Sehat, Dimulai Dari Sekolahmu


  • author
  • Penulis Farida Denura
  • Selasa, 24 Maret 2015 | 00:00 WIB
  • | Fokus
Sehat, Dimulai Dari Sekolahmu FINALIS - 40 finalis yang terbagi dalam 10 tim Dokter Kecil–Mahir Gizi 2014 Tingkat Nasional senam 10 Tanda Umum Anak Bergizi Baik secara serempak. Pemenang Dokter Kecil – Mahir Gizi 2014 Tingkat Nasional diraih SD Negeri 3 Sedayu Jogjakarta. (Foto: Ist)
Kementerian Kesehatan RI dan Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah bersepakat dan akan saling mendukung untuk mewujudkan sekolah menjadi tempat pembelajaran hidup sehat, dan unit sekolah merupakan unit yang bisa mengubah perilaku.
    

Hal ini diungkapkan Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Anies Rasyid Baswedan Ph.D, kepada sejumlah media usai pertemuannya dengan Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), di Jakarta (27/1) lalu.
   
"Kita membicarakan bagaimana pendidikan itu juga termasuk di antaranya mendidik masyarakat untuk hidup sehat, ujar Mendikbud.
   
Pertemuan dua kementerian tersebut membahas beberapa hal, di antaranya peran Unit kesehatan Sekolah (UKS), guru dan siswa dalam mewujudkan hidup sehat di sekolah.
     
"Kita bicarakan tadi soal Unit Kesehatan Sekolah, kita bicarakan juga soal hidup sehat untuk guru kemudian untuk anak-anak lalu juga kita bicara soal bagaimana mengelola sekolah menengah kejuruan yang menyangkut kesehatan," tuturnya.
   
Kepada media, Mendikbud mengakui kesehatan itu penting dan dapat berpengaruh terhadap pendidikan. Karena itu, pihaknya menyatakan bahwa mulai tahun ajaran baru mendatang, revolusi mental dalam kehidupan sekolah harus diterapkan.
   
Studi menunjukkan bahwa 30-40% anak-anak kita itu masuk ke sekolah dengan tidak sarapan terlebih dahulu. Jika anak-anak kita belajar tanpa ada asupan kalori dan nutrisi yang cukup, bagaimana mungkin ia bisa belajar dengan baik, katanya.
   
Selaras dengan hal tersebut, Menkes RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) menuturkan pentingnya perilaku sehat di sekolah didasarkan atas pemikiran bahwa anak-anak sejak pagi hingga siang atau bahkan sore hari, lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah.
   
Padahal, setiap tiga jam seharusnya anak-anak mendapatkan intake makanan. Itu sederhana sebenarnya, tetapi penting sekali.  Selain itu, antara pagi hingga sore anak-anak itu seringkali tidak melakukan gerakan fisik apalagi berolah raga, tandas Menkes.
   
Untuk itu, Menkes sangat mengharapkan agar peran UKS di sekolah dapat dihidupkan kembali. Di dalam UKS itu ada kantin sehat, sanitasi air bersih. Setiap sekolah harusnya ada, harap Menkes.
   
Para guru di sekolah merupakan figur yang seringkali menjadi contoh oleh para siswa. Karena itu, hendaknya para guru senantiasa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sehingga dapat menjadi teladan yang tepat dalam menumbuhkan nilai-nilai kesehatan bagi para siswa.
   
“Kami sangat mengharapkan guru-guru dapat berperilaku sehat agar dicontoh oleh anak-anak muridnya,” ujar Menteri Kesehatan RI.
   
Menkes mengungkapkan harapannya adalah mewujudkan etika perilaku sehat masyarakat. Hal ini tentu diawali dari anak-anak, dibiasakan oleh orang tuanya di rumah, juga meneladani guru-gurunya di sekolah yang memang mengerti betul tentang apa yang disebut sehat.
   
Sehat itu bukan hanya sekedar sehat fisik, namun juga dalam arti psikologis, ujar Menkes.
   
Menkes menekankan pentingnya anak-anak sekolah mengetahui perilaku sehat agar dapat menjadi sumber daya manusia yang sehat dan produktif.
      
"Kita harus tahu apa itu sehat, berperilaku sehat dan saya yakin kita akan berpendidikan dengan baik nantinya, tandas Menkes.
   
Pada kesempatan yang sama, Mendikbud RI, Anies Rasyid Baswedan Ph.D, menyatakan bahwa telah bersepakat pada tahun ajaran baru mendatang revolusi mental dalam kehidupan sekolah, utamanya penerapan perilaku sehat, akan diterapkan.
   
Dimulai dari guru agar berperilaku lebih sehat, siswa juga seperti itu. Kita ingin mengatur sedemikian rupa, sehingga tidak membebani sekolah, guru, dan anak-anak. Namun justru melihat ini sebagai sesuatu yang positif dan edukatif, karena tujuannya untuk mempromosikan hidup sehat, tuturnya.

Dokter Kecil Mahir Gizi

Program Dokter Kecil – Mahir Gizi merupakan bagian dari program Caravan Gizi Nestlé DANCOW yang dilakukan bekerjasama dengan PDGMI dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Sejak tahun 2010, program ini diluncurkan untuk memperkaya program ‘Dokter Kecil’ dari Kemendikbud dengan pendidikan tentang gizi.
   
“Kegiatan ini bertujuan memberikan pendidikan tentang gizi, kesehatan dan kebersihan diri bagi para siswa SD, para guru serta orang tua mereka. Hal ini sejalan dengan misi Nestlé Indonesia untuk turut mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sehat,” kata Presiden Direktur PT Nestlé
Indonesia Rashid Qureshi.
   
Sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 2008, program Caravan Gizi Nestlé DANCOW telah menjangkau sekitar 600.000 siswa dari sekitar 1.100 SD, termasuk hampir 4.800 Dokter Kecil – Mahir Gizi, dari 31 kota yang tersebar dari Sumatera hingga Papua.
   
Program 2014 ini dimulai dengan partisipasi sebanyak 400 siswa, termasuk Dokter Kecil – Mahir Gizi, dalam menjalani serangkaian pelatihan dari PDGMI dibulan April tahun lalu. Para siswa tersebut berasal dari 100 SD di 10 kota, yakni Aceh, Medan, Jakarta, Bodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Manado, Makasar dan Balikpapan.
   
“Modul pelatihan yang diberikan berisi pengetahuan 10 Tanda Umum Anak Bergizi Baik, pengetahuan mengenai gizi, sumber energi, zat pengatur dan zat pembangun, penyusunan menu bergizi, pengukuran status gizi serta praktek penyuluhan gizi hingga kiat-kiat bagaimana memilih jajanan yang sehat dan aman,” kata Dr. Rachmi Untoro, MPH, dari PDGMI.
   
“Untuk membuat program lebih menarik, para peserta juga memperoleh berbagai materi pendukung seperti poster, kartu-kartu, alat permainan dan paspor kesehatan,” tambahnya.
   

Setelah mengikuti pelatihan, penjurian tingkat regional dilakukan untuk memilih proyek terbaik yang telah dilakukan di sekolah masing-masing. Sebanyak 10 tim pemenang dari daerah kemudian mengikuti seleksi tingkat nasional yang berlangsung tiga hari mulai dari 18 hingga 20 Maret.
   
Dalam seleksi ini, tiap tim yang masing-masing terdiri atas empat murid SD didampingi seorang guru 1 pembimbing mempresentasikan proyek di sekolahnya dihadapan tim juri, yang beranggotakan perwakilan dari Kemendikbud, PDGMI dan Nestlé DANCOW.
   
“Para finalis mempunyai ide yang sangat kreatif dan orisinal. Melalui proyeknya, mereka juga mampu dan memberikan pengetahuan mengenai gizi dan kebersihan diri kepada kawan-kawannya, seperti pembiasaan konsumsi pisang yang dikreasikan sebagai penambah gizi, program sarapan pagi bersama, cara mengidentifikasi bahan makanan dan mengolah makanan bergizi seimbang, hingga cara-cara unik seperti membentuk kartu kwartet 10 Tanda Umum Anak Bergizi Baik dan mengadakan unjuk rasa dokter kecil terhadap jajanan tidak sehat,” kata DR. Dr. Yustina Anie Indriastuti, MSc, SpGK dari PDGMI, yang juga merupakan anggota tim juri.
   
Dalam kesempatan yang sama, Nestlé DANCOW juga memberikan penghargaan Guru Pendamping Terbaik untuk guru yang telah memberi dukungan dan mendampingi siswa selama program berlangsung. “Penghargaan untuk para guru ini merupakan bentuk apresiasi kami bagi guru yang telah mendukung dan menginspirasi para muridnya dalam program Dokter Kecil – MahirGizi,” tambah Direktur Dairy Business Unit PT Nestlé Indonesia Windy Cahyaning Wulan.
   
“Kami juga akan terus melanjutkan program Caravan Gizi Nestlé DANCOW dan melahirkan sebanyak 480 Dokter Kecil – Mahir Gizi pada tahun 2015. Yang juga istimewa adalah pengembangan program pelatihan untuk para orang tua sehingga orang tua terlibat langsung dalam mendampingi anak-anak mereka, demi menciptakan generasi yang lebih sehat, lebih kuat dan lebih cerdas, sehingga lebih berdaya saing,” tutup Windy Cahyaning Wulan.
 
Penulis : Farida Denura

Fokus Terbaru