Loading
Setiap kali kalender sekolah memasuki masa penerimaan mahasiswa baru seperti yang terjadi saat ini, urusan bimbingan belajar pun sering muncul. Peran sekolah, walaupun belum tergantikan, kian tersaingi oleh maraknya lembaga bimbel. Perlukah?
Ketika diumumkan lulus tidaknya para siswa maka bagi yang lulus ujian, biasanya akan memfokuskan diri untuk belajar demi menerobos SPMB untuk PTS dan untuk PTN saat ini dikenal dengan nama Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)
Berbagai cara ditempuh pengelola Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) untuk menarik calon siswa. Promosi pun makin gencar saja dilakukan, mulai dari menyebar brosur yang memuat jumlah siswa tahun tertentu yang diterima pada beberapa PTN di Indonesia, memberi jaminan dengan pencapaian skor tertentu pasti bias lolos di program studi tertentu, hingga memajang foto orang yang diketahui duduk di kepanitiaan SNMPTN.
Peran sekolah, walaupun belum tergantikan, kian tersaingi oleh maraknya lembaga bimbel. Lembaga Bimbel kini semakin kreatif dan variatif dalam memberikan pelayanan kepada siswa serta memahami kebutuhan siswa. Aspek yang belakangan semakin terlupakan di sekolah formal, seperti relasi antara guru dan siswa, bahkan mulai terpenuhi di lembaga bimbel.
Kini, masuk bimbel telah menjadi trend sejak pertengahan tahun 1990-an. Dari zaman sebelum tahun 1990, nama Bimbingan Belajar Siky Mulyono mulai dikenal. Bimbel ini begitu agresif memperkenalkan lembaganya sebagai tempat bimbel yang berhasil membawa peserta kursus masuk PTN terkemuka di Indonesia, promosi yang dilakukan memang luar biasa. Pengelola bisnis kursus pelajaran sekolah tersebut tahu benar masalah yang satu ini mulai dari tak percaya dirinya para orangtua terhadap pembelajaran di sekolah.
Promosi lain dalam upaya merebut calon siswa sebanyak-banyaknya ditempuh misalnya oleh sebuah bimbel cukup ternama di Jakarta dengan cara memasang foto pemilik Bimbel dengan seorang profesor di sebuah PTN cukup ternama dipajang di bagian depan kantor lembaga tersebut.
Bimbingan Belajar SALEMBA sendiri didirikan sejak tahun 2003 oleh para alumni Universitas Indonesia yang peduli akan pendidikan yang berkualitas. Program Belajar SALEMBA ditujukan secara khusus bagi siswa SLTA dan alumni yang ingin melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia dan secara umum juga ditujukan bagi siswa SD dan SMP yang akan melanjutkan ke sekolah (SMP/SMA) Unggulan sebagai langkah awal menuju Universitas Indonesia yang merupakan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit di Indonesia.
Dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas layanan, seperti dijelaskan pendiri SALEMBA, Endy Yunar Syah, mulai tahun ajaran baru 2009/2010, SALEMBA memposisikan diri sebagai e-Bimbel yang menggunakan layanan pembelajaran multimedia berbasis komputer dan internet. Untuk saat ini layanan e-Bimbel baru dapat diniikmati oleh siswa 10, 11, 12 SLTA dan alumni yaitu berupa penggunaan CD Belajar Interaktif secara mandiri di rumah, lengkap untuk semua pelajaran yang diujikan pada SNMPTN dan SIMAK UI. Selain itu e-Bimbel SALEMBA juga menggunakan internet sebagai fasilitas e-learning SIMAK UI di SIMAKUI.COM pada www.simakui.com dan fasilitas komunitas belajar online yang didukung oleh Microsoft Indonesia melalui Live@edu di www.slc.salemba.co.id.
Lain lagi cerita soal Bimbel Ganesha Operation (GO). Bimbel ini punya standar harga berbeda. Dengan metode pengajaran penyelesaian soal secara cepat dan mudah dimengerti, GO menawarkan staf pengajar dari PTN terkemuka. Biaya pendidikan juga bervariasi, mulai dari Rp 850 ribu-2 juta, bahkan sampai Rp 8 juta.
Ganesha Operation didirikan di Kota Bandung. Seiring dengan perjalanan waktu, berkat keuletan dan konsistensinya dalam menjaga kualitas, kini Ganesha Operation telah tumbuh bagai remaja tambun dengan 411 outlet yang tersebar di 140 kota besar se Indonesia. Latar belakang pendirian lembaga ini adalah adanya mata rantai yang terputus dari link informasi Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dengan dunia Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Posisi inilah yang diisi oleh Ganesha Operation untuk berfungsi sebagai jembatan dunia SLTA terhadap dunia PTN mengenai informasi jurusan PTN (prospek dan tingkat persaingannya), pemberian materi pelajaran yang sesuai dengan ruang lingkup bahan uji seleksi penerimaan mahasiswa baru dan pemberian metode-metode inovatif dan kreatif menyelesaikan soal-soal tes masuk PTN sehingga membantu para siswa lulusan SLTA memenuhi keinginan mereka memasuki PTN.
Bimbel Quantum Institute (QUIN) yang berkantor pusat di kawasan Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, misalnya, punya program khusus mengejar nilai ulangan harian, menghadapi ujian sekolah dan UN, hingga lolos masuk PTN. Quin juga menawarkan program spesial untuk siswa kelas XII berbiaya Rp 15 juta. Di sini, peserta mendapatkan garansi masuk PTN. Jika peserta gagal, mereka akan mengembalikan sebagian biaya bimbel (minimal separuhnya).
Bimbel Primagama yang didirikan Purdi E. Chandra, sekarang ini peserta bimbel di lembaganya tak hanya dimonopoli siswa SMA, tetapi juga siswa SD. Dibandingkan dengan pembelajaran di sekolah, bimbel mempunyai daya tarik tersendri. Metode dan tekniknya berbeda serta jumlah siswa dibatasi maksimal 20 orang per kelas sehingga siswa mendapatkan perhatian yang cukup dari guru.
Untuk menarik siswa Primagama menawarkan pengajar berpengalaman, konsep pengajaran REC (perbaikan, pengayaan, bimbingan), metode belajar smart solution, dan sarana belajar yang lengkap. Biaya pendidikan bergantung pada cabangnya. Primagama kini telah berkembang menjadi tempat Bimbel terkemuka di Indonesia dan kini telah memiliki sekitar 350 cabang di seluruh Indonesia dan menampung sekitar 1 juta siswa.
Bimbel diatur dalam Undang-Undang No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu pendidikan sekolah dan luar sekolah. Satuan pendidikan luar sekolah meliputi kursus/lembaga pendidikan keterampilan dan bimbingan belajar. Aturan bimbel pun sama dengan kursus.
Jadi, sudah jelas Bimbel sebenarnya hanya sarana untuk mengajak siswa mau belajar keras, namun tanpa siswa paham benar ilmunya maka akan sia-sia. Mau ikut SNMPTN, atau ingin mendapat mendapat nilai kelulusan tinggi, maka Anda perlu ikut Bimbel. Keputusan memang ada di tangan Anda. Selamat mencoba!
Ketika Hendak Memilih Bimbel
Bimbel sebetulnya cukup positif dan bisa menjadi solusi bagi siswa yang memiliki keterbatasan tertentu. Misalnya, anak yang lemah di mata pelajaran tertentu akan sangat terbantu bila mendapat pengajaran intensif secara individual dari guru khusus yang tidak mungkin didapat dari ruang belajar di sekolah
Petunjuk berikut dapat membantu Anda ketika hendak memilih bimbel. Anda simak!
Luangkan waktu untuk melakukan survei sekaligus menimbang-nimbang setidaknya tiga bimbel.
Jangan segan-segan untuk bertanya pada orangtua yang mengikutsertakan anaknya di bimbel-bimbel tersebut.
Gali perasaan si anak apakah ia senang atau tidak belajar di situ.
Perhatikan ketersediaan tools atau alat bantu belajar.
Apakah benar-benar berguna dan dimanfaatkan dengan baik atau tidak.
Cari tahu dari lingkungan sekeliling bagaimana cara/metode guru di bimbel tersebut mengajar.
Selain itu, Anda juga perlu pertimbangkan juga latar belakang pendidikannya maupun target yang ingin dicapainya terhadap anak Anda.
Cermati juga apakah bimbel tersebut memberikan edukasi kepada para orangtua murid.
Di antaranya memberi sejumlah masukan bagaimana menstimulasi/membimbing anak belajar di rumah.
Jangan lupa, ukur pula kemampuan finansial Anda, sanggup dan relevankah mengeluarkan sejumlah biaya untuk ‘membeli’ kualitas, sarana dan prasarana yang disediakan bimbel tersebut. Terakhir, lokasi bimbel hendaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Selamat mencoba dan sukses untuk Anda!
Sumber: Harian sore Sinar Harapan