Pendidik inspiratif tidak hanya mengasah pola pikir siswa, namun juga membentuk karakter mereka menjadi lebih baik. Seorang pendidik menginspirasi orang yang mereka didik agar pengetahuannya bertambah. Dia juga sebagai pengembang peranti lunak pendukung pembelajaran, entrepreneur pendidikan, motivator, dosen, atau banyak profesi pendidikan lainnya.
Hidup di dunia yang tengah mengalami berbagai perubahan dan perkembangan teknologi yang sangat cepat telah mengubah gaya hidup manusia. Di dunia pendidikan, pilihan profesi kini tidak lagi terbatas sebagai guru, namun berbagai profesi baru muncul dengan peranan yang tidak kalah penting untuk mencerdaskan generasi mudah Indonesia.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Sampoerna School of Education (SSE), Johana Rosalina Kristyanti dalam acara bertajuk “Be an Educator in a Changing World” di Jakarta, Sabtu (30/6) lalu mengatakan SSE memiliki keyakinan kuat bahwa masa depan Indonesia tergantung pada kualitas pendidikan. Dia percaya bahwa pendidik merupakan kunci keberhasilan bangsa.
Pendidik yang inspiratif kata Rosalina, tidak hanya mengasah pola pikir siswa, namun juga membentuk karakter mereka menjadi lebih baik. Akan tetapi mampu menginspirasi orang yang mereka didik agar pengetahuannya bertambah. Juga, sebagai pengembang peranti lunak pendukung pembelajaran, entrepreneur pendidikan, motivator, dosen, atau banyak profesi pendidikan lainnya.
Menciptakan pendidik memang tidak bisa dilakukan dalam semalam atau hanya melalui seminar. Pendidikan calon-calon pendidik yang memiliki konsep dan visi pendidikan menjadi penting. Seorang pendidik seharusnya lebih fokus pada penciptaan nilai bagi siswa didiknya
“Dalam menghadapi dunia yang berubah dan terus berkembang, kita perlu membangun pendidik-pendidik yang inovatif di Indonesia,” ujar Rosalina.
Rosalina juga menyebut perbedaan antara guru dan pendidik. Seorang yang berprofesi sebagai guru kata dia, haruslah ditunjuk oleh pihak manajemen sekolah untuk mengajar mata pelajaran tertentu. Sementara seorang pendidik tidak harus berprofesi sebagai guru. Pendidik lebih universal dengan profesi yang beragam.
Dikatakan Rosalina, perubahan yang terjadi di dunia saat ini, khususnya dengan adanya kemajuan teknologi, membuat karir di dunia pendidikan menjadi semakin luas dan akan banyak profesi baru yang akan muncul. Cara belajar dan mengajar di masa mendatang pasti akan berubah dan profesi pendidik pun akan semakin berkembang.
“Seorang guru bisa menjadi pendidik dan setiap pendidik pada dasarnya adalah guru. Seorang pendidik tidak hanya sekadar mengajar, tetapi juga mampu menginspirasi muridnya untuk maju. Karena itulah, pendidik merupakan kunci keberhasilan bangsa,”tegas Rosalina.
Untuk membentuk para pendidik yang memiliki visi dengan metode mutakhir, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan bernama SSE didirikan tahun 2009 itu hadir untuk menciptakan pendidik generasi baru yang memiliki kompetensi mengajar dengan standar internasional dan kemampuan memimpin untuk mengembangkan generasi muda masa depan.
Lembaga pendidikan setara S-1 ini terang Rosalina selalu mengikuti perkembangan inovasi sistem pembelajaran guna mempersiapkan para calon pendidik Indonesia untuk menghadapi tantangan global.

“Kelebihan SSE adalah menggunakan metode bilingual. Pada tahun pertamanya, para mahasiswa sudah diterjunkan ke sekolah-sekolah yang menjadi partner SSE,”kata Isti Subandini, mahasiswi angkatan pertama SSE.
Isti menambahkan, menginjak tahun kedua, mahasiswa sudah bisa membantu guru, tetapi belum mengacu materi ajar. Pada tahun ketiga, mahasiswa sudah bisa mengajar langsung kepada siswa di sekolah. Sedangkan tahun keempat, mahasiswa SSE melakukan penelitian dan menyelesaikan tugas akhirnya.
Memasuki tahun ajaran 2012/2013. selain lulusan SMU, SSE kini juga menerima mahasiswa multi entry yaitu siswa D3 atau S1 pindahan dari universitas lain yang ingin melanjutkan pendidikannya ke SSE dengan transfer nilai. Saat ini SSE menawarkan empat jurusan yaitu Matematikan, Bahasa Inggris, Pendidikan Anak Usia Dini dan Teknologi Pelatihan dan Pendidikan.
Diminati Generasi Muda
Profesi pendidik kini semakin diminati kaum muda seiring dengan meningkatnya kesejahteraan untuk profesi ini sejak beberapa tahun terakhir. Dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Tulis, Kamis (31/5) lalu misalnya, peminat program studi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) masih cukup tinggi.
Berdasarkan data panitia lokal SNMPTN Bandar Lampung, sebanyak 12.614 pilihan ditujukan pada 15 program studi yang ada di FKIP Unila baik melalui pilihan pertama (P1), pilihan kedua (P2), hingga pilihan ketiga (P3). Dengan total pemilih Unila mencapai 53.618 pilihan.
Kepala SD 191 Palembang Sri Kusnirawati menambahkan saat ini profesi guru semakin diminati kaum muda seiring dengan meningkatnya kesejahteraan untuk profesi ini sejak beberapa tahun terakhir.
"Saat ini Fakultas Ilmu Keguruan menjadi favorit di sejumlah universitas, sungguh berbeda dengan era saya dulu karena sempat malu mengambil jurusan menjadi guru," ujar Sri belum lama ini di Palembang.
Dikatakan dia, peluang dan kesempatan untuk mengembangkan diri semakin terbuka bagi guru seiring dengan tingginya perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara memberikan alokasi tertinggi bagi dunia pendidikan, diantaranya digunakan untuk kesejahteraan guru dan memperbaiki infrastruktur.
"Peluang semakin terbuka dibandingkan profesi lain, hal ini dapat dilihat dari jumlah kursi yang tersedia pada setiap tes calon pegawai negeri sipil. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat kita," kata lulusan Fakutas Ilmu Pendidikan dan Keguruan Unsri tahun 1990 ini.
Menurut Sri, keberadaan sertifikasi juga turut dalam mempopulerkan profesi guru di kalangan masyarakat mengingat berpengaruh cukup besar pada kesejahteraan. Apalagi, sertifikasi itu terbuka pada guru sekolah manapun, baik swasta maupun negeri.
"Guru mendapatkan tambahan uang yang sama persis dengan gaji pokok pada setiap bulannya bagi yang lulus sertifikasi. Meski ada tanggung jawab yang besar dibalik itu tapi setidaknya kesejahteraan guru sudah jauh berubah berkat adanya program itu,”jelas Sri lebih lanjut.
Khusus mahasiswa lulusan program studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) saat ini memiliki prospek karir yang bagus seiring dengan booming pendirian satuan pendidikan tersebut. Selain dapat bekerja sebagai guru PAUD, mereka juga dapat berprofesi sebagai dosen, konsultan, ataupun berbagai bidang yang terkait.
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Gutama beberapa waktu yang lalu saat menerima para mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru PAUD Universitas Negeri Malang belum lama ini.
“Jangan khawatir mengenai arah karir kalian, universitas yang membuka program studi PAUD juga semakin banyak. Ini menjadi bukti bahwa PAUD semakin penting dan dibutuhkan,” ujarnya menyakinkan.
Mantan Direktur PAUD itu juga mengatakan, semakin banyak orang tua yang peduli dengan pendidikan anak mereka sejak usia dini. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menaruh perhatian yang besar terhadap pengembangan PAUD, hal tersebut tercermin dari alokasi anggaran yang semakin besar dan kian beragamnya program pengembangan yang digagas oleh Direktorat PAUD, Ditjen PAUDNI. Tertarik jadi pendidik inspiratif? (Farida Denura)
Gerakan Indonesia Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi

Apa yang menyebabkan anak-anak muda pintar dan telah memiliki pekerjaan mapan memilih menjadi guru di daerah terpencil? Mengapa mereka lebih memilih mendidik anak-anak di pulau terluar Indonesia daripada duduk di kursi empuk? Mengapa mereka memilih bergabung di Gerakan Indonesia Mengajar?
Penggagas dan Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, Ph.D melontarkan sejumlah pertanyaan di hadapan para Mahasiswa Pendidikan Fisika (Himafi) Neutron FKIP Universitas Jember, belum lama ini. Dia kemudian menjawab bahwa Gerakan Indonesia Mengajar ingin menawarkan kesempatan kepada orang muda untuk setahun mengajar dan seumur hidup menginspirasi.
Penjelasan dan cerita Anies Baswedan, PhD mengenai Indonesia Mengajar beserta Pengajar Muda-nya (PM) memukau para mahasiswa yang hadir. Menurut Anies ada tiga masalah utama di dunia pendidikan kita, yakni kesejahteraan guru, kualitas guru dan distribusi guru yang tidak merata. Ketiga problema inilah yang kemudian mendorong dirinya beserta pihak-pihak yang concern kepada pendidikan membuat Gerakan Indonesia Mengajar tahun 2009.
“Langkah kita adalah memilih anak-anak muda yang cemerlang dan menerjunkan mereka ke daerah pelosok atau terpencil yang sekolah dasarnya ada, namun sering kali tak ada pengajarnya,” ujar Anies.
Ternyata animo anak-anak muda berprestasi untuk menjadi guru di daerah terpencil sangat luar biasa. Pada angkatan pertama, ada 1363 pelamar, padahal yang akan diterima hanya 50 orang saja. Hebatnya, 60 persen dari mereka sudah bekerja bahkan memiliki karier yang cemerlang tapi mau bergabung di Indonesia Mengajar.
“Melalui Indonesia Mengajar kami ingin mengubah mindset bahwa masalah pendidikan adalah tanggungjawab kita bersama, dan bukan tanggungjawab pemerintah semata. Bahwa guru tidaklah selalu menjadi profesi seumur hidup. Salah satu janji kemerdekaan Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, maka inilah saatnya bagi kita terutama kaum terdidik untuk membayar hutang kepada republik ini,” jelas Rektor Universitas Paramadina Jakarta ini.
Ternyata kehadiran Pengajar Muda (PM) yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar memberikan dampak positif yang luar biasa, baik bagi anak didik, lingkungan sekitar termasuk kepada Pengajar Muda-nya sendiri. Anak-anak muda ini ditantang berkarya di tengah berbagai kesulitan dan keterbatasan yang mendera. Setiap hari adalah decision day yang menuntut solusi nyata.
“Namun ketika perjuangan ini berbuah kesuksesan, semua pihak tergugah. Sering kali penduduk lokal berkata kalau anak-anak muda mau bersusah payah di sini, mengapa kita tidak,” begitu Anies menceritakan kisah perjuangan Pengajar Muda di Pulau Rupang Riau, Fak-Fak Papua, Halmahera Selatan dan tempat lainnya.
Kedatangan para Pengajar Muda dari berbagai latar belakang kata Anies, juga sekaligus sebagai upaya merajut kebhinekaan Indonesia. Anies mengistilahkan sebagai usaha merajut kain tenun kebangsaan Indonesia.
Anies lantas mencontohkan kisah Aline, lulusan Institut Teknologi Bandung yang kebetulan berlatar belakang Tionghoa. Aline yang harusnya berangkat ke Belanda meneruskan studi ternyata lebih memilih bergabung dengan Indonesia Mengajar dan mengabdi selama setahun di sebuah daerah terpencil di Majene, Sulawesi Barat.
Aline, seorang Tionghoa beragam Kristen tutur dia, mengajar di sebuah daerah terpencil yang semua penduduknya beragama Islam, bahkan belum pernah kedatangan orang non muslim. Ternyata, Aline diterima dengan baik, bahkan penduduk membuatkan prasasti yang menandakan bahwa pernah ada seorang Pengajar Muda yang mengabdi di sana.
“Saat Aline selesai bertugas dan harus pulang, warga desa berjalan dua jam mengantarkan Aline ke titik penjemputan, sungguh sebuah usaha merajut kembali kain tenun kebangsaan Indonesia,” ujarnya.
Sumber: Harian Sore Sinar Harapan