Selasa, 27 Januari 2026

Darwati, Kisah Pembantu Bergelar Sarjana Cum Laude


  • Penulis Patricia Aurelia
  • Jumat, 22 Mei 2015 | 00:00
  • | Sosok
 Darwati, Kisah Pembantu Bergelar Sarjana Cum Laude Darwati, mahasiswi yang nyambi PRT berhasil meraih gelar sarjana dengan predikat cum laude di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (20/5/2015). (Foto-Foto:www. detik.com & Ist)
Lulus kuliah tepat waktu bahkan dengan predikat cum laude memang butuh perjuangan. Nah, itulah yang dilakukan Darwati (23), pembantu rumah tangga (PRT) asal Desa Gunungan RT 2 RW 1, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Di sela pekerjaan berat, ia sukses meraih gelar sarjana dengan predikat cum laude.

Sehari-hari, Darwati menjadi PRT di rumah seorang dokter di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Ia memanfaatkan waktu dan gaji agar bisa meraih gelar sarjana di jurusan Administrasi Niaga Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang.

Hari ini, Kamis (21/5/2015), Darwati diwisuda. Ia lulus dengan IPK 3,68. Prestasi yang luar biasa bagi pasangan suami istri Sumijan dan Jasmi yang bekerja sebagai petani di desanya.

"Memang sudah sejak lulus SMA ingin kuliah, tapi terhalang biaya, terus saya cari-cari kerja dulu," kata Darwati saat berbincang dengan detikcom di sela acara wisudanya di aula Masjid Agung Jawa Tengah.
 
Ia pun mulai menceritakan kisah keinginannya berkuliah hingga akhirnya lulus dengan predikat cum laude. Darwati awalnya impiannya kuliah hanya angan-angan, sehingga selepas lulus dari SMA Muhammadiyah 5 Todanan ia ke Jakarta untuk bekerja.

"Di Jakarta cuma satu minggu karena enggak betah, akhirnya balik lagi," ujar Darwati.
 
Kembali ke kampung halaman, Darwati berjualan es campur kira-kira selama tiga minggu. Namun selama itu ia belum menerima upah karena pindah bekerja sebagai PRT di rumah drg Lely Atasti Bachrudin.

"Kerja jual es campur itu tiga minggu belum digaji karena pemiliknya ingin aku tetap kerja di sana. Orangnya baik, tapi saya pindah kerja ke dokter Lely," katanya.
    
Ia mengakui pemilik usaha es campur itu sebenarnya baik dan tidak merelakan dirinya pindah, namun sudah ada tawaran bekerja sebagai PRT di keluarga drg Lely Atasti Bachrudin, di Grobogan.
 
Darwati mengaku teringat betul mulai bekerja sebagai PRT di keluarga dokter gigi itu pada 16 Agustus 2010, dan ketika itu masih belum terbayang kelak akan bisa meneruskan pendidikan sampai sarjana. 

"Suatu waktu, saya nggremeng (bergumam, Red) ingin kuliah. Mungkin didengar sama Bapak (majikan, Red). Beberapa hari setelah itu, Bapak tiba-tiba bilang saya boleh nyambi kuliah," ungkapnya.

Diceritakan, majikannya kala itu mengatakan jika ayahnya dari desa baru saja menemui sang majikan dan menyampaikan keinginan Darwati berkuliah, dan majikannya ternyata mengizinkan. 

"Saya langsung semangat mencari informasi perguruan tinggi sampai akhirnya memilih di Semarang. Saya sisihkan sebagian gaji. Ternyata, bapak saya tidak pernah menemui beliau," kenangnya.

Untuk berangkat kuliah, ia harus menempuh jarak kurang lebih 50 kilometer yang dilakoninya dengan menumpang bus, meski terkadang menumpang kawannya yang kebetulan berasal dari Grobogan.

"Kadang, saya diminta menemani anaknya Bapak (majikan, Red) yang tinggal di Semarang. Jadi, sekalian menginap di sini. Ya, begitu. Saya ke Semarang, ya, kalau ada jadwal kuliah," katanya.

Selama menjalani kuliah, ia mengaku kerap mendapatkan ejekan dari sejumlah kawannya karena pekerjaannya sebagai PRT, namun dirinya tidak menggubris dan tetap bersemangat mengejar mimpinya.

"Yang mengejek, ya pasti ada, namun saya anggap angin lalu. Untuk dana, saya sisihkan uang gaji, kadang saya pinjam teman, kadang juga diberi uang saku sama Bapak," katanya.

Kini, Darwati berhasil mewujudkan mimpinya meraih gelar sarjana dan mampu membanggakan kedua orang tuanya, bahkan sanggup meraih indeks prestasi komulatif (IPK) 3,68 atau cum laude.
 
Darwati ingat betul ia mulai menjadi PRT sejak tanggal 16 Agustus 2010 silam. Kini Darwati sudah membanggakan kedua orang tuanya dengan lulus dan termasuk mahasiswa bernilai terbaik di kampusnya. Ayah Darwati, Sumijan tidak menyangka putri keduanya bisa meraih gelar sarjana.

"Tidak menyangka, saya khan hanya petani," ujar Sumijan.

"Selain orang tua, saya dimotivasi majikan. Katanya jangan dengerin kata orang-orang (yang mengejek), yang penting maju, sukses itu dari diri sendiri," timpal Darwati yang mengaku izin ke majikan agar bisa mengikuti wisuda.

Ditemui di kampusnya, Rabu (20/5), wanita dari Desa Gulungan RT 02/1 Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, itu mengaku sangat bersyukur bisa menyelesaikan kuliah. Apalagi ia tidak sekadar lulus. Ia adalah lulusan terbaik atau berpredikat cum laude dengan indeks prestasi komulatif 3,68.

Darwati bercerita, selama menjadi pembantu ia pun mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Dari menyapu, mengepel, memasak, mencuci, dan membersihkan pekarangan majikannya. Pekerjaan itu dijalaninya sejak lulus SMA.
 
Selama bekerja, Darwati terus memendam keinginan untuk kuliah. Hingga suatu ketika ia mengutarakan niat itu pada majikannya. “Ternyata bapak ibu (majikan) justru mendukung, saya senang sekali,” katanya.

Dukungan dari majikan itu bukan berarti membuat persoalannya selesai. Tantangan justru baru dimulai setelah Darwati dinyatakan diterima di kampus Untag Semarang. Masalah pertama adalah uang kuliah. Darwati harus menyisihkan gajinya yang hanya Rp 380 ribu per bulan. Untungnya, sang majikan lambat laun menaikkan upahnya sehingga bisa menolong kebutuhannya.

“Uang kuliah tiap semester Rp 2,5 juta, saya mengumpulkan dari upah bekerja. Tidak meminta orang tua, kecuali pas butuh banget. Kadang majikan juga memberi uang saku kalau mau ke Semarang,” tutur gadis 23 tahun itu.

Darwati harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Ia pun meminta dispensasi kerja selama tiga hari setiap pekan. Ia berada di Semarang pada Senin hingga Rabu untuk kuliah. Lain itu, ia di bekerja rumah majikannya di Jalan Hayam Wuruk, Purwodadi, Kabupaten Grobogan.
   
Meski terus berusaha menerjang hambatan, kadang Darwati pun merasa berat. Terutama ketika hari Senin, selepas ada pekerjaan banyak dari Grobogan. Saat lelah mendera, tak urung juga mempengaruhi konsentrasi belajarnya. “Kalau pas capek banget, apa yang disampaikan dosen ya lewat di kuping saja, tidak fokus,” katanya.

Beberapa kali Darwati juga mendengar orang membicarakan dirinya yang berprofesi sebagai pembantu. Namun hal itu tidak digubrisnya. Ia tetap berkawan baik dengan semua teman-temannya di kampus.

Ia berprinsip, selama pekerjaannya halal, apapun akan dilakukan. Jika ada orang yang menghina, bahkan menyepelekan, ia memberi tips agar hal itu dijakan sebagai motivasi untuk melakukan perubahan. “Hujatan dan hinaan itu biasa bagi saya. Tapi, jadikan itu motivasi untuk pembuktian, bahwa kita memang bisa.
   
Dengan nada lirih, Darwati mengisahkan awal mula dirinya ingin menekuni kuliah di Semarang. Meskipun secara fisik dirinya bekerja di rumah milik salah satu pejabat Pemkab Grobogan.

Putri dari pasangan Sumijan dan Jasmi ini memang harus memutar otak tatakala orangtuanya hanya mampu menyekolahkannya hingga SMA Muhammadiyah Blora. Ayah dan ibunya hanya seorang petani penggarap berpenghasilan minim. Jangankan untuk biaya kuliah, untuk membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga saja bisa dibilang cukup. Hingga akhirnya dia memilih bekerja untuk bisa kuliah sendiri.

Aktivitasnya sebagai Pembantu itu terus dijalani Darwati sampai akhirnya genap empat tahun. Darwati tak menyangka, kerja kerasnya kini membuahkan hasil. Dia bahkan menjadi inspirasi banyak orang, bahwa siapa saja bisa berhasil dengan kerja keras dan pantang menyerah. Ayah dan ibu nya pun bangga, putri kesayangannya kini mampu membuka ribuan pasang mata. (Diolah dari berbagai sumber)


 

 
 
Penulis : Patricia Aurelia

Sosok Terbaru