Loading
Roslinda Tamo Ina (Net)
GADIS belia asal Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tampil memukau secara virtual di hadapan perwakilan negara Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). Mutiara muda dari Timur Indonesia Roslinda Tamo Ina yang baru berusia 15 tahun, berbicara tentang dampak pandemi COVID-19 bagi anak-anak di Indonesia, khususnya yang berada di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T) .
Ini adalah kali kedua dara manis ini berorasi dihadapan para pembesar dunia. Tahun sebelumnya, Roslinda pun berkesempatan berorasi dengan tema yang berbeda. Dan Tahun ini, dia menceritakan suara anak Indonesia yang mengalami kesulitan menghadapi pandemi Covid-19, seperti dalam menghadapi pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Dari dua pengalaman menyampaikan suara di PBB, Roslinda mengaku ada hal unik yang terjadi, yakni belajar bahasa Inggris selama satu minggu sebelum dirinya terbang ke PBB. "Sebelum satu minggu itu aku terus gali bahasa Inggris. Selalu dikasih semangat, pendamping, orangtua, gereja, semangat pasti kamu bisa, teman-teman semua kasih semangat. Akhirnya saya bisa memberikan yang terbaik," kata Roslinda dalam acara Live Instagram "Muda Bertanya Suara Anak Indonesia di PBB", Selasa (13/10/2020).
Dia juga aktif belajar menggunakan Google terjemahan. Tak hanya itu, dia sering menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-harinya. "Dicoba terus, saya belajar dan komunikasi dengan bahasa Inggris kepada kawan, meski kadang ada yang saya tak mengerti. Bila tidak mengerti, saya biasanya menggunakan gestur tubuh agar teman komunikasi saya paham," jelas dia.
Memang, ungkapnya, rasa bersalah itu ada. Namun, itu terjadi pada saat menyampaikan suara pertama kalinya pada 2019. "Saya dikasih lima kali speech, tapi yang pertama saya benar-benar tegang. Setelah itu tidak tegang lagi karena sudah bisa dilakukan saat pertama kalinya, sehingga tidak tegang lagi saat menyampaikan speech berikutnya," tutur dia.
Hingga kini, perempuan yang akrab disapa Oslin ini menegaskan bahwa dirinya masih terus mengasah kemampuan berbahasa Inggris. Tujuannya agar bisa lebih percaya diri bila diberi kesempatan lagi untuk menyampaikan suara anak Indonesia kepada dunia internasional.
Permintaan Roslina PadaPara Pemangku Kebijakan
Dalam keterangan tertulis yang disiarkan Wahana Visi Indonesia (WVI), pesan yang disampaikan remaja putri tersebut, cukup menyita perhatian perwakilan negara anggota PBB di New York, Amerika Serikat, meskipun disampaikan secara daring. Di panggung internasional itu, Roslindamenyampaikan kesedihannya selama pandemi COVID-19 berlangsung karena lebih banyak berada di rumah. "Kami sedih karena selama pandemi lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja dan tidak bisa bertemu teman-teman," katanya.
Ia mengaku setelah belajar di rumah, kalau menemui hal sulit tidak bisa langsung bertanya pada guru seperti terjadi di sekolah. Bagi anak-anak yang pendidikan orang tuanya minim maka akan semakin sulit mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
Roslinda menyampaikan anak-anak membutuhkan jaringan internet yang stabil dan juga telepon seluler. Namun, kata dia, tidak semua anak dapat menikmati hal tersebut karena penghasilan orang tua mereka berkurang selama pandemi.
Ia juga mengatakan selama pandemi COVID-19 berlangsung harus rajin mencuci tangan. Sayangnya, tidak semua daerah di Indonesia, khususnya di NTT memiliki akses air bersih. "Saya beruntung, walaupun harus membeli air atau berjalan jauh untuk mendapat air, orang tua kami bisa mengusahakan agar rumah memiliki tempat cuci tangan. Saya berharap, para pemangku kebijakan dapat memberi solusi atas apa yang dihadapi anak-anak di masa pandemi ini,” katanya.
Selain Roslinda juga tampil Krish (14) dari India yang mendapat kesempatan sama untuk menyampaikan suara anak selama pandemi COVID-19. (Dari berbagai sumber)