Selasa, 27 Januari 2026

Universitas Asing Gencar Promosi di Indonesia


  • Penulis Farida Denura
  • Senin, 19 Maret 2012 | 00:00
  • | Fokus
 Universitas Asing Gencar Promosi di Indonesia
Berbagai negara ramai-ramai menyelenggarakan pameran pendidikan tinggi guna menarik minat calon mahasiswa asal Indonesia. Even yang akan digelar misalnya Pameran Pendidikan Tinggi Eropa. Benarkah Indonesia merupakan pasar penting dan bagaimana dengan eksistensi perguruan tinggi di dalam negeri?

Promosi universitas asing di Indonesia kian gencar dilakukan. Ada pameran pendidikan tinggi Amerika Serikat dan pameran pendidikan Jepang, yang belum lama dihelat di Jakarta. Ada juga pameran pendidikan Eropa atau European Higher Education Fair (EHEF), terbesar yang akan berlangsung 12-13 November 2011 di Jakarta Convention Centre (JCC) dan 15 November 2011 di  Medan.
    
Akhir Oktober lalu misalnya, sebanyak 28 perguruan tinggi terkemuka dari sembilan negara meramaikan pameran pendidikan yang digelar oleh Vista Education Service di Hotel Mulia Jakarta. Keduapuluh delapan perguruan tinggi itu berasal dari negara Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, Selandia Baru, Swiss, Singapura, Malaysia dan Cina.
    
Pameran Pendidikan Tinggi Eropa sebagaimana dijelaskan Peter Maher, Delegaation of the EU, Head of Cooperation Section, Kamis (10/11) di Jakarta, merupakan pameran terbesar di Indonesia, setelah sukses menggelar pameran sertupa pada tahun  2008 dan 2010.
    
EHEF kata Maher merupakan pameran pendidikan Eropa terbesar di Indonesia yang menghadirkan beragam peluang untuk mendapatkan pendidikan tinggi berkualitas di Eropa kepada pelajar dan profesional di Indonesia.
    
Dijelaskan Maher, tahun ini EHEF di Jakarta akan diramaikan oleh 96 institusi pendidikan tinggi, 14 dari kedutaan besar beberapa negara Eropa, dan sisanya merupakan perwakilan dari universitas terkemuka di negara-negara Eropa. Negara Eropa yang hadir meramaikan pameran ini adalah Inggris, Belanda, Jerman, Swedia, Hungaria, Irlandia, Spanyol, Belgia, Italia, dan sejumlah negara lainnya.
    
Julian Wilson, Duta Besar/Kepala Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam dan ASEAN mengatakan,” UE dan negara anggotanya berkomitmen untuk memberikan akses bagi siswa dan para profesional di Indonesia yang ingin melanjutkan peluang studi terbaik yang ada di seluruh wilayah Eropa. Eropa menawarkan standar akademis tertinggi, program bergelar internasional yang sangat bervariasi, fasilitas riset terkini, serta budaya yang unik dan peluang berbahasa yang beragam.
    
Komitmen UE dalam memastikan tersedianya akses bagi warga Indonesia terhadap peluang studi terbaik, tercermin dari 1000 beasiswa yang diberikan tiap tahun akademik oleh UE dan negara anggotanya, termasuk 120 beasiswa Erasmus Mundus yang diberikan tahun ini. Jumlah penerima beasiswa Erasmus Mundus asal Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara dan nomor tujuh tertinggi di dunia. Hal ini menurut Maher, menunjukkan hubungan strategis yang kuat antara Indonesia dan UE.
    
Universitas yang berpartisipasi dalam pameran kali ini akan memberikan informasi termasuk mengenai beasiswa, kepada para siswa dan profesional Indonesia yang berminat terhadap pendidikan di Eropa yang terkenal akan standar akademis yang tinggi, beragam program bergelar internasional, fasilitas riset terkini, serta keberagaman budaya yang mengesankan, bahasa, dan lembaga sosiaL.
    
EHEF 2011 diselenggarakan oleh UE bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dan didukung oleh British Council (Inggris), CampusFrance (Prancis), DAAD (Jerman), dan Nuffic Neso (Belanda).

Pasar Asing
Indonesia yang memiliki jumlah penduduk mencapai 259, 9 juta jiwa merupakan pangsa pasar terbesar untuk perguruan tinggi asing. Pertanyaan yang muncul, begitu pentingkah mahasiswa Indonesia untuk belajar di perguruan tinggi mereka?
    
Pakar branding, Amalia E. Maulana, Ph.D dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu sebagaimana dikutip Antara, mengkhawatirkan gencarnya promosi universitas asing di Indonesia belakangan ini makin mengancam eksistensi perguruan tinggi swasta di Indonesia seperti tampak dalam iklan mereka di berbagai media yang mengundang calon mahasiswa untuk menghadiri pameran pendidikan tinggi luar negeri. PTS (Perguruan Tinggi Swasta) kata dia, bisa makin terdesak.
    
Menurut Amalia, selain persaingan di antara lebih dari 2.600-an PTS sendiri, PTS juga terancam oleh perguruan tinggi negeri yang membuka berbagai program masuk universitas negeri yang dosen dan fasilitasnya dibiayai negara.
    
Apa yang dikatakan Amalia itu sejalan dengan pernyataan yang pernah disampaikan Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Suharyadi.
    
Beberapa waktu lalu, Suharyadi pernah mengatakan bahwa banyak PTS kekurangan peminat calon mahasiswa. "Mereka sampai kalang kabut mencari mahasiswa yang mau masuk kampusnya," tutur Suharyadi.
     
Amalia mengatakan perguruan tinggi tertentu tak terpengaruh, khususnya perguruan tinggi dengan reputasi baik.
    
"Mereka bisa tetap berkibar dan mampu menarik minat banyak calon mahasiswa baru. Ini terjadi karena pengelola perguruan tinggi itu berhasil mentransformasikan konsumen dari sekadar teman (just friends) menjadi `sahabat kental atau kekasih` (soul mates) berkat `branding` yang bagus," kata Amalia yang juga Direktur Etnomark Consulting itu.
    
Karena itu, Amalia menyarankan agar manajemen perguruan tinggi tidak memberlakukan mahasiswa sebagai sekadar "produk". "Pendidikan tinggi bersifat unik dan kompleks," kata ibu tiga anak itu,
    
Manajemen PTS harus secara terus-menerus memastikan kepuasan pelanggan tercapai pada setiap tahapan interaksi dengan universitas. Dalam arti luas, kepuasan itu sesungguhnya merupakan modal perguruan tinggi untuk menciptakan `getok-tular` dari mulut ke mulut (word-of-mouth) yang positif dari satu orang kepada orang lain.
    
"Pelanggan yang puas dalam berinteraksi dengan `brand` akan secara perlahan meningkatkan keterikatan hubungannya dengan `brand`. Jika kedekatan `customer-brand` sudah mencapai tingkat `soul mates`, maka `brand` perguruan tinggi itu akan selalu diusungnya," kata Amalia.
    
Sejalan dengan Amalia, Direktur Marketing dan Public Relations Universitas Paramadina, Syafiq Basri Assegaff, mengatakan bahwa saat ini "getok-tular" bukan hanya terjadi dalam bentuk "word of mouth" (kata dari mulut), melainkan juga "word of mouse" (kata di komputer).
    
Mahasiswa dan calon mahasiswa menyampaikan kesan dan pesan mereka melalui "mouse" komputer jaringan media sosial seperti "facebook", "mailing list", "blog", dan twitter yang belakangan makin ramai, katanya.
     
Itu sebabnya, kata Syafiq, kini perguruan tinggi dituntut meningkatkan mutunya dari waktu ke waktu.
    
Amalia berpendapat bahwa pengelola perguruan tinggi juga mesti menunjukkan komitmen yang tinggi misalnya melalui tekad untuk merekrut tenaga pemasaran profesional yang handal, dan memberikan tugas dan tanggung jawab yang lebih strategis, jangka panjang, yang berkaitan dengan "brand management".
     
Meski bukan hal yang mudah, menurut Amalia, pengelola perguruan tinggi harus bisa memadukan dua tujuan, yaitu "social marketing" (pemasaran sosial) dan "profit marketing" (pemasaran menghasilkan untung).
    
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, angka partisipasi aktif perguruan tinggi saat ini baru 18 persen. Secara kebutuhan, hal itu masih tinggi sehingga banyak perguruan tinggi baru yang muncul untuk memenuhinya.
    
“Secara otomatis, peluang itu juga dibaca oleh instansi pendidikan di luar negeri, apalagi regulasi pemerintah sekarang mengikuti perkembangan globalisasi yang membuka peluang itu lebar-lebar,” ujar Rektor Universitas Bina Nusantara Prof Dr Harjanto beberapa waktu yang lalu.
    
Sementara itu, menurut Humas Universitas Indonesia, Vishnu Juwono, fenomena tersebut saat ini merupakan konsekuensi dari globalisasi di dunia pendidikan. Dia mengatakan, UI sudah siap menghadapi kondisi tersebut dengan membuktikan diri lewat berbagai prestasi yang diraihnya sebagai peringkat 5 besar di Asia Tenggara dan 34 besar Asia.
    
“Ini sesuatu yang wajar dan kita mau tak mau memang harus menghadapi persaingan itu,” tambah Vishnu beberapa waktu yang lalu. So, globalisasi memang menuntut semua perguruan tinggi terus berbenah diri dan meningkatkan daya saing! Jadi, tunggu apa lagi? 

Sumber: Harian sore Sinar Harapan





Penulis : Farida Denura

Fokus Terbaru