Erasmus Mundus (EM) adalah pilihan Chitra H Ayuningtyas, perempuan kelahiran Malang, 13 September 1984. Ketika ditanya shnews.co via email belum lama ini soal proses mendapatkan beasiswa di EM, Chitra mengaku sangat bersyukur karena dua kali mendapatkan beasiswa EM yaitu tahun 2007-2009 untuk program Master (Erasmus Mundus Master Course, EMMC) dan tahun 2011-2014 untuk program Doktor (Erasmus Mundus Joint Doctorate, EMJD).
Lucunya cerita alumnus ITB strata satu jurusan Teknik Informatika, 2002-2006, kedua beasiswa tersebut didapatkannya setelah mencoba dua kali. “Saya daftar EMMC tahun 2006 tapi gagal dan baru dapat setelah mencoba lagi di tahun berikutnya. Demikian juga untuk program Doktor. Saya gagal di tahun 2010 setelah mendaftar ke beberapa program Doktor yang berbeda termasuk EMJD sebelum akhirnya bisa berangkat di tahun 2011,”ungkap Chitra yang kini sedang kuliah S3 di Alpen-Adria Universitat Klagenfurt, Austria.
Lebih lanjut Chitra menceriterakan proses mendapatkan beasiswa EM. Prosesnya cukup mudah dimana ada banyak courses yang ditawarkan dalam kerangka EMMC dan EMJD dan masing-masing memiliki fokus di bidang yang berbeda-beda. Setiap course dikelola oleh sebuah konsorsium yang terdiri dari beberapa universitas di Uni Eropa dan mahasiswa dalam course tersebut mendapat kesempatan untuk kuliah di minimal 2 universitas yang berbeda dalam konsorsium tersebut. Proses pendaftarannya pun cukup mudah dan petunjuknya selalu tersedia lengkap di website course yang dipilih.
Untuk program Master, Chitra cukup mengirimkan syarat-syarat pendaftaran yang diperlukan (ijasah, transkrip, TOEFL, motivation letter dan rekomendasi) ke konsorsium. Beberapa bulan kemudian hasilnya langsung Chitraterima. Untuk program Doktor, Chitra juga harus mengirimkan proposal pendek tentang penelitian yang ingin dikerjakan selama masa studi. Selain itu, untuk program Doktor ini prosesnya terdiri dari dua tahap yaitu seleksi dokumen dan wawancara. Setelah lolos tahap seleksi dokumen, Chitra harus menjalani teleconference via skype dengan dua orang profesor dari dua universitas yang berbeda yang akan menjadi calon pembimbing jika dirinya diterima. “Saya masih ingat waktu itu harus menginap di kampus (yang internetnya cukup kencang untuk bisa teleconference), karena wawancaranya dilakukan pukul 24:00 WIB,”ujar Chitra.

Chitra memilih untuk menekuni bidang yang saya ambil sejak S1 yaitu informatika. Untuk program Master, course saya adalah EMMC European Master of Informatics (EuMI) dan untuk program Doktor EMJD Interactive and Cognitive Environment (EMJD). Program Doktor yang ditekuni Asisten Riset pada KK Teknik Biomedika, STEI ITB itu sekarang memiliki fokus di bidang Ambient Assisted Living (AAL), yakni bagaimana kita dapat memanfaatkan teknologi "smart environment" (environment yang dilengkapi sensor, perangkat elektronik, dan artificial intelligence) untuk meningkatkan kualitas hidup penggunanya. Salah satu aplikasinya adalah untuk health monitoring bagi para lansia yang hidup sendiri. AAL bisa membantu menyediakan reminder (misalnya saat harus minum obat atau saat lupa mematikan kompor) atau mendeteksi kondisi kritis (misalnya saat lansia jatuh, AAL dapat menghubungi kerabat terdekat atau rumah sakit secara otomatis).
Bidang ini sangat menarik bagi Chitra karena di sini dia dapat memanfaatkan ilmu keinformatikaan yang telah dipelajari sebelumnya untuk sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Chitra bisa membayangkan bagaimana rasanya memiliki kerabat yang lanjut usia dan kadang harus ditinggal sendiri. “AAL dapat dimanfaatkan untuk memberikan rasa nyaman dan aman baik bagi penghuni maupun bagi kerabatnya yang tinggal terpisah. Selain itu, smart environment buat saya adalah salah satu hal futuristik yang selama ini hanya saya lihat di film-film science fiction tentang rumah masa depan, karena itu berkecimpung di dalamnya adalah satu hal yang menarik untuk saya,”ujar Asisten Riset pada Chair for Software Modeling and Verification, Department of Computer Science, RWTH Aachen, Jerman.
Ditanya alasan memilih Erasmus Mundus, Chitra mengatakan bahwa dirinya memilih EM karena adanya mobilitas selama program studi. Selama menempuh program Master, Chitra belajar di dua universitas yang berbeda yaitu University of Trento di Italia dan RWTH Aachen di Jerman. Dalam program Doktor yang sekarang dijalani, Chitra juga akan menjalani studi di dua universitas. “Sekarang saya sedang belajar di University of Klagenfurt di Austria sampai Januari 2013, kemudian akan pindah ke TU Eindhoven di Belanda,”ujar Chitra yang mengaku beasiswa yang diterimanya, tidak ada ikatan apa pun.
Menutup wawancara via email, Chitra berbagi kesan selama kuliah di negeri orang. Hal penting yang dipelajarinya selama kuliah di Eropa adalah toleransi. “Selama tinggal di Indonesia, saya terbiasa menjadi mayoritas, sedangkan di Eropa sebaliknya, dalam beberapa segi saya menjadi minoritas. Pengalaman ini mengajarkan pada saya untuk selalu berusaha melihat problem dari kacamata yang berbeda, berusaha menempatkan diri di posisi orang lain, dan sungguh-sungguh menghargai perbedaan,”terang Chitra.
Selain itu, Chitra juga belajar tentang time management dimana Chitra bekerja sungguh-sungguh di jam kerja, dan menikmati hidup dengan aktivitas-aktivitas lain seperti olahraga, jalan-jalan dan lain-lain di luar jam kerja.