Loading
Orang tua sedang membimbing anak
Pendidikan merupakan tanggungjawab antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah, sehingga orangtua tidak boleh menganggap bahwa pendidikan anak hanyalah tanggungjawab sekolah. Orangtua, penentu sukses pendidikan anak.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan, orangtua menjadi penentu sukses tidaknya anak, namun jika bicara kesiapan orangtua dalam mendidik anaknya tentu saja paling tidak siap.
"Orangtua paling tidak siap jika berbicara pendidikan anaknya," kata Anies Baswedan pada Dzikir Nasional yang ke-13 di Masjiod At Tin Jakarta Timur, Kamis malam seperti dikutip Antara.
Hadir pada acara tersebut Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dasar dan Menengah Anies Baswedan, Menteri Perdagangan Rahmat Gobel, mantan Ketua PB NU KH Hasyim Muzadi, AM Fatwa, KH Yusuf Mansur, Muzamil Basyuni, Wakil Ketua 1 Pelaksana Harian Masjid At-Tin,HM. Sutria Tubagus dan sejumlah tokoh agama lainnya.
Ia mengatakan, pendidikan bagi seorang anak tidak sekedar melahirkan kepandaian. Tetapi muaranya adalah menghasilkan anak berakhlak mulia. Untuk mencapai anak yang berakhlak mulia itu tidak melulu harus lewat lisan, tulisan tetapi lebih penting adalah melalui keteladanan orangtua.
Anies menyebut contoh barang dan peralatan bawaan jemaah masjid At Tin yang diminta oleh panitia penyelenggara agar ditempatkan di muka atau di hadapan jemaah. Maksudnya, agar barang bawaan jemaah tidak diambil atau berpindah tangan kepada pihak yang tak bertanggung jawab. Dengan kata lain, untuk menghindari copet.
Mengapa hal itu sampai diumumkan. Tidak lain karena ketidakjujuran dan merosotnya ahlak belakangan ini sudah menjadi keprihatinan berbagai pihak. Dan, dalam acara dzikir nasional yang dikaitkan pula dengan pergantian tahun baru, menurutn dia, sudah sepantasnya semua pihak melakukan perenungan, introspeksi atau melakukan koreksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan diri sendiri. Mawas diri sangat diperlukan. Untuk itu, kembali pada pendidikan yang menjadi peranan.
"Sudahkah kita menghasilkan anak terdidik. Berakhlak mulia dan jujur," tanya Anies.
Mendidik anak berakhlak mulia, khususnya yang berkaitan erat dengan kejujuran, menurut dia, tidak dibutuhkan terori yang muluk atau rumit. Contoh simpel, jika anak pada saat puasa di bulan Ramadhan bermain bola kemudian kembali ke rumah minta minum pada orangtuanya. Orangtua harus memposisikan bersikap bijak. Dengan mengatakan, misalnya, boleh minum namun pada puasan hari berikutnya diingatkan anak bersangkutan tak lagi bermain bola.
Anak yang terus terang minta izin minum tadi, menurut Anies, menunjukan diri sebagai orang jujur. Hal itu harus diapresiasi. Padahal, jika si anak mau minum tanpa minta izin orangtua pun bisa dilakukan saat itu juga.
"Jika saja setiap rumah sudah menghasilkan anak jujur, ke depan, bangsa Indonesia akan jujur dimana pun bermukim. Negeri ini bisa melahirkan orang jujur," kata Anies lagi.
Peran Orangtua
Orangtua memiliki peran yang sangat besar dalam proses tumbuh kembang anak. Cara dan gaya yang digunakan orangtua untuk mendidik anak akan menentukan sebarapa baik konsep diri anak. Semakin baik konsep diri anak, maka semakin mudah anak untuk mencapai kesuksesan yang ia inginkan dalam hidup di masa depan dan begitu juga sebaliknya.
Konsep diri memiliki peran sampai 88% dalam mengatur kehidupan seseorang. Sayangnya, banyak orangtua yang tidak mau repot dan menggunkan cara lama, meneruskan gaya dan cara orangtua mereka dalam mendidik anak, yang tentu tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman saat ini.
Buruknya konsep diri seorang anak akan mempengaruhi prestasi belajar mereka di sekolah. Memberikan les tambahan atau cara-cara yang diyakini bisa meningkaktan prestasi belajarnya tidak akan maksimal jika konsep diri anak tidak ditingkatkan. Dengan meningkatnya konsep diri anak, maka secara perlahan prestasi belajar mereka juga akan meningkat.
Adalah menjadi tugas dan tanggung jawab orangtua untuk mendukung anak menjadi pribadi yang lebih unggul dalam kehidupan. Berperan dengan baik sesuai dengan sikon, kepribadian anak, perkembangan jaman maka Anda bisa mendapatkan apa yang Anda inginkan dalam diri anak.
Peran seperti apa yang harus Anda mainkan untuk membantu anak bertumbuh menjadi pribadi yang unggul terutama dalam meningkatkan prestasi belajar anak di sekolah? Peran yang harus dimainkan orangtua untuk mendukung meningkatkan prestasi belajar anak baik di sekolah maupun dalam kehidupan:
Pertama, Menjadi Teladan
. Sadar atau tidak, Anda telah menjadi teladan bagi anak. Saat anak mulai belajar berbicara, mereka belajar dengan meniru apa yang Anda lakukan dan katakan. Bagaimana cara Anda berjalan, makan, bertutur kata, menanggapi pendapat orang lain dan tindakan Anda secara keseluruhan akan direkam dan ditiru oleh anak.
Kedua, Menjadi Sahabat
. Dengan berperan sebagai sahabat, maka Anda bisa dengan mudah mengetahui apa yang sebenarnya anak rasakan dan pikirkan, bagaimana pergaulanya, kemana anak perlu diarahkan, dan apa yang perlu anak miliki untuk bisa mengatasi masalahnya.
Ketiga, Pemberi Perhatian dan Kasih Sayang
. Perhatian orangtua terhadap anak memiliki peran yang sangat besar dalam membantu anak siap secara mental dan emosi untuk mau belajar di sekolah.
Dengan memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak secara berkelanjutan dan konsisiten. Perhatian yang Anda berikan akan membuat mereka lebih siap untuk belajar dan tentu memudahkan mereka memahami pelajaran di sekolah.
Keempat, Menjadi Mentor
. Menjadi mentor berarti Anda telah mengetahui apa yang akan anak lewati. Di mana anak harus berjalan cepat dan lambat. Rute mana yang tidak bisa dilewati. Saat ada masalah, solusi apa yang anak bisa terapkan dan bagaimana menerapkannya. Dari setiap perjalanan nilai apa yang harus anak pegang dan skill apa yang harus anak miliki agar lebih siap menghadapi kehidupan.
Anda pun bisa memberikan saran-saran yang sesuai dengan kebutuhan anak. Tidak terlalu memaksakan kehendak dan memberikan kebebasan dalam anak mengambil keputusan untuk diri mereka sendiri. Dengan catatan, mereka mampu bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.
Para orangtua juga harus mengetahui bagaimana cara belajar yang efektif untuk anak. Apakah cara berlajar yang ia terapkan di sekolah sudah sesuai dengan tingkat perkembangan jaman atau Anda perlu memberikan cara belajar yang lebih efektif agar anak tidak terlalu banyak mengeluh untuk proses belajar mereka.
Ini sangat penting untuk Anda ketahui, karena banyak orangtua di luar sana hanya sibuk menyekolahkan anak, memberikan les tambahan, ikut serta dalam kegiatanekstrakulikuler yang banyak yang membuat anak mengeluh karena lelah dan merasa kekurangan waktu untuk diri mereka sendiri. Bukanya orangtua mencari tahu cara belajar yang lebih efektif untuk mengatasi keluhan anak.
Sumber: Harian Sore Sinar Harapan