Mental Juara Kevin Lijaya Lukman, Dari Gagal IELTS Tiga Kali hingga Raih Tesis Terbaik di Inggris Raya


  • Sabtu, 31 Mei 2025 | 21:30
  • | Sosok
 Mental Juara Kevin Lijaya Lukman, Dari Gagal IELTS Tiga Kali hingga Raih Tesis Terbaik di Inggris Raya Kevin Lijaya Lukman saat menerima MSc Curry Award. (Foto: Dok. LPDP)

MALAM hujan turun deras, namun yang lebih lebat dari air langit adalah kekecewaan di hati Kevin Lijaya Lukman. Untuk ketiga kalinya, skor IELTS-nya terpaut setengah poin dari ambang batas. Tiga kali tes, tiga kali gagal. Padahal, beasiswa LPDP tinggal selangkah lagi dan tenggatnya semakin dekat.

“Waktu itu saya duduk diam di kamar, hujan deras banget. Rasanya langit tahu saya lagi sedih,” kenangnya.

Kevin tidak sendiri dalam perjuangan ini. Di balik kegagalannya ada malam-malam panjang yang ia habiskan untuk belajar setelah pulang kerja, meski tubuh lelah habis mengurus proyek pengembangan pabrik nikel. Namun, ia tidak menyerah. Tiga hari sebelum batas akhir pendaftaran LPDP, ia berhasil tembus skor IELTS yang disyaratkan.

Itulah sekelumit perjalanan Kevin, pemuda asal Bandung yang berhasil menembus salah satu universitas terbaik dunia, Imperial College London. Bukan hanya lulus, ia pulang membawa predikat cumlaude dan penghargaan paling bergengsi untuk tesis geologi se-Inggris Raya: Curry MSc Prize.

Akar Mimpi dari Bandung

Kevin tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayah dan ibunya hanya lulusan SMA, namun nilai pendidikan tertanam kuat dalam rumah mereka. “Sekolah setinggi mungkin,” itulah pesan yang terus diulang oleh orang tuanya. Sejak SMP di Santo Aloysius Bandung, Kevin sudah menunjukkan taringnya: juara olimpiade kimia, karya ilmiah, hingga kompetisi nasional yang diadakan ITB.

Namun hidup tidak selalu berjalan mulus. Meski yakin bisa masuk ITB lewat jalur undangan, Kevin justru gagal. Hanya dua minggu waktu yang tersisa untuk mempersiapkan tes tulis, tapi ia pantang menyerah. Dan benar saja, ia diterima di jurusan Metalurgi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB—salah satu yang paling ketat saingannya.Biaya kuliah yang tinggi membuatnya memutar otak. Ia mengajukan Beasiswa Unggulan dari Kemendikbudristek dan berhasil. Kevin pun menorehkan sejarah sebagai mahasiswa pertama di jurusannya yang lulus cumlaude dalam 3,5 tahun, tercepat dari 343 mahasiswa angkatan 2016.

Dari Tambang ke Laboratorium: Titik Balik Karier

Setelah lulus, Kevin sempat diterima di perusahaan tambang. Namun pandemi COVID-19 menghentikan langkahnya sebelum mulai. Ia kemudian direkomendasikan oleh dosennya untuk bekerja di Salim Group, yang menempatkannya di PT Indo Mineral Research, Purwakarta.

Di sinilah Kevin benar-benar diuji. Ia ditugaskan membangun laboratorium riset dari nol—tanpa bangunan, tanpa tim. Penelitiannya berfokus pada prekursor baterai kendaraan listrik, khususnya nikel sulfat heksahidrat.

“Awalnya saya pikir ini tentang riset. Tapi ternyata ini tentang leadership,” ungkap Kevin.

Ia menyadari ada celah ilmu yang harus ditambal, terutama di persimpangan antara metalurgi dan aspek finansial industri. Maka, setelah tiga tahun bekerja, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.

Tiga Kali Gagal IELTS, Sekali Lolos Menjadi Titik Balik
Keinginannya untuk kuliah di luar negeri muncul saat mengetahui salah satu koleganya adalah lulusan Imperial College London. Kevin pun menetapkan target: tembus kampus itu lewat beasiswa LPDP.

Namun IELTS menjadi hambatan besar. Ia gagal pada bulan September dan Desember 2022, serta Januari 2023—selalu terpaut 0,5 poin. Bahkan ia sempat mengajukan rechecking ke IELTS Australia, tapi hasilnya tetap sama.

Waktu semakin sempit. Namun Kevin percaya bahwa setiap usaha akan berbuah. Ia terus belajar hingga larut malam setiap hari. Pada tes keempat di awal Februari 2023—tiga hari sebelum batas akhir LPDP—akhirnya ia berhasil meraih skor yang dibutuhkan.

Cerita perjuangannya ia sampaikan dengan jujur saat wawancara LPDP, lengkap dengan latar belakang keluarganya, kerja keras di proyek nikel, dan nilai kontribusi yang ingin ia berikan untuk Indonesia.

Belajar di Imperial College London dan Menerobos Batas

Kevin diterima di dua universitas elite: Imperial College London dan UCL. Ia memilih Imperial, yang saat itu berada di peringkat kelima dunia. Programnya bukan sembarangan—kolaborasi antara Royal School of Mines dan Imperial College Business School, dengan 15 modul ujian intensif.

Namun Kevin melaluinya dengan gemilang. Ia menyusun tesis tentang evaluasi dampak teknis dan finansial dari proyek tambang nikel menggunakan pendekatan mean reverting model, metode statistik canggih yang memungkinkan simulasi ratusan ribu kali.

Hasil risetnya dianggap inovatif dan aplikatif, terutama untuk negara seperti Indonesia yang sedang mendorong hilirisasi tambang. Ia lulus dengan predikat distinction (cumlaude) dan menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia di angkatannya yang meraih penghargaan tersebut.

Penghargaan Curry MSc Prize dan Loyalitas untuk Pulang

Setelah lulus, tawaran kerja dari luar negeri berdatangan. Namun Kevin memilih pulang ke Indonesia. Bagi dia, beasiswa LPDP adalah amanah. Ilmu dari luar harus kembali dalam bentuk kontribusi di tanah air.

Keputusan itu tak sia-sia. Saat sudah kembali bekerja di Purwakarta, kabar membanggakan datang: tesisnya dinobatkan sebagai yang terbaik di seluruh Inggris Raya lewat penghargaan Curry MSc Prize. Ini adalah kali pertama Imperial College memenangkan penghargaan tersebut sejak hanya jadi runner-up pada 2016.

Kevin tidak pernah mendaftar penghargaan itu—penelitiannya dipilih langsung oleh institusi. Ia juga mendapatkan keanggotaan eksklusif dari asosiasi geologi, pertambangan, dan metalurgi Inggris.Perjalanan Masih Panjang

Kini, Kevin kembali ke laboratorium di Purwakarta, mengembangkan riset dan teknologi untuk industri baterai di Indonesia. Bagi dia, semua pencapaian—dari SMA, ITB, hingga Inggris—hanyalah bagian dari perjalanan panjang yang baru saja dimulai.

“Hidup saya adalah tentang pembuktian. Dan di situ, harapan selalu tumbuh,”dikutip dari laman lpdp.kemenkeu.go.id

Editor : Farida Denura

Sosok Terbaru