Selasa, 27 Januari 2026

Ketua STPI, Ir Yudhi Sari Sitompul


  • Penulis Farida Denura
  • Selasa, 12 Mei 2015 | 00:00
  • | Sosok
 Ketua STPI, Ir Yudhi Sari Sitompul Ketua STPI, Ir Yudhi Sari Sitompul (Foto-Foto:SH/Farida Denura)
Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug yang berlokasi di Jl. Raya PLP Curug, Legok, Tangerang, Banten pernah mengalami kejayaan bahkan disegani di Asia karena kemampuannya mencetak pilot yang handal. Semua maskapai penerbangan yang ada, menggunakan lulusan STPI. Bukan hanya pilot melainkan juga tenaga teknik penerbangan, petugas keselamatan, dan manajemen penerbangan.
    
Maklum di sekolah itu terdapat 4 jurusan, yaitu Jurusan Penerbang, Jurusan Teknik Penerbangan, Jurusan Keselamatan Penerbangan dan Jurusan Manajemen Penerbangan. Setiap jurusan pendidikan terbagi dalam beberapa program studi sesuai dengan minat dan bakat peserta pendidikan dan pelatihan. Saat ini terdapat 16 program studi (prodi).   
   
Ketua STPI, Ir Yudhi Sari Sitompul, dalam percakapan dengan SH, Selasa (21/4) lalu di ruang kerjanya mengakui masa jaya STPI tersebut. Meski belum lama memimpin STPI, Sari Sitompul ingin mengembalikan kembali kejayaan tersebut melalui berbagai inovasi yang dilakukan di STPI.
   
Tentu inovasi yang dimaksud Sari Sitompul guna mempersiapkan taruna-taruni untuk ready for MEA, paling tidak para mahasiswa dan dosen telah siap dengan bahasa Inggris. Meski menurut mantan Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan ini  Kurikulum dan silabus pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan oleh STPI Curug mengacu pada standar nasional (Departemen Pendidikan Nasional RI) dan internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO).
   
Saat ini Sari Sitompul bersama manajemen STPI tengah melakukan berbagai pembenahan baik kurikulum maupun sumber daya manusia dan diharapkan Juni 2015 STPI Curug sudah menjadi Badan Layanan Umum (disingkat BLU).
   
Dosen-dosen kata Sari Sitompul sudah disiapkan untuk mampu berbahasa Inggris. Dan saat ini tambah dia baru satu kelas yaitu kelas Teknik Pesawat Udara yang sudah berstandar international, IASA di bawah universitas di AST Inggris. Kelas itu, benar-benar merupakan kelas internasional dan baru setahun berjalan. Selain itu tentunya ke depan akan membuka kelas internasional untuk ATC. Dengan demikian STPI dapat mensuplai tenaga-tenaga ATC handal untuk bekerja di luar negeri.
   
“Sebenarnya, kalau sekolah-sekolah di dunia penerbangan seperti halnya pilot, general traffic controler, teknik pesawat udara itu sudah berstandar internasional. Jadi, tidak perlu khawatir dalam menyiapkan STPI selain untuk kebutuhan di dalam negeri sendiri maupun luar negeri. Saya sedang merancang agar kita bisa go international,”kata Sari Sitompul yang memiliki hobi baca dan jalan.
   
Rencana tersebut sesuai dengan keinginan Menteri Perhubungan RI, Ignatius Jonan dan juga  di masa mendatang subsidi pemerintah akan dikurangi karena adanya PP No. 11 mengenai Penerimaan Negara Bukan Pajak dimana Pemerintah mencari anggaran daripada hal lain bukan pajak.
   
Ini berarti STPI Curug sudah bisa mempromosikan dan mencari mahasiswa baru atau mengembangkan guna mendukung pendapatan tersebut. “Untuk persiapan BLU. Dalam waktu dekat kami baru mempersiapkan kurikulum dan orangnya. Pengajarnya dari STPI juga, jika dari luar kami akan mengundang bekas Direksi di industri penerbangan untuk berbagi pengalaman. Kalau semua sudah siap baru kami siapkan materi promosi baik di media cetak maupun online,”terang ibu 3 anak ini.
   
Dengan BLU, Sari Sitompul boleh jualan konsep inovasi maupun pengembangan STPI  Curug yang tahun ini genap berusia 61 tahun. Misalnya, dengan membuka short course aviation international seperti halnya dikembangkan di Singapore, Bangkok, dan China tentu dengan harga yang lebih murah dibandingkan ketiga negara tersebut.
   
Itu langkah pendek Sari Sitompul. “Kita ngga perlu khawatir untuk mempersiapkan mulai saat ini. Kami sedang godok pemasukan uang ke negara dan kami berharap bisa mendapatkan dari situ. Rencananya, short course tersebut juga akan berlangsung di Curug,”jelas alumnus Elektronika Universitas Trisakti Jakarta.
      
Selain short course international, melalui BLU, Sari Sitompul juga berencana mengembangkan bisnis lainnya di luar bisnis penerbangan misalnya dengan mendirikan klinik komersial atau RS komersial, memperbaiki kolam renang yang ada dengan menambah fasilitas untuk kemudian disewakan serta masih banyak unit bisnis lainnya yang menunjang pendapatan STPI seperti halnya bekerjasama dengan minimarket maupun retail lainnya untuk membuka di lingkungan STPI Curug.
   
Sari Sitompul jadi teringat akan sebuah bandara luar negeri yang bukan saja sebuah bandara melainkan menjadi sebuah pusat perbelanjaan yang diminati pengunjung. “Kita mau buat unit-unit bisnis non penerbangan yang bisa menghasilkan uang untuk negara,”ujar perempuan workaholic ini.

Siap Go International
Dengan BLU kata Sari Sitompul, maka seluruh karyawan baik dosen maupun staf akan mendapatkan insentive dan tentu gaji pun juga akan mengalami perubahan.    Selain menuju BLU, Sari Sitompul memang memiliki impian untuk mengantar STPI Curug menjadi go international.
   
Sari Sitompul mengamati saat ini banyak tenaga teknik pesawat udara yang bekerja di penerbangan asing merupakan lulusan STPI Curug. Sementara pesawat komersial Indonesia sendiri justru orang asing yang bekerja.”Kita harus me-reduce itu dengan menyiapkan tenaga-tenaga airline dari Indonesia,”tegasnya.
   
Saat ini kata dia STPI telah menjalin kerjasama dengan airline seperti Garuda maupun airline swasta lainnya mempersiapkan SDM sesuai kebutuhan mereka. Jadi link and match sesuai kebutuhan mereka. 
   
Beberapa maskapai nasional yang mempunyai simulator dan fasilitas pendidikan sendiri, seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Wings Air, Batik Air, Sriwijaya Air dan lainnya rata-rata mengambil pilot dari STPI.
   
Sampai tahun  2014, sudah ribuan alumni Sekolah Tinggi Ilmu Penerbangan (STPI) baik pilot atau ATC (Air Traffic Controller) . Mereka tersebar di berbagai perusahaan penerbangan asing dan lokal, bahkan menjadi pejabat di Kementerin Perhubungan (Kemenhub) RI.
   
Lulusan STPI banyak dan kini 100% terserap lapangan kerja terutama untuk penerbang. Selama ini, kebutuhan pilot di Indonesia antara 400-500 orang per tahun. Sedangkan kemampuan STPI hanya bisa mendidik antara 100-150 orang per tahun. Jika ditambah sekolah-sekolah penerbangan swasta, jumlahnya sekitar itu juga. Jadi, paling banyak 300 orang pilot yang bisa diluluskan setiap tahun. Jadi tidak aneh jika mereka langsung diserap maskapai penerbangan nasional.
   
Sedangkan  untuk tenaga ATC, Teknik Navigasi Udara, Tenaga Keselamatan Udara, STPI Curug kata Sari Sitompul telah menjalin kerjasama dengan Penyelenggara Pelayanan Penerbangan Navigasi Indonesia  dimana lulusan dari jurusan ini 100% langsung diserap BUMN.
   
Maklum Sari Sitompul ketika menjabat Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Udara, Kemenhub RI telah membuat MoU yang ditandatangani Dirut Angkasa Pursa I,II,III dan airline Indonesia dengan Kepala Badan. Sari Sitompul membuat satu konsep yang akhirnya sejak itu 100% lulusan STPI langsung terserap di BUMN-BUMN tersebut.
     
Harus diakui, mutu lulusan STPI tak kalah dibanding sekolah pilot negara lain. Maskapai asing buktinya banyak mencari lulusan STPI. “Hal ini merupakan indikasi lulusan kita baik dan diterima pasar,”kata perempuan yang kini berusia 57 tahun dan sangat disiplin dalam hidupnya.
   
Fasilitas praktikum, simulator serta bandara Sudiarto Curug serta instruktur profesional dan terlatih menjadi nilai tambah tersendiri bagi STPI. Semua tersedia di satu kawasan, yaitu Kompleks STPI Curug, Tangerang.
   
“Jika dibandingkan sekolah pilot lain di Indonesia, STPI masih yang terbaik dan terlengkap fasilitasnya. Kualitas lulusan juga lebih unggul, baik wawasan keilmuan mereka serta ketrampilan fisik sebagai penerbangan lebih baik. Inilah STPI dengan semua prestasidan kinerja yang telah diukirnya,” tegas Sari Sitompul.
   
STPI Curug menerapkan proses penerimaan siswa-sisiwa yang terbilang cukup sulit. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya rangkaian tahapan seleksi yang harus dilalaui oleh para calon peserta didik, seperti tes potensi akademik, seleksi kesamaptaan, psikotes, dan wawancara, tes kesehatan I dan II, dan tes bakat terbang. Dari rangkaian tahapan seleksi ini, jumlah peserta yang diterima oleh STPI adalah tak lebih dari 20 orang saja dari ribuan peserta.
   
Program perkuliahan makin disempurnakan sesuai dinamika serta kebutuhan di masyarakat. Fasilitas dan tenaga pengajar di STPI kian canggih sesuai standar kelas international. Kini, tercatat sekitar 1.400 taruna-taruni yang belajar di STPI yang berasal dari seluruh wilayah di Tanah Air. Mereka dididik oleh sekitar 118 dosen serta dibantu puluhan instruktur professional termasuk mereka dari TNI/ Polri.
   
Para taruna-taruni selama pendidikan hidup di asrama dan diawasi ketat para instruktur dan Pembina Taruna (Bintar). Hidup mereka terjadwal dan terencana dengan pasti sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Sejak awal, mereka dikondisikan hidup tertib, disiplin dan siap diterjun dalam kondisi paling buruk sekalipun.

Sumber: Harian sore Sinar Harapan edisi, Selasa 12 Mei 2015





Penulis : Farida Denura

Sosok Terbaru