSI.
BSI juga tak mau mencetak lulusan yang jago kandang. Menyambut Asean Community 2015 BSI pun tutur Aji Naba telah mempersiapkan beberapa hal. Pertama, terlibat aktif di forum-forum Asean Community tersebut, seperti belum lama ini menghadiri konferensi hospitality dan pariwisata di Malaysia. Tidak hanyak pariwisatam sebelumnya BSI juga mengikuti konferensi di bidang ICT.
“Dengan aktif di forum tersebut kita tahu standarisasi apa yang diberlakukan dan kita segera merubah kurikulum kita supaya sesuai dengan standar Asean. Kalau saat ini, mungkin standar lokal. Dengan cara itu harapannya mahasiswa BSI tidak kalah dalam komunitas itu,”ungkap Aji Naba.
Cita-cita BSI menurut dia, sangat mulia yakni ingin semua orang Indonesia menjadi pintar. Sehingga BSI ingin mendirikan kampus-kampus lain misalnya di Sumatera, Nusa Tenggara hingga ke Papua. Melalui sistem e-learning dan juga pendidikan jarak jauh BSI ingin mewujudkan cita-cita tersebut sehingga siswa di Papua misalnya bisa belajar di BSI melalui sistem tersebut.
“Saat ini kita uji coba e-learning dengan beberapa mata kuliah. Kita uji coba kepada mahasiswa BSI yang ada sekarang. Harapannya, kalau berhasil diterapkan, kita buka. Pendidikan jarak jauh memang sangat cocok sekarang di Indonesia,”ujarnya.
Cita-cita lainnya adalah hendak membangun sebuah kampus terpadu yang ditandai dengan diluncurkannya pendirian gedung kembar BSI pada 3 Maret 2013 lalu bertepatan dengan usia BSI ke-25 tahun.
”Itu adalah mimpi kita untuk sebuah kampus terpadu. Sekarang khan kita tahu bahwa mahasiswa itu pinginnya life style, makanya kita buat kampus terpadu dimana di dalamnya terdapat mal, RS, perkantoran, dan perhotelan. Semuanya juga menunjang kegiatan belajar mahasiswa,”papar alumnus S2 Unpad, Bandung itu.
Rencananya gedung kembar yang berlokasi di Jakarta namun dirahasiakan tempatnya itu berdiri di atas lahan seluas 2 hektar dan berlantai 30 serta memiliki 2 tower. Konsep gedungnya sendiri adalah green campus dan baling-baling yang dibangun untuk menghasilkan mengasilkan energi angin bagi gedung tersebut.
BSI rupanya berbenah juga di bidang SDM. Semua dosennya kini sudah ada yang bergelar S2 dan yang belum, semuanya disekolahkan S2 guna menenuhi aturan pemerintah dan tuntutan kualitas. BSI sendiri memiliki dua kelompok dosen yaitu dosen akademisi dan dosen praktisi.
BSI juga memiliki beberapa lembaga pendidikan. Selain beberapa akademi (AMIK, ASM, AKOM, AKPAR, AMK) juga memiliki Universitas BSI yang didirikan tahun 2009, di Bandung, dan STMIK-STBA Nusa Mandiri.
Beberapa kegiatan mahasiswa adalah donor darah. Karate, panjat tebing, paduan suara, futsal yang telah mengantar mahasiswanya meraih segudang prestasi. Beragam penghargaan pun telah diraih BSI, seperti Top Brand Award 2013 untuk kategori Vocational Academy, Tesca Award 2012 karena BSI mengimplementasikan ICT dalam aktivitas akademisnya, Rekor MURI Cerdas Cermat tahun 2006, Rekor MURI Training Internet, sebagai penyelenggara training internet terlama 32 jam nonstop pada tahun 2008, dan masih banyak rekor MURI lainnya. Tunggu apalagi, mau kuliah, ke BSI aja! (Farida Denura)
Travelling dan Gerakan Peduli Indonesia
Gedung kembar BSI yang segera dibangun merupakan buah tangan dari jalan-jalan Direktur BSI, Ir Naba Aji Notoseputro. Pria penyuka travelling telah menjejakkan kakinya di hampir sebagian belahan dunia kecuali negara Afrika dan Amerika Latin.
“Travelling itu sebenarnya untuk experience dimana saya dapat kembangkan ide-ide kreatif. Misalnya konsep gedung kembar yang merupakan konsep kampus terpadu. Itu sudah terjadi di Amerika 10 tahun yang lalu. Saya lihat, dan konsep itu saya ke BSI. Demikian halnya dengan konsep green campus, pengelolaan kampus, kurikulum dan kerjasama sama,”papar Naba Aji.
Travelling Naba Aji tidak hanya meluluh berkunjung dan melihat negara tersebut akan tetapi dimanfaatkan juga untuk berkunjung ke kampus-kampus yang ada di negara tersebut misalnya ke Universitas di Amerika, China dan lain-lain.
Selain travelling, pria yang mengaku dengan mengelola pendidikan maka bisa mendidik dan menginspirasi banyak orang ini juga rupanya suka naik sepeda. Dengan bersepeda pria ini melakukan olahraga bersepeda yang membuat dirinya tetap fit dan bugar di tengah aktivitasnya.
Pria yang juga konsultan pendidikan punya gagasan menarik dan ingin mendirikan Gerakan Peduli Indonesia. "Indonesia itu khan terpuruk karena tidak memiliki anak-anak yang punya mindset besar. Melalui gerakan ini Naba Aji terpanggil untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia,”ujar pria yang kini juga menggelorakan semangat entrepreneurship di BSI melaui BSI Entrepreneur.
Dia berandai-andai, misalkan 50 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Indonesia menjaring 50 siswa yang pintar namun tidak mampu secara ekonomi untuk diterima sebagai mahasiswa di 50 PTS tersebut maka di setiap angkatan akan menghasilkan 2500 mahasiswa pintar di Indonesia.
Ke-2500 mahasiswa itu kata dia, ibarat lilin yang akan membakar semuanya sehingga lambat laun akan menghasilkan banyak mahasiswa yang pintar-pintar. Semoga terwujud ya Pak Naba Aji.
Sumber: Harian Sinar Harapan, edisi Selasa, 25 Juni 2013