Loading
Lebih dari seperempat universitas yang menanggapi survei belum mencatat penyalahgunaan AI sebagai kategori pelanggaran terpisah pada tahun 2023-24. (Foto: Maurice Norbert/Alamy/The Guardian)
Fenomena penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh mahasiswa di Inggris untuk keperluan akademik terus meningkat. Dalam setahun terakhir, hampir 7.000 kasus kecurangan terbukti dilakukan menggunakan alat seperti ChatGPT—dan para ahli menilai ini baru permulaan.
KECURANGAN akademik di lingkungan kampus Inggris kini memasuki babak baru: dari yang dulunya mengandalkan metode plagiarisme klasik, kini bergeser ke penggunaan AI generatif. Berdasarkan data terbaru hasil investigasi The Guardian, tercatat hampir 7.000 kasus pelanggaran akademik yang melibatkan AI pada tahun ajaran 2023–2024. Ini berarti ada 5,1 kasus per 1.000 mahasiswa, naik drastis dibanding tahun sebelumnya yang hanya 1,6 kasus.
Lebih mengejutkan lagi, tren ini belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Angka sementara hingga Mei 2024 memperkirakan lonjakan lebih lanjut menjadi 7,5 kasus per 1.000 mahasiswa.
AI Gantikan Plagiarisme Klasik
Sebelum teknologi AI generatif seperti ChatGPT menjadi umum digunakan, sebagian besar pelanggaran akademik terjadi karena plagiarisme tradisional. Namun, data menunjukkan tren tersebut kini menurun—dari 19 kasus per 1.000 mahasiswa pada 2019–2020, menjadi 15,2 pada 2023–2024, dan diprediksi turun lebih lanjut.
Menurut para pakar, ini menandakan bahwa metode kecurangan pun berevolusi. Mahasiswa tak lagi hanya menyalin teks dari internet, melainkan memanfaatkan AI untuk membantu menyusun, menyunting, bahkan "memanusiakan" tulisan agar tak terdeteksi alat deteksi AI milik universitas.
Tantangan Serius bagi Dunia Pendidikan Tinggi
Pakar akademik dari University of Reading, Dr. Peter Scarfe, mengingatkan bahwa kasus-kasus yang tercatat kemungkinan besar hanya "puncak gunung es". Ia menegaskan bahwa mendeteksi kecurangan berbasis AI jauh lebih sulit dibandingkan plagiarisme biasa.
"Detektor AI bisa memberi persentase kemungkinan, tapi hampir mustahil membuktikannya secara meyakinkan tanpa risiko menuduh mahasiswa secara keliru," ujarnya.
Hal ini membuat banyak universitas belum mampu menanggapi tantangan secara optimal. Dari 155 kampus yang diminta data oleh The Guardian, hanya 131 yang merespons, dan sebagian besar belum memisahkan pelanggaran AI sebagai kategori khusus.
Mahasiswa: AI Digunakan untuk Membantu, Bukan Menyalin Mentah
Beberapa mahasiswa mengakui menggunakan AI, namun mengklaim bahwa penggunaannya hanya sebatas membantu brainstorming, merangkum, atau menyusun struktur tulisan, bukan menyalin utuh.
"ChatGPT selalu saya gunakan sejak masuk kuliah, tapi saya tidak pernah menyalin langsung," kata Harvey*, mahasiswa tingkat akhir jurusan manajemen bisnis. "Saya mengolah kembali semua hasilnya agar tetap terasa personal."
Pandangan serupa juga diungkapkan Amelia, mahasiswa tahun pertama di jurusan bisnis musik. Ia menyebut AI sangat membantu mahasiswa dengan kesulitan belajar, seperti temannya yang disleksia.
Industri Teknologi dan Promosi AI untuk Mahasiswa
Menariknya, perusahaan teknologi juga ikut mendorong penggunaan AI di kalangan mahasiswa. Google, misalnya, menawarkan peningkatan fitur AI Gemini secara gratis selama 15 bulan untuk mahasiswa. Sementara OpenAI memberikan potongan harga untuk mahasiswa di AS dan Kanada.
Namun di sisi lain, platform seperti TikTok justru dipenuhi video tutorial cara "mengakali" deteksi AI menggunakan alat parafrase dan penulisan esai berbasis AI.
Dr. Thomas Lancaster dari Imperial College London menyebut, “Jika mahasiswa cukup cerdas dan tahu cara menyunting output AI, maka sangat sulit untuk membuktikan mereka menyontek. Tapi harapannya, mereka tetap belajar dari prosesnya,”menurut laporan The Guardian.
Solusi: Fokus pada Keterampilan Non-AI
Dengan semakin canggihnya teknologi, para pendidik didorong untuk tidak sekadar mengubah sistem penilaian menjadi tatap muka atau ujian hafalan. Sebaliknya, penekanan perlu dialihkan pada keterampilan yang tidak bisa digantikan AI, seperti:
Komunikasi interpersonal
Penyusunan argumen
Kemampuan berpikir kritis
Adaptasi teknologi
Pemerintah Inggris sendiri telah menyatakan komitmen untuk menyokong pendidikan masa depan, termasuk investasi lebih dari £187 juta dalam program keterampilan nasional dan panduan pemanfaatan AI di institusi pendidikan.