Selasa, 27 Januari 2026

Susilawati Membagi Ilmu di Perbatasan


  • Penulis Patricia Aurelia
  • Rabu, 24 Juni 2015 | 00:00
  • | Sosok
 Susilawati Membagi Ilmu di Perbatasan Susilawati dari Yayasan Citramas untuk mengajar anak-anak pantai di sekitar wilayah perbatasan.(kepri.antaranews.com/Evy R. Syamsir)
ANGIN pantai mulai bertiup kencang ketika sekitar 20 anak berkumpul di Pantai Nongsa, Kota Batam, Sabtu sore, menanti seorang guru membagi ilmu.

Berpemandangan gedung-gedung pencakar langit Singapura dan dataran Malaysia, anak-anak Pantai Nongsa berlarian di sekitar gubuk kayu yang tidak berdinding, tempat mereka belajar setiap akhir pekan.

"Kami sedang menunggu Guru Bahasa Inggris, biasanya jam segini sudah datang," kata Mario, anak Pantai Nongsa.

Cerita Mario, ada seorang guru yang selalu datang setiap akhir pekan untuk membantu anak-anak memperdalam pelajaran di sekolah. Tapi entah, hari itu sang guru tidak kunjung kelihatan.

Dua jam berlalu. Turis dalam dan luar negeri bolak-balik di pantai sambil melemparkan sedikit pandangan ke arah gubuk yang dipadati anak-anak.

Pantai Nongsa memang merupakan satu objek wisata di Batam. Pantainya putih bersih dengan pemandangan gedung-gedung tinggi Singapura di sebelah kiri, dan gundukan tanah Malaysia di sebelah kanan.

Meski begitu, wisatawan lebih banyak yang tertarik mengunjungi Pulau Putri, yang letaknya hanya sekitar 10 menit menggunakan perahu kayu bermesin dari Pantai Nongsa. Pulau Putri merupakan salah satu pulau terdepan Indonesia, yang berhadapan dengan laut internasional.

Luas pulau berpasir putih bersih itu hanya sekitar dua hingga tiga kali lapangan sepak bola. Tidak ada penduduk yang tinggal di sana. Hanya rumah penjaga mercusuar dan sebuah kedai yang berdiri malas.
       
Guru Perbatasan
Saat matahari mulai beranjak, Susilawati menggunakan sepeda motornya tiba di bibir pantai. Anak-anak langsung berhamburan. "Ibu guru...ibu guru datang,".

Susilawati tidak kalah hangat. Digandengnya seorang anak dan dibimbingnya duduk di gubuk tepi pantai.

"Ini yang membuat saya bertahan mengajar di sini. Selalu ada sambutan hangat dari anak-anak. Anak-anak mau menunggu saya hingga berjam-jam," kata perempuan yang akrab disapa Susi.

Sambil membuka-buka buku, Susy meminta maaf kepada anak-anak yang menunggunya. "Ibu terlambat karena harus mencari bensin dulu. SPBU banyak yang kehabisan bensin," kata dia.

Saat itu, Batam memang sedang krisis bahan bakar. Banyak SPBU yang tutup karena kehabisan bensin dan solar.

Lokasi Pantai Nongsa di utara Batam membuat Susi harus mempersiapkan bahan bakar lebih banyak. Apalagi untuk mencapai pantai itu harus melalui hutan lindung berkilo-kilo.

Susi adalah guru yang dikirim Yayasan Citra Mas untuk mengajar anak-anak pantai di sekitar wilayah perbatasan. Sudah delapan tahun Susi mengabdikan ilmunya untuk anak-anak tempatan.

"Sudah banyak anak didik saya yang bekerja dengan bekal bahasa Inggris yang saya berikan," kata dia.

Awalnya, Susi bergabung dengan lembaga swadaya masyarakat yang bekerja sama dengan Yayasan Citra Mas dalam menyalurkan dana tanggungjawab sosial perusahaan PT Citra Tubindo.

Namun, kemudian, yayasan secara langsung meminta Susi mengajar anak-anak perbatasan, tidak melalui LSM.

"Memang ada dana dari yayasan, tapi tidak banyak. Mengajar ini lebih karena rasa kemanusiaan saya untuk membantu anak-anak," kata dia.

Setiap akhir pekan, ibu dari tiga putra dan putri mengajar anak-anak pantai di Kecamatan Nongsa, hari Sabtu di Pantai Nongsa dan Minggu di Kampung Jabi.

"Semestinya saya hanya mengajar Bahasa Inggris, tapi sering juga anak-anak membawa soal matematika dari sekolah. Kalau tidak terlalu rumit, saya bantu," kata dia.

Digusur
Sekitar tahun 2005, Yayasan Citra Mas mendirikan rumah belajar di tanah warga di sekitar Pantai Nongsa. Setiap pekan, puluhan anak-anak berkumpul di rumah itu untuk mengail ilmu Bahasa Inggris.

Namun kemudian, pemilik lahan menggusur mereka. "Alasannya, dia mau pakai lahan itu," kata Susi bercerita.

Anak-anak pun kehilangan tempat belajar.

Melihat semangat belajar anak-anak yang tinggi, Susi meminta pihak yayasan membangun rumah belajar yang baru, agar anak pantai punya tempat belajar yang nyaman.

"Sayangnya, pihak yayasan menolak membangun, karena tidak mau kejadian itu terulang lagi. Karena ini adalah tanah kampung tua," kata dia.

Susi pun bergerilya ke tokoh-tokoh kampung, meminta kesediaan warga meminjamkan tempat untuk belajar. Merayu ke sana-sini agar ada tempat belajar yang layak.

Kegigihannya pun berbuah hasil. Seorang warga yang rumahnya tepat di bibir pantai meminjamkan rumah gubuknya, yang tidak berdinding sebagai tempatnya mengajar.

"Ya, karena ini untuk anak-anak mereka juga," kata dia.

Kebanyakan anak-anak anak didiknya adalah anak-anak pedagang dan juru kapal kayu yang mencari nafkah memanfaatkan pariwisata Pantai Nongsa dan Pulau Putri. Sebagian lainnya bekerja sebagai tenaga keamanan di resort-resort sekitar Nongsa.

"Pengamatan saya, orang tua di sana macam-macam. Ada yang menganggap tidak terlalu penting, tapi ada juga yang peduli," kata dia.

Apalagi di Kampung Jabi, tempat mengajar lainnya, kebanyakan masyarakat tidak peduli dengan kegiatan sosialnya.

Di Kampung Jabi, kata dia, hanya ada empat orang anak yang mengikuti kelasnya yang diadakan di Gedung Pemuda.

"Tapi saya tetap mengajar, biar sedikit juga," kata dia.

Bersama Barat
Di Yayasan Citra Mas, Susi adalah satu-satunya tenaga pengajar yang tersisa.

Sering, ia pergi sendiri ke Pantai Nongsa dan Kampung Jabi untuk mengajar Bahasa Inggris. Kadang dibantu suami dan kenalannya Warga Negara Spanyol.

"Karena di sana, anak-anaknya heterogen. Terdiri dari berbagai usia, sehingga saya perlu kelompokan dan memberi materi yang sesuai dengan usia dan kelas mereka," kata Susi.

Patricia, seorang Barat, warga negara Spanyol, tertarik membantu Susy setelah mendengar ceritanya mengajar anak-anak pantai.

Menurut Susy, awalnya Patricia adalah muridnya yang belajar Bahasa Indonesia. Namun, kemudian kerap membantunya mengajar Bahasa Inggris.

"Kalau ada waktu, Patricia datang," kata dia.

Semangat Mengajar
Sebenarnya, Susi hanya tamatan SMA. Keterbatasan biaya membuatnya tidak bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Meski begitu, pendidikan tidak menghambat semangatnya untuk berbagi ilmu.

"Kebetulan, sejak SD dan SMP saya ikut kursus Bahasa Inggris, jadi ada pegetahuannya," kata perempuan yang sejak kecil bercita-cita menjadi guru.

Keberhasilannya mendidik anak-anak pantai, dilirik sebuah SD negeri yang kala itu membutuhkan guru Bahasa Inggris. Meski tidak berijazah perguruan tinggi, ia diterima sebagai guru honorer.

Beberapa lama menjadi guru honorer, sebuah SD swasta pun mempercayakannya menjadi guru wali kelas.

"Semuanya berawal dari mengajar anak-anak di pantai. Hingga saya bisa mengajar di SD swasta," kata dia bercerita.

Sumber: Antara





 
Penulis : Patricia Aurelia

Sosok Terbaru