Selasa, 27 Januari 2026

Thoriq Salafi, Raih Beasiswa di Dua Universitas Top Dunia


  • Penulis Farida Denura
  • Jumat, 17 April 2015 | 00:00
  • | Beasiswa
 Thoriq Salafi, Raih Beasiswa di Dua Universitas Top Dunia Thoriq Salafi sedang melalukan presenstasi saat Thai Exchange di Mahidol University (Foto-Foto: Dok.Pri)
Thoriq Salafi boleh dibilang pria Indonesia yang paling beruntung lantaran kecerdasannya. Pasalnya, 11 tahun berturut-turut, sejak SMA, pria ini selalu memenangkan beasiswa pendidikan. Termasuk beasiswa yang diperebutkan di dua universitas top dunia yaitu Cambridge University, universitas nomor 2 terbaik di dunia menurut rangking QS, dan National University of Singapore yang merupakan universitas terbaik di Asia. Thoriq juga adalah awardee Program Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang memberikan kesempatan belajar setinggi-tingginya pada putra-putri terbaik bangsa Indonesia.

Di Cambridge University, Thoriq diterima oleh Center for Doctoral TrainingCDT Sensor Technologies and Applications untuk program 1 tahun master dan 3 tahun Phd integreated program. Program ini menurut Thoriq cukup kompetitif karena setiap angkatan hanya dipilih 10-12 orang saja. Saat ini pun Thoriq telah mendapatkan beasiswa dri LPDP untuk S3.

Thoriq belajar bidang Biomedical Engineering, program S1 di National University of Singapore  dan diharapkan lulus Juni 2015, dengan spesialisasi untuk medical sensing yang di-support oleh beasiswa dari DIKTI.

“Setelah saya cari-cari  R&D Medical/Biosensor di kampus top dunia, saya menemukan program sensor technologies di Cambridge ini karena saya bisa belajar prinsip-prinsip sensing dan melanjutkan ketertarikan saya untuk membuat alat diagnostik yang low-cost sehingga bisa diapplikasikan di negara berkembang seperti Indonesia. Selain saya tertarik dengan medical sensing, saya juga ingin belajar mengkomersialisasikan suatu penemuan sehingga dapat masuk ke pasar dan bermanfaat untuk orang lain,”urainya.
 
Thoriq juga  tertarik menjadi Research Commercialization Consultant yang membantu researcher untuk membawa research mereka ke dunia nyata. Ketertarikan dalam bidang ini ditunjukkan oleh ketertarikannya di bidang technopreneurship sehingga dirinya pun mengikuti program entrepreneurship NUS Overseas College, dan juga mengambil minor di bidang technopreneurship serta magang di start-up company.

LoA dan Was-Was
Untuk mendaftar dan mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) atau surat penerimaan di universitas top dunia, Thoriq harus berusaha memenuhi semua kriteria yang mereka canangkan.

Pertama, Thoriq harus mengisi form online berhalaman-halaman tentang pengalaman kuliah, kerja, dan penelitian, kemudian membuat essay tentang ketertarikannya melanjutakan studi di Cambridge University, bagaimana rencana  ke depannya, dan terakhir membayar 50 pounds untuk application fee-nya. “Untuk essay, saya meminta feedback dari teman yang sedang menempuh S3 di universitas saya,”ceritanya.

Selain itu cerita Thoriq, universitas juga membutuhkan recommendation letter dari Professor/Supervisor kerja. Karena selama masa studi S1 Thriq  full time magang 7 bulan di start up company bidang medical diagnostic AyoxxA biosystem GmbH dan  6 bulan di Keio-NUS CUTE Center, sebuah research center di NUS. Dan, Supervisor magangnya pun dengan sangat senang membuatkan rekomendasi untuk dirinya.

Setelah itu lanjut Thoriq, department akan mengevaluasi formulirnya dan akhirnya setelah dirinya lolos berkas, dia pundiminta untuk interview secara online. “Saat itu juga saya selalu memikirkan tentang pertanyaan apa yang akan mereka tanyakan kepada saya. Saya juga mengambil sesi mock interview di NUS career center. Pada saat interview, saya merasa tegang, tapi juga siap karena saya telah membuat 15 pertanyaan yang mungkin ditanyakan beserta jawabannya,”tuturnya.
 
Ternyata benar apa yang dipikirkan Thoriq. Hampir setengah dari pertanyaan yang dia  buat ditanyakan, sehingga dirinya cukup percaya diri dengan interview yang dilaluinya meski beberapa pertanyaan sangatlah sulit karena interviewer yang merupakan dua professor di Cambridge University menanyakan hal teknis dan selalu bertanya “why…” Dan, setelah Thoriq menjawabnya maka sang guru besar itu pun melanjutkan pertanyaan lagi diawali dengan “why…” dan “why..”Ini membuat Thoriq  tidak bisa menjawab pertanyaan yang berlangsung selama 30 menit.

Thoriq mengaku sempat was was karena ada pertanyaan “why” yang tidak bisa jawab.”Tapi dua hari kemudian, Alhamdulillah saya diemail dan dinyatakan mendapatkan offer dari University of Cambridge”,ujarnya.

Rupanya perjuangan belum selesai di sini karena universitas sekelas Cambridge mensyaratkan nilai IELTS minimal 7 untuk semua section. Sementara IELTS tahun lalu, khusus untuk writing, Thoriq cuma mendapatkan nilai 6.5. Thoriq kemudian harus belajar lagi untuk memenuhi language requirement tersebut.

NUS Sangat Kompetitif
Cerita lain dari Thoriq adalah ketika dia mendapatkan LoA dari MBA-PhD Double Degree di National University of Singapore. Program ini menurut Thoriq sangat kompetitif karena cuma ada 1-2 slot setiap tahunnya untuk masuk ke program dual degree tersebut.

Thoriq mengaku tertarik dengan Medical Sensing dan dirinya juga ingin belajar mengkomersialisasikan suatu penemuan sehingga dapat masuk ke pasar dan bermanfaat untuk orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan ketertarikannya di bidang technopreneurship sehingga Thoriq juga mengikuti program entrepreneurship NUS Overseas College, dan juga mengambil minor di bidang technopreneurship serta magang di start up company.

“Untuk melanjutkan ketertarikan saya dalam research and commercialization, saya mendaftar ke MBA-PhD Dual Degree National University of Singapore agar bisa mendapatkan technical dan business skills selama masa studi saya,”papar pria yang sejak Agustus 2011 hingga kini masih menempuh pendidikan di NUS.

Untuk mendapatkan LoA ini, sama seperti di Cambridge University, Thoriq mengisi formulir secara  online, recommendation letter, essay, dan application fee 20SGD. Namun ada tambahan essay tentang kenapa dirinya  mau mengambil program MBA dan bagaimana MBA saya dapat berperan kepada masyarakat.
Selanjutnya diinterview. Yang membedakan adalah program ini ada 4 interviewer dan salah satunya  dari NUS Business School, dan pertanyaan mereka bukan cuma di pertanyaan teknis dan motivasi, namun juga ke arah bisnis. Interview berlangsung selama 40 menit.

Karena tertarik ke komersialisasi dan bisnis, dan punya pengalaman internship di startup company, serta saya sudah sering interview untuk kerja dan pernah interview untuk Cambridge University maka Thoriq pun bisa memprediksi pertanyaan yang keluar. Thoriq pernah interview ke perusahaan konsultasn seperti BCG, IMS Health yang mana interviewnya berlangsung hingga 2 jam.

Lantas bagaimana hasilnya? “Alhamdulillah saya bisa dinyatakan lolos untuk program MBA-PhD Dual Degree ini,”ujarnya.

Prestasi
Jika mengambil LPDP, adalah penerima beasiswa dari pemerintah selama 11 tahun berturut-turut sejak SMA

Scholarship
Ministry of Finance Indonesia LPDP Scholarship Awardee PK34 2014-2015
• NASA (NUS Awards for Study Abroad) Exchange Scholarship 2012
• Ministry of Higher Education Indonesia ISO Scholarship 2011-2015
• Ministry of Religion Affairs Indonesia IC Scholarship 2008-2011


Awards

Merit Award, Student Design Competition Biomedical Eng Society Singapore (BES), May 14.

Bronze Award, Technical Presentation, Biomedical Engineering Society Singapore 7th Scientific Meeting,    May 13.
Third Prize of Ideas For Life 2013, Social Entrepreneurship Competition, NUS ECE and  NUS Enterprise.
Finalist of Innoventure 2013, Technopreneurship Competition, Faculty of Engineering NUS.
First Prize of Techlaunch 2012, Technopreneurship Competition, NUS Enterprise
Best Design Award, BN2203 Introduction to Biomedical Engineering Design, 2012Silver Medal Award, 22nd International Biology Olympiad (IBO) in Taipei, Taiwan   2011

Bronze Medal Award, 21st International Biology Olympiad in Changwon, South Korea 2010
Absolute Winner, 1st Gold Medalist and Best Theory of National Biology Olympiade 2010
Silver Medalist at National Biology Olympiade 2009

Publikasi di Konferensi (Penelitian)
SmartSail mobile, a System for Novice Sailor Using Mobile Computing, ACM SIGGRAPH ASIA 2014, Shenzhen China
Artificial Intelligence Model of Smartphone-Based Virtual Companion, ICEC International Conference of Entertainment Computing 2014, Sydney Australia
Design of SmartSail BLE, a sailing assisting system using mobile computing for novice sailor ACM SIGGRAPH ASIA 2014, Shenzen China
An Affective Telepresence System Using Smartphone High Level Sensing and Intelligent Behavior Generation, HAI Human Agent Interaction Conference 2014, Tsukuba Japan

Design of Unobtrusive Mental Stress Monitoring Device Using Physiological Sensor, WACBE World Congress on Bioengineering 2015, Singapore.



Seperti dikisahkan Thoriq Salafi via email kepada scholae.co, Jumat (17/4/2015)

 

Penulis : Farida Denura

Beasiswa Terbaru