Selasa, 27 Januari 2026

Bersaing di Era Pasar Bebas dengan Bahasa Mandarin


  • Penulis Farida Denura
  • Jumat, 08 Mei 2015 | 00:00
  • | Fokus
 Bersaing di Era Pasar Bebas dengan Bahasa Mandarin Mahasiswa bahasa Mandarin dari FKIP UKI yang belum lulus kuliah saja sudah banyak menawari pekerjaan, bahkan banyak yang menjalani perkuliahan sambil bekerja m di perusahaan maupun di dunia pendidikan. (Foto-Foto: Dok. Humas UKI)
Era globalisasi telah membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya mempelajari bahasa asing, termasuk bahasa Mandarin. Kemampuan bahasa asing dijadikan sebagai suatu persiapan demi meningkatkan kompetensi saat memasuki dunia kerja. Bahasa Mandarin tetap menjadi pilihan pertama bagi mereka yang belajar bahasa asing (chinese as foreign language).

Dicari: translator bahasa Mandarin, guru bahasa Mandarin.
Diutamakan: yang dapat berbahasa Mandarin.
Mampu berbahasa Mandarin menjadi nilai lebih.

Cuplikan kalimat di atas, akhir-akhir sering muncul di media cetak sebagai salah satu prasyarat atau nilai tambah bagi mereka yang hendak mencari kerja. Tak dapat dipungkiri, bahasa Mandarin kini telah menjadi sebuah kebutuhan penting bagi siapapun yang ingin bertahan dari ketatnya persaingan kompetensi di era pasar bebas.
    
Sekalipun tergolong sebagai salah satu bahasa yang paling sulit dipelajari di dunia, bahasa Mandarin tetap menjadi pilihan pertama bagi mereka yang belajar bahasa asing (chinese as foreign language). Toefl Mandarin berstandar internasional atau HSK semakin banyak diminati komunitas internasional.
   
Penggunaan bahasa Mandarin menempati urutan ke-2 dalam penggunaan bahasa internasional setelah bahasa Inggris. Bukan hanya di Indonesia atau Asia saja, bahasa Mandarin juga makin banyak diminati para pelajar dan mahasiswa di benua Afrika, Eropa dan Amerika.
   
Tim Clissold dalam bukunya yang berjudul Mr. China secara gamblang mengatakan bahwa bahasa Mandarin merupakan kunci utama memperoleh kepercayaan dari para pelaku ekonomi di China. Clissold mencatat bahwa bahasa mandarin bagi orang China di seluruh penjuru dunia adalah pusat dari perasaan “kechinaan” sementara huruf-huruf China adalah pusat bahasa itu. Dengan demikian, China akan lebih respek dan menaruh kepercayaannya dengan seorang investor asing yang mampu menjalin komunikasi dengan bahasa Mandarin yang baik yang kemudian akan berlanjut dengan pembicaraan-pembicaraan yang lebih hangat sehingga jelas bahwa bahasa Mandarin menjadi bagian yang tak terpisahkan dari China.
   
Dengan fenomena yang ada ini kata Kaprodi (Plh), Pendidikan Bahasa Mandarin, FKIP UKI, A. Soegihartono, SE, MM, menjadikan bahasa Mandarin melejit untuk pengunaanya, dan bahkan menjadi bahasa internasional kedua di dunia serta sangat penting dalam komunikasi bisnis. Di dalam dunia pendidikan di Indonesia pun mulai tahun 2002 Depdikbud memulai penggunaan bahasa Mandarin sebagai pilihan bahasa asing dan dimulai dari kursus-kursus yang dikembangkan ke daerah-daerah di Indonesia.
   
Dikatakan Soegihartono, sekarang ini sekolah-sekolah negeri maupun swasta sudah banyak yang memasukkan bahasa Mandarin kedalam kurikulum sekolahnya. Ini semua kata dia adalah untuk persiapan SDM global karena sekarang ini China sudah berorientasi untuk berinvestasi di Indonesia. Dengan persiapan SDM global ini diharapkan kita dapat menyambut perkembangan bisnis ini dengan baik.
   
Seiring pesatnya perkembangan bahasa Mandarin di Indonesia maka banyak dibutuhkan tenaga guru/pendidik/instruktur bahasa Mandarin yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan. Yaitu dengan kompetensi yang memadai dan bisa bersaing.
   
Beberapa daerah di Indonesia lanjut Soegihartono, bahkan merasakan sangat kurangnya tenaga guru /pendidik/instruktur bahasa mandarin yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan di daerah tersebut. Kalimantan Barat misalnya, daerah ini sangat memiliki potensi yang cukup baik untuk pengembangan pendidikan bahasa Mandarin tetapi daerah ini merasakan kurangnya tenaga guru/pendidik/instruktur tersebut.

Perintis Guru Berbahasa Mandarin   
Lebih lanjut Soegihartono mengatakan, untuk mengatasi  permasalahan kurangnya jumlah guru/pendidik/instruktur bahasa Mandarin yang berkualitas sebenarnya sudah dijawab dan dibantu oleh UKI. UKI adalah salah satu dari sekian lembaga perguruan tinggi di Indonesia dan perguruan tinggi pertama di Indonesia yang mempunyai FKIP dengan prodi Pendidikan Bahasa Mandarin yang dibuka sejak tahun 2003, satu tahun setelah Depdikbud memulai penggunaan bahasa Mandarin sebagai pilihan bahasa asing.
   
FKIP UKI kata Soegihartono, sebenarnya sudah lama mengantisipasi hal tersebut dengan menjalin kerjasama dengan Fujian Normal University (FNU) China, yang merupakan Universitas unggulan di China yang dituangkan dalam nota kesepahaman bersama (MOU), yang ditandatangani pihak UKI dan pihak FNU.
   
Berdasarkan MOU tersebut, Pemerintah China mengutus tenaga-tenaga pengajarnya langsung dari FNU ke FKIP UKI, sehingga pembelajaran di FKIP UKI mayoritas diampu oleh dosen-dosen native speaker dan menyelenggarakan program dual degree yang berlangsung, 2 tahun pertama belajar di UKI (semester I sampai semester IV) dan tahun ke 3 (semester V dan VI) belajar di FNU China. Tahun keempat kembali ke UKI untuk menyelesaikan kuliah kependidikannya dan menyelesaikan skripsinya. Setiap lulusannya akan memperoleh 2 gelar yaitu  S.Pd yang dikeluarkan oleh UKI dan gelar B.A. yang dikeluarkan oleh FNU China.    
   
Setelah mengantongi 2 gelar tersebut kata Soegihartono, apabila mahasiswa masih mau melanjutkan lagi ke jenjang yang lebih tinggi masih dimungkinkan. Dan bahkan bisa mendapatkan beasiswa gratis selama belajar apabila memenuhi ketentuan persyaratan yang ditentukan. Hingga saat ini program Pendidikan Bahasa Mandarin di FKIP UKI telah mengirimkan 6 angkatan mahasiswanya untuk belajar di FNU, dan dua mahasiswa S2 ke Fujian. Bagi mereka yang diberangkatkan tentunya sudah melalui seleksi–seleksi yang diselenggarakan oleh UKI dan pihak FNU.   
   

Di FNU mahasiswa akan belajar selama 1 tahun dan selama di FNU, mahasiswa akan mendapatan fasilitas beasiswa dari pemerintah RRC berupa uang kuliah, uang buku pelajaran, dan uang pemondokan/asrama secara gratis. Selama di FNU mahasiswa UKI akan diberikan praktek mengajar langsung pada sekolah dasar sampai menengah di laboratorium school FNU.
   
Memang sampai saat ini mahasiswa bahasa Mandarin dari FKIP UKI yang belum lulus kuliah saja sudah banyak yang menawari pekerjaan, bahkan banyak yang menjalani perkuliahan sambil bekerja di perusahaan maupun didunia pendidikan.   
   
Dengan demikian sebenarnya kata Soegihartono, FKIP UKI telah membuat program yang sangat bagus sekali dan program tersebut sebenarnya dapat membantu pemerintah untuk mengatasi kesulitan pihak pemerintah dalam mendapatkan tenaga guru /pendidik/instruktur bahasa Mandarin yang memiliki kualifikasi dengan kompetensi sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan.       
   
Soegihartono mengatakan bahwa program studi pendidikan bahasa Mandarin UKI menyiapkan tenaga pendidik profesional, mahir berbahasa Mandarin dan terampil menggunakan teknologi pembelajaran berbasis ICT.       
   
Prodi pendidikan bahasa Mandarin FKIP UKI mengemban visi menjadi program studi pelopor dan unggulan di dalam dan di luar negeri pada tahun 2015. Hal itu diwujudkan dalam misi mendidik calon-calon guru bahasa Mandarin yang berkualitas dan berkepribadian. Melakukan penelitian yang berkaitan dengan permasalahan belajar, khususnya belajar bahasa Mandarin. Melaksanakan pengabdian masyarakat ke sekolah-sekolah dan lembaga lembaga yang memerlukan kemahiran berbahasa Mandarin dimana bertujuan menghasilkan guru-guru bahasa Mandarin yang profesional dan mampu mengembangkan diri, memenuhi tuntutan era globalisasi.     
   
Keunggulan dari program studi Pendidikan Bahasa Mandarin FKIP UKI  ini kata Soegihartono merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia, karena mencetak guru-guru Bahasa Mandarin yang siap mengajar dan mendidik di sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar sampai tingkat menengah.   
   
Perkuliahannya sendiri ditempuh dalam 8 (delapan) semester. Semester 1 – 4, berlangsung di FKIP UKI Jakarta. Semester 5 – 6, berlangsung di FNU China. Semester 7 – 8, berlangsung di FKIP UKI Jakarta.
   
FKIP UKI juga mengharapkan kualitas lulusannya dapat dipercaya oleh masyarakat, serta dapat memperoleh pekerjaan dengan mudah. Info lebih lanjut: email: fkip-uki@uki.ac.id. Website: www.fkip.uki.ac.id

Sumber: Harian sore Sinar Harapan







Penulis : Farida Denura

Fokus Terbaru