Loading
Rektor UKI, Dr Dhaniswara Kwartantijono Harjono, SH, MH, MBA. (Net)
"RENCANA Induk UKI bahwa pada tahun 2019 UKI menjadi Universitas Unggulan dalam konteks wilayah Kopertis III," Demikian Dr Dhaniswara Kwartantijono Harjono, SH, MH. MBA saat menyampaikan pidatonya pelantikannya, tanggal 14 Februari 2018 di Auditorium Grha William Soeryadjaya, Gedung Fakultas Kedokter UKI Cawang, Jakarta. Ia dikukuhkan sebagai Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI) masa bakti 2018-2022, menggantikan rektor sebelumnya yang dijabat oleh Dr Maruarar Siahaan, SH.
Sebagai nahkoda baru di kampus yang dikenal sebagai 'benteng pertahanan NKRI dan Pancasila' itu, Dhanis--demikian ia biasa disapa--optimistis akan membawa UKI menjadi universitas unggul, berkelas internasional, dan melahirkan alumni berkualitas. Ia pun telah menyiapkan langkah untuk mewujudkan UKI menjadi universitas bertaraf internasional. “Saya ingin membuat UKI maju pesat. Kalau sukses, bukan hanya saya menikmati, tetapi semua turut merasakan. Seperti alumni, mahasiswa, dan yayasan,” ungkap pakar hukum yang juga alumunus kampus tersebut.
Konsisten Menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi
Harapan itu pun, yang mendasarinya merealisasikan misi lembaga yang dipimpinnya itu. Yakni meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan sistem pelayanan administrasi akademik dan umum dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Serta mengembangkan hubungan kerjasama dengan institusi nasional dan internasional yang saling menguntungkan.
Maka langkah prioritas yang ditegakkan adalah menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berkualitas. Sejak mahasiswa, menjadi pengusaha dan praktisi hukum, hingga memegang jabatan Rektor, ia senantiasa konsisten menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hingga buah yang dipetiknya pun, ia anggap sebagai hasil dari sikap konsistensinya itu.
Selanjutnya, ia berupaya mengoptimalkan peran UKI yang telah ada selama 65 Tahun berdiri. Seperti yang diungkapkannya pada pidato pelantikan lalu, ia optimis UKI akan menjadi Universitas Unggulan dalam konteks wilayah Kopertis III.
Keyakinannya ini bertopang pada kekuatan UKI, yakni kuantitas dan kualitas alumni. Saat ini, UKI memiliki lebih kurang 50.000 alumni. Informasi dari Dekan FK UKI, ada 17 orang Direktur Rumah Sakit se-Indonesia yang merupakan Alumni UKI. "Kita juga meyakinkan diri kita dan stakeholder bahwa UKI ini baik. Jadi, kita ingin membentuk citra yang positif di masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, kampus UKI Cawang memiliki luas 13 hektar dan UKI Salemba seluas 2 hektar, banyak sekali program-program yang dapat dilakukan untuk menjadikan UKI sebagai universitas unggul di Indonesia. Beberapa waktu lalu, UKI Cawang baru saja melakukan soft launching sarana olahraga. “Kami merenovasi kembali sarana lapangan futsal, basket, dan voli untuk meningkatkan prestasi UKI, khususnya mahasiswa, dalam bidang olahraga. Kesiapan sarana olahraga ini untuk memberi semangat bagi Unit Kegiatan Olahraga Mahasiswa,” katanya.
Pengembangan sarana olahraga tersebut akan menjadi wadah untuk mengekspresikan hobi mahasiswa khususnya di bidang olahraga. Prestasi olahraga akan ditingkatkan dan memberikan kontribusi peningkatan akreditasi UKI di bidang kemahasiswaan. Harapan dari kegiatan ini adalah UKI kembali mencetak atlet-atlet muda di masa depan. “Di samping itu, dengan adanya sarana olahraga ini kami akan mengadakan kegiatan olahraga yang dapat melibatkan masyarakat. Tujuannya agar UKI lebih dikenal masyarakat luas melalui kegiatan-kegiatan positif,” jelasnya.
Selain penataan kampus, pebisnis sukses ini pun, memiliki fokus pembinaan di bidang kewirausahaan. "Ke depannya, kami ingin melakukan pembinaan jiwa enterpreneur kepada para mahasiswa,” katanya. Pijakan awal adalah menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman melalui pengembangan universitas berbasis teknologi. Dhanis pun mengajak mahasiswanya agar melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan teknologi. “Sekarang teknologi mampu menguasai seratus bahasa. Teknologi adalah pesaing utama kita, bukan lagi manusia dengan manusia. Untuk menguasai teknologi, kita harus melakukan hal yang tak bisa dilakukan teknologi, misalnya agama, etika, musik, olahraga, dan teamwork. Sehingga mereka mempunyai nilai tambah,” ungkap advokat senior tersebut.
Soal keterlibatannya di dunia pendidikan, Dhanis mengaku, tak pernah terbersit dibenaknya untuk menjadi seorang pengajar. Mulanya, ia hanya memiliki cita-cita yang sederhana, yaitu bisa memberikan manfaat bagi orang banyak. Lantas, ia pun memilih bergelut di dunia usaha dengan membidani perusahaan, memiliki karyawan, dan menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan banyak orang. “Untuk meningkatkan kualitas diri, saya melanjutkan studi sampai pada jenjang S3. Seiring berjalannya waktu, saya berpikir kok di Indonesia yang memiliki gelar doktor hanya sekitar 0,35%? Hal itulah yang akhirnya menggerakkan hati saya untuk berbuat lebih banyak di dunia pendidikan dengan menjadi dosen,” pikirnya, suatu kali.
Tak lama berselang menjadi dosen UKI, Dhanis pun dipercaya menjadi Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum. Karirnya terus menanjak, ia kemudian diamanahi sebagai Direktur Pasca Sarjana, Wakil Rektor, hingga puncaknya pada Februari 2018 lalu, ia dilantik sebagai Rektor UKI masa bakti 2018 – 2022. Dengan mengusung tagline ‘UKI HEBAT’, Dhanis yakin, kalau bekerja dengan hati ikhlas, tulus, dan meniatkan apa yang dikerjakan sebagai ibadah kepada Tuhan, maka akan berbuah manis, sehingga bisa meraih prestasi yang baik.
Dhaniswara lahir di Jakarta pada 26 Oktober 26 Oktober 1960 dan menikah dengan Hedy Maureen Mohede pada 22 Agustus 1987, yang juga alumni UKI. Keduanya dikaruniai 2 orang anak perempuan, yakni Anastasia Nathania Harjono menikah dengan Andrew Bethlen (dikarunia 2 orang anak Amsalia Danisha Betlehn dan Astarra Christiaan John Betlehn), dan Belinda Daniella.