Loading
Prof Dr Ir Wahyu Widodo (Foto: Dok. Pri)
Prof Dr Ir Wahyu Widodo adalah seorang Dosen Universitas Muhammadiyah Malang. Saat ini sedang menempuh pendidikan Post Doctoral di Universitas Minho, Braga, Portugal. Pendidikan tersebut dibiayai oleh One More Step Project, Erasmus Mundus Program, selama enam bulan.
Ceritanya begini, pada tahun 2010, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kerjasama dengan universitas di Uni Eropa yang diwadahi dalam bentuk Program Erasmus Mundus. Pada kesempatan pertama, istri Prof Widodo selaku salah satu dosen yang berhak mengikuti, mendaftar untuk memperoleh beasiswa Erasmus Mundus program post doctoral. Aplikasi sang istri pun diterima. Negara tujuan penelitian adalah Austria di University of Innsbruck, di kota Innsbruck selama enam bulan.
Setelah sang istri tiba di Indonesia, Prof Widodo pun banyak merenung. “Istri saya dapat meraih impian dengan menetap di Eropa selama enam bulan dengan biaya Uni Eropa.Mengapa saya tidak bisa,” begitu dia menceriterakan ulang isi renungannya.
Meski demikian dia juga mengakui hambatan psikologisnya adalah kemampuan berbahasa Inggris yang pas-pasan. Sang istri benar-benar mendorong dan memotivasinya supaya dapat meraih impian ke Eropa.
Prof Widodo akhirnya membulatkan tekad untuk dapat meraihnya. Dia merancang program untuk menuju kesana. Ada tiga program besar yang dia harus persiapkan untuk itu, pertama meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris saya. Kedua mempersiapkan persyaratan admnistrasi yang diminta oleh Erasmus Mundus. Sedangkan ketiga adalah meningkatkan keberanian saya.
Menjelang deadline pendaftaran cerita Prof Widodo dalam wawancara via email, dia memperkeras upaya untuk dapat berbahasa Inggris. “Saya meminta bantuan Bu Hartiningsih, staf pengajar bahasa Inggris dan Kepala UPT Kursus Bahasa Asing UMM) untuk dapat mengikuti kursus bahasa Inggris. Beliau mengijinkan saya untuk mengikuti kursus dengan beberapa teman. Tiga bulan sebelum pendaftaran Erasmus Mundus program One More Step dibuka, saya mencoba untuk membuat proposal dalam bahasa Inggris. Mulanya saya buat dengan bahasa Indonesia dan setelah selesai, baru saya terjemahkan dalam bahasa Inggris.
Proposal tersebut saya buat dengan mempertimbangkan persyaratan yang ditentukan oleh Uni Eropa. Salah satu yang saya cermati adalah proposal tersebut harus dapat dan layak dikerjakan di Universitas yang dituju (host university). Maka saya membuat judul yang mau tidak mau harus dikerjakan disana. Judulnya adalah Comparison of Gender Profiles of Students Academic Activities between University of Minho and Muhammadiyah University of Malang,”ceritanya menjelaskan.
Setelah proposal selesai dibuat, iapun meminta bantuan Fardini, Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UMM) untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proposal tersebut. Proposal kemudian diperbaiki sesuai saran Fardini dan kemudian dikirim langsung melalui internet pada website One More Step Erasmus Mundus. Disamping proposal, dia juga melampirkan beberapa persyaratan yang ditentukan pihak Uni Eropa. Beberapa kali dia memperbaiki lampiran yang harus disertakan karena ada beberapa kelemahan dan kekurangan yang harus dia penuhi. Akhirnya setelah beberapa kali memperbaiki, beberapa hari menjelang penutupan dia putuskan untuk memfinalisasi segala persyaratan.
Banyak Orang Berperan
Akhir Desember 2011 pendaftaran ditutup, pertengahan Maret 2012 hasilnya diumumkan. Selama menunggu waktu pengumuman itu dia berkonsultasi dengan Suparto, Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri UMM, karena Suparto adalah salah satu pihak yang berwewenang untuk penerimaan peserta. Menjelang pengumuman dia mendapat kabar kalau beberapa orang yang mendaftar, sudah mendapat pemberitahuan dari program tersebut, sementara dia belum dapat pemberitahuan. Beberapa hari kemudian dia juga mendapatkan kabar kalau beberapa orang lagi mendapatkan email pemberitahuan dari program tersebut sedangkan dia sendiri belum juga mendapatkan email.
Di akhir Maret, akhirnya dia terima email dari program Erasmus Mundus. Isinya menyatakan bahwa dirinya diterima. Ternyata peserta yang mendapat email pertama kali adalah peserta yang ditolak. Peserta yang mendapatkan email kedua adalah peserta yang mendapat status cadangan. Sedangkan peserta yang mendapatkan email pada periode ketiga adalah peserta yang diterima. Alhamdulillah, akhirnya impian impian ke Eropa tercapai.
Pilihan saya untuk mengambil penelitian gender pada post doctoral One More Step project Erasmus Mundus Program di Universitas Minho adalah karena dirinya mendasarkan pendaftaran ke Erasmus Mundus karena mengajar dan membimbing di S-2 Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan (MKPP) dan S-3 Sosial Politik Pascasarjana UMM.
Disamping itu dalam kalkulasinya karena akan lebih mudah diterima kalau penelitiannya dapat dilaksanakan di host university dan ilmunya menarik banyak kalangan antara lain supervisor dari Eropa. Penelitian saya mau tidak mau ya harus dilaksanakan di Eropa. Dan program One More Step Erasmus Mundus ini tidak ada ikatan yang harus dijalani kalau sudah selesai pelaksanaannya.
International Relation Officer (IRO) UMM pun berperan membantu meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrisnya. Prof Widodo pun harus mengucapkan terimakasih karena mereka berupaya mendatangkan native speaker. Upaya yang sangat dia hargai, karena bagi teman-teman yang diterima Erasmus Mundus sebelumnya tidak ada persiapan seperti ini. Urusan administrasi juga menyita waktu tersendiri, terutama dalam upaya mengurus visa. Persyaratan untuk visa memerlukan banyak dokumen seperti surat keterangan sehat dalam bahasa Inggris, Letter of Acceptance (LOA), booking ticket, asuransi dan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK). Mengurus SKCK di Indonesia butuh perjuangan tersendiri. Panjang urusannya sama seperti panjangnya Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bayangkan saja mengurusnya mulai dari surat pengantar RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Koramil, Polsek, Polres, dan setelah itu ke Polda di ibukota Propinsi (Surabaya). Langkah selanjutnya adalah pergi ke Mabes Polri, setelah itu harus dilegalisir oleh Kemenkumham dan Kemenlu (di ibukota negara, Jakarta).
Setelah urusan persyaratan selesai, Prof Widodo kemudian pergi ke Jakarta mengurus visa ke Portugal. Visa pun selesai dan mereka berlima yang diterima pada program tersebut sepakat berangkat bersama-sama. Permintaan mereka pada Koordinator Program adalah transit melalui Amsterdam. Setidaknya dengan transit di salah satu negara Eropa, mereka pun bercerita jika mereka pernah menginjaknya negara tersebut.
Transit di Belanda mengajarkan pada dirinya bahwa Belanda merupakan negara yang patut dihargai dan dicontoh. Negaranya kecil hanya sebesar Jawa Timur. Tapi secara lahiriah tampak sekali kemajuannya. Sudah selayaknya negara seperti ini, dahulu mampu menjajah Indonesia. Mereka sudah menata rapi negaranya. Rakyatnya disiplin dan pemerintahannyapun bekerja demi kemakmuran bangsa. Dimana-mana terlihat betapa rakyat Belanda berlaku beradab, contoh kecil, mendahulukan pejalan kaki, tidak membuang sampah sembarangan, taat pada aturan. Dalam tataran kenegaraan, rakyat yang memiliki sifat seperti ini akan mudah untuk digerakkan maju. Dahulu mungkin ya digerakkan untuk menjajah itu. Namun sekarang, energi bangsa dicurahkan untuk membangun negaranya.
Prof Widodo pun akhirnya tiba di kota Braga, Portugal . Kota yang sangat indah. Di tengah kota, jalan sepanjang setengah kilometer dipenuhi dengan bunga berwarna merah dan kuning. Di sekitarnya terdapat banyak bangunan tua yang masih tampak indah dipandang. Kebanyakan berupa gereja dan gedung-gedung kuno. Braga dikelilingi oleh bukit-bukit yang tampak gemerlapan dengan lampu di malam hari. Sedangkan Braga sendiri merupakan lembah yang jalanannya naik turun mengikuti kontur perbukitan. Pada salah satu bukit tertinggi yang mengelilingi Braga, tampak dua ikon Braga berupa gereja kuno yang sangat besar yaitu Bom Yesus dan Sameiro. Apabila berkunjung ke tempat tersebut, Braga dapat dilihat dari ketinggian dengan pemandangan yang menakjubkan. Sedangkan di sekeliling kedua gereja tersebut, terdapat taman-taman yang menyejukkan hati dan mata.