Selasa, 27 Januari 2026

Tanti Susilawati: Mamma Mia, Mudahnya Belajar Bahasa Italia


  • Penulis Farida Denura
  • Jumat, 13 Maret 2015 | 00:00
  • | Beasiswa
 Tanti Susilawati: Mamma Mia, Mudahnya Belajar Bahasa Italia Tanti Susilawati dan teman-teman (Foto: Dok.Pri)
Sejak Tanti Susilawati berusia 14 tahun, Tanti memang sudah tertarik mendalami Bahasa Italia dan mulai belajar sendiri dengan sedikit buku yang bisa didapatkannya di toko-toko buku. Ketika ada kesempatan untuk ikut kursus formal dan kesempatan untuk memenangkan beasiswa pun lebih terbuka lebar, Santi memilih mengikutinya.

Santi akhirnya mendapat beasiswa yang ditawarkan pemerintah Italia lewat Istituto Italiano di Cultura setiap tahunnya, dan pada tahun 2007, Santi pun mulai ikut kursus di sana dan melamar untuk tahun akademik 2009.

Proses mendapatkan beasiswa diakui Santi cukup singkat. Hanya melengkapi formulir dan berkas-berkas dokumen resmi, lalu beberapa waktu kemudian saya dipanggil untuk wawancara dengan perwakilan dari pemerintah Indonesia, pihak Istituto, dan juga perwakilan dari Kedutaan Italia. Beberapa bulan kemudian hasilnya diketahui.

“Karena sejak dulu cita-cita terbesar saya adalah pergi ke Italia untuk belajar bahasa dan budayanya, jadi walaupun beasiswa yang ditawarkan tidak terlalu lama (maksimal 9 bulan), saya sangat mengidam-idamkannya dan mempersiapkan diri dengan cukup matang sebelumnya,”ungkap Santi menegaskan dalam wawancara via email, Rabu (24/10/2012).

Bidang ilmu yang dipilih Santi adalah  program Bahasa dan Budaya Italia di Università per Stranieri (Universitas untuk Orang Asing) di Perugia. Untuk para peminat yang ingin mendalami Bahasa Italia, memang program beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah Italia hanya ada di dua universitas untuk orang asing, di kota Siena dan Perugia.

Beasiswa yang diperoleh Santi secara resmi tidak ada ikatan. Cuma,  ketika dalam tahap wawancara sambung Santi, memang ditanyakan apa yang dia ingin lakukan sekembalinya dari Italia dan Santi mengatakan ingin menjadi pengajar bahasa Italia.

Dan  memang benar. Sekembalinya dari Italia, Santi lalu ditawari mengajar di Istituto Italiano, sejak 2010 sampai sekarang. Santi menyambutnya dengan baik karena dia selalu tergerak untuk menularkan kecintaannya terhadap bahasa dan budaya Italia pada sebanyak mungkin orang Indonesia, juga supaya tetap menjaga pengetahuan bahasa saya agar jangan sampai karatan karena jarang dipakai.

Episode Hidup
Masa belajar di Italia diakui Santi adalah salah satu episode hidup yang paling indah dan tidak terlupakannya. Rasanya seindah menjalani mimpi yang sudah bertahun-tahun didambakan.

“Di kelas saya dulu, banyak sekali berbagai macam orang dari latar belakang budaya dan profesi yang beragam. Rasanya seolah semua penjuru dunia terwakilkan.Teman-teman sekelas saya ada yang berprofesi sebagai pastor, pilot, penyanyi opera, hingga pemain sepakbola,”jelas Santi.

Santi menambahkan, ruangan-ruangan kelasnya sangat artistik, dengan langit-langit yang dilukis dan kursi-kursi yang disusun seperti gedung teater. Selain itu, banyak sekali kegiatan ekstrakurikuler di luar kuliah yang bisa dipilih untuk bersenang-senang dan mendapat kawan baru, misalnya paduan suara, orkestra, atau klub teater.

Profesor-profesornya juga sangat berkompeten dan mau membaur dengan para mahasiswa, bagaikan teman saja. Kami sering diajak makan pagi bersama, atau terkadang berjalan-jalan keliling kota ditemani oleh pemandu wisata yang menjelaskan mengenai sejarah tempat-tempat yang kami kunjungi.

“Profesor pertama saya adalah penulis buku-buku bahasa Italia yang sudah sering saya pakai semenjak saya belajar di Indonesia. Setelah melalui satu trimester, beliau mengizinkan saya untuk meloncat satu tingkat dan langsung duduk di tingkat akhir, sehingga pada saat beasiswa saya berakhir, saya sudah menjalani seluruh tingkatan yang ada untuk mendapatkan program diploma di universitas itu,”lanjut Santi.

Pada awalnya Santi merasa kesusahan, terutama karena teman-teman sekelas hampir semuanya punya latar belakang pendidikan Sastra Italia yang kuat, sedangkan latar belakang pendidikan formal Santi adalah di jurusan akuntansi, dan di tingkat terakhir itu kami tidak hanya belajar soal bahasa Italia, tetapi dijejali dengan beragam subyek yang lain, misalnya Sejarah Bahasa, Terjemahan, Filologia, Fonetik, dan Sastra. Waktu menjalaninya terasa berat, tapi pada akhirnya saya bersyukur mendapatkan pelajaran-pelajaran berharga yang menjadi bekal untuk mengajar bahasa Italia.

Kehidupan di luar kampus cukup kondusif juga. Kota Perugia kecil, tetapi tidak pernah sepi dari kegiatan-kegiatan yang melibatkan seluruh penduduknya. Tidak banyak orang Indonesia di sana, mungkin hanya bisa dihitung dengan jari. Namun yang ada di sana menjadi bagaikan keluarga yang saling membantu dan mendukung, di saat keluarga kami yang sebenarnya jauh.

Di akhir wawancara, Santi ingin lebih banyak orang Indonesia tertarik dengan bahasa dan budaya Italia, yang bukan hanya indah, tetapi juga banyak manfaatnya. Misalnya, dari pengalaman pribadi saya sendiri, bahasa Italia membuka banyak kesempatan kerja, selain sebagai pengajar, juga sebagai penerjemah buku-buku Italia.

Santi sudah menerjemahkan beberapa seri buku anak-anak Geronimo Stilton terbitan Libri BPK Gunung Mulia, dan yang lebih asyik, menjadi liaison officer klub Inter, yang kebetulan klub sepakbola favorit Santi saat mereka melakukan minitour ke Indonesia bulan Mei lalu. Selain itu, saya rasa bahasa Italia bisa menjadi penunjang yang penting bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia mode, seni, kuliner, jurnalisme, dan pariwisata.

Santi merasa prihatin dengan minimnya buku-buku pelajaran bahasa Italia, dibandingkan dengan bahasa-bahasa asing lainnya. Hal ini mendorong  Santi menyusun sebuah buku panduan belajar bahasa Italia berjudul “Mamma Mia, Mudahnya Belajar Bahasa Italia!” yang diterbitkan Transmedia bulan Mei 2012 dan ditujukan bagi para peminat bahasa Italia yang ingin mempelajarinya dari nol, tanpa kesempatan untuk ikut kursus formal atau membeli buku-buku impor yang mahal harganya.






Penulis : Farida Denura

Beasiswa Terbaru