Program manajemen berbasis sekolah di Sekolah Satu Atap (SATAP) adalah program yang digalakkan Pemerintah Indonesia pada tahun 2005 demi membuka peluang bagi anak-anak yang kurang beruntung untuk mengecap pendidikan sekolah menengah pertama.
Sekolah SATAP terdiri dari sekolah dasar (kelas 1-6) dan sekolah menengah pertama (kelas 7-9) yang berada dalam satu komplek, biasanya dengan membangun ruang kelas tambahan untuk menampung mereka yang berada di kelas selanjutnya. Sekolah seperti ini dimaksudkan untuk membantu peralihan dari pendidikan tingkat sekolah dasar ke sekolah menengah pertama agar lebih mudah dan terjangkau dari sisi pembiayaan.
Pada daerah terpencil, terpencar dan terisolir yang sulit dicapai, umumnya SMP belum didirikan atau jika sudah ada maka SMP tersebut berada di luar jangkauan lulusan SD setempat. Jumlah lulusan SD di daerah dengan kondisi seperti itu umumnya relatif sedikit, dengan demikian pembangunan Unit Sekolah Baru SMP dipandang tidak efisien.
Namun demikian, di lain pihak di daerah tersebut biasanya merupakan daerah-daerah di mana APK SMP masih rendah dan merupakan kantong anak-anak yang belum memperoleh layanan pendidikan SMP atau yang sederajat. Salah satu cara yang bisa dilakukan pada daerah dengan ciri seperti tersebut di atas adalah dengan mendekatkan SMP ke lokasi konsentrasi anak-anak yang belum mendapatkan layanan pendidikan SMP dengan mengembangkan Pendidikan Dasar Terpadu di SD yang sudah ada atau bisa disebut sebagai SD-SMP Satu Atap. Pengembangan SD-SMP Satu Atap ini menyatukan lokasi SMP dan lokasi SD dengan memanfaatkan berbagai sumberdaya dan sarana prasarana yang ada pada SD yang telah ada tersebut.
Tujuan umum dari program ini seperti dikutip dari laman http://www.psmp.web.id adalah mempercepat penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun dan meningkatkan mutu pendidikan dasar. Sedangkan tujuan khususnya adalah: Memperluas layanan pendidikan dasar atau meningkatkan daya tampung SMP pada daerah terpencil, terpencar dan terisolir guna menunjang tercapainya penuntasan wajar pendidikan dasar 9 tahun. Mendekatkan SMP dengan SD pendukungnya, serta memberikan kesempatan dan peluang bagi anak untuk melanjutkan pendidikannya, serta meningkatkan partisipasi masyarakat.
Sementara sasaran program pengembangan SD-SMP Satu Atap dengan dana dari APBN Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini adalah SD negeri di daerah terpencil, terpencar dan terisolir yang memenuhi syarat berdasarkan hasil analisis dan verifikasi Dinas Pendidikan Propinsi atas usulan Disdik Kabupaten, serta ditetapkan oleh Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Ditjen Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sasaran program block grant pembangunan SD-SMP Satu Atap adalah sekolah menengah pertama yang memenuhi syarat serta ditetapkan oleh Direktur Pembinaan SMP Ditjen Pendidikan Dasar berdasarkan usulan dari Pemerintah Kabupaten/ Kota. Pada tahun anggaran 2013 lalu Direktorat Pembinaan SMP merencanakan alokasi pembangunan 147 SD-SMP Satu Atap dengan unit cost untuk masing-masing unit sebesar Rp 811.900.000,- untuk memenuhi kebutuhan pengembangan SD SMP satu atap di seluruh Indonesia, dengan prioritas sasaran pada propinsi dan kabupaten dengan APK dibawah rata-rata nasional.
Kemitraan Berkualitas
Tanoto Foundation dan UNICEF Indonesia pada Kamis (12/2) lalu di Jakarta mengesahkan program kemitraan untuk mendukung penerapan program manajemen berbasis sekolah di Sekolah Satu Atap (SATAP) di Bondowoso, Jawa Timur, dan Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Tanoto Foundation memberikan dana hibah sebesar US$ 100,000 (atau sekitar Rp 1.26 miliar) untuk program kerjasama ini untuk membantu mengembangkan sekolah-sekolah SATAP, meningkatkan kapasitas guru-guru dalam melaksanakan pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM), dan mengurangi jumlah anak tidak sekolah. . Perjanjian kerja sama tersebut ditandatangani oleh perwakilan dari kedua organisasi tersebut di kantor Tanoto Foundation, di Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat.
SATAP adalah program yang digalakkan Pemerintah Indonesia pada tahun 2005 demi membuka peluang bagi anak-anak yang kurang beruntung untuk mengecap pendidikan sekolah menengah pertama. Sekolah SATAP terdiri dari sekolah dasar (kelas 1-6) dan sekolah menengah pertama (kelas 7-9) yang berada dalam satu komplek, biasanya dengan membangun ruang kelas tambahan untuk menampung mereka yang berada di kelas selanjutnya. Sekolah seperti ini dimaksudkan untuk membantu peralihan dari pendidikan tingkat sekolah dasar ke sekolah menengah pertama agar lebih mudah dan terjangkau dari sisi pembiayaan.
"Kami menyambut baik kerjasama ini. Tanoto Foundation adalah yayasan yang berkonsentrasi pada pengentasan kemiskinan melalui pendidikan yang berkualitas," ujar Sihol Aritonang, Ketua Pengurus Tanoto Foundation
"Melalui kemitraan dengan UNICEF, yang juga memiliki reputasi yang sangat baik dalam dukungannya terhadap pendidikan di Indonesia, kami ingin menyentuh lebih banyak lagi siswa-siswa sekolah dasar dan menengah di daerah dan membawa perubahan yang berarti. Pada tahun 2012, Angka Partisipasi Murni tingkat SD sudah mencapai 95.6% sedangkan APM untuk SMP masih 77.7%. Ini yang merupakan tantangan karena masih ada 1,6 juta anak usia 13-15 tahun yang tidak bersekolah di tingkat SMP. Satu juta diantaranya berada di daerah pedesaan. Tanoto Foundation mencoba membantu memecahkan masalah ini dan sangat senang bisa ikut mendukung replikasi program SATAP di 11 sekolah binaan kami yang tersebar di Riau dan Jambi," ia menambahkan.
Dukungan finansial ini akan digunakan oleh UNICEF untuk advokasi terhadap penentu kebijakan pendidikan di daerah, pihak pengelola sekolah SATAP, serta masyarakat sekitarnya. UNICEF juga akan melatih tenaga pendidik di sekolah SATAP, serta membantu menguatkan kapasitas pemerintah daerah dalam merencanakan dan mengelola program SATAP.
"Kami berharap inisiatif bersama ini dapat menjadi basis bagi kerjasama lainnya antara UNICEF dan Tanoto Foundation di masa depan untuk mengembangkan kemitraan yang bernilai tinggi dan dengan cakupan yang luas agar kita dapat memberikan hasil yang lebih berdampak bagi anak-anak Indonesia," ujar Gunilla Olsson, Perwakilan UNICEF di Indonesia.
Kemitraan antara UNICEF dengan Tanoto Foundation ini akan berlangsung untuk tahun 2015.
Sumber: Harian Sore Sinar Harapan