Selasa, 27 Januari 2026

Homeschooling, Sekolah di Rumah, Mengapa Tidak?


  • Penulis Patricia Aurelia
  • Kamis, 25 Juni 2015 | 00:00
  • | Fokus
 Homeschooling, Sekolah di Rumah, Mengapa Tidak? Home Schooling Kak Seto (HSKS) menjadikan belajar menyenangkan dan belajar sambil bermain itu sangat jarang diterapkan di sekolah-sekolah formal. Tampak mereka sedang merakit percobaan. (Foto-Foto: Ist)
Anak-anak belajar mandiri di rumah, dibimbing orangtua atau guru yang datang ke rumah. Fenomena ini banyak disebut sebagai sebagai pendidikan “sekolah rumah” atau “sekolah mandiri”. Otodidak dan masuk dalam kategori pendidikan informal.
    

Homeschooling (Sekolah Rumah-Red) saat ini mulai menjadi salah satu model pilihan orang tua dalam mengarahkan anak-anaknya dalam bidang pendidikan. Pilihan ini muncul karena adanya pandangan para orang tua tentang kesesuaian minat oleh anak-anaknya. Homeschooling ini banyak dilakukan di kota-kota besar, terutama oleh mereka yang pernah melakukannya ketika berada di luar negeri.
   
Di Indonesia keberadaan homeschooling sudah mulai menjamur di Jakarta dan kota besar lainnya. Untuk tahap pertama, keberadaan proses belajar dan mengajar model rumahan ini belum menuai minat dari khalayak umum.
   
Namun kini, keberadaannya justru banyak dimanfaatkan kalangan menengah ke atas, seperti artis, dan kalangan entertainer. Tak jarang didapati di antaranya kalangan olahragawan, atlit nasional juga kalangan biasa yang menginginkan rumah sebagai ruang kelas.
   
Keberadaan homeschooling Indonesia telah diatur dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat (10) yang berbunyi:
 
“Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri”.
   
Dirjen Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Hamid Muhammad belum lama kepada sebuah media mengatakan konsep dasar homeschooling adalah anak-anak belajar mandiri di rumah, dibimbing orangtua atau guru yang datang ke rumah.
   
Oleh sebab itu menurut dia, banyak juga yang menyebutkan fenomena ini sebagai pendidikan “sekolah rumah” atau “sekolah mandiri” dimana pendidikannya lebih banyak otodidak dan masuk dalam kategori pendidikan informal.
   
Walaupun istilahnya dari Barat, sekolah mandiri sebenarnya telah jauh-jauh hari diterapkan di Indonesia. “Bapak Pendidikan Indonesia”, Ki Hajar Dewantara, telah melaksanakannya dengan gerakan Taman Siswa, pendidikan gratis bagi pribumi. Beberapa tokoh nasional juga merupakan produk homeschooling, seperti KH Agus Salim, Buya Hamka, dan Ki Hajar Dewantara. Sedangkan tokoh Barat beken hasil didikan homeschooling antara lain Albert Einstein, Wodrow Wilson, Alexander Graham Bell, dan Winston Churchill.
   
Kini penyelenggaraan homeschooling makin meluas dengan beragam jenisnya. Tapi, sayang, belum ada survei resmi tentang jumlah penyelenggara homeschooling di Indonesia. Apalagi, sifatnya informal sehingga sulit dipantau petugas. Data tak resmi Kemendikbud menyebutkan, setidaknya ada sekitar 600 homeschooling di Jakarta yang diselenggarakan baik di tingkat keluarga, komunitas maupun institusi.
   
Perkembangan ini juga terlihat dengan makin beragamnya komunitas dan lembaga pendidikan homeschooling yang muncul. Misalnya kelompok Asah Pena (Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif), RumahInspirasi (Jakarta), Klub Sinau (Sidoarjo), serta Berkemas (Berbasis Keluarga dan Masyarakat). Masing-masing mengaku memiliki puluhan hingga ratusan anak didik.
   
Seto Mulyadi yang juga Ketua Asosiasi Homeschooling dan juga pemilik Home Schooling Kak Seto (HSKS) di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan juga sudah menerapkan metode macam ini kepada anak-anaknya. Nah, selama kurikulum di sekolah rumah mengacu pada kurikulum yang ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional, anak tetap bisa ikut ujian kesetaraan dari pemerintah.
   
Suasana belajar di homeschooling milik Seto terlihat lebih santai dibanding dengan sekolah umum. Namun sebenarnya, materi yang diberikan kepada siswanya tidak beda jauh dengan yang diberikan di sekolah umum. Hanya caranya dikemas lebih menyenangkan.
   
HSKS, menjadikan belajar menyenangkan dan belajar sambil bermain itu sangat jarang diterapkan di sekolah-sekolah formal. HSKS ini seperti dikutip dari laman www.hsks.sch.id mengacu kepada aturan negara yaitu peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 32 Tahun 2006 yang menunjukan bahwa Standar Kompetensi Lulusan atau disingkat menjadi SKL, dan juga sistem yang diterapkan adalah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang penyusunnya sendiri adalah HSKS.

Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran yang diterapkan oleh HSKS ialah pendekatan kepada peserta didik yang lebih konstruktif, aktif, tematik, dan sangat konstektual dalam belajar, juga menerapkan kemandirian melalui penekanan kecakapan hidup dan terampil saat memecahkan masalah-masalah. Tidak terlalu mengedepankan dengan akademik, karena itulah pembelajaran di Homeschooling Kak Seto (HSKS) sangat menyenangkan dengan proses yang nyaman dan efesien.
   
Lain lagi cerita Homeschooling Cendekia (HSC). HSC  seperti dikutip dari laman HSC www.cendekiahomeschooling.com merupakan sebuah institusi pendidikan alternatif yang senantiasa memperhatikan hak anak atas pendidikan. Dengan dibantu Tutor dari berbagai bidang disiplin ilmu Universitas terkemuka di Yogyakarta dan sekitarnya.
   
Sejak didirikan pada 2010, Cendekia yang bermarkas di Jalan Water kilometer 5, Gamping, Sleman, Yogyakarta, telah memiliki 25 siswa dari jenjang SD hingga SMA dan terus bertambah. Anak didik Cendekia dapat menentukan model dan lokasi belajar, di rumah sendiri atau berkelompok.
   
Materi belajar yang diberikan disesuaikan dengan kurikulum resmi yang diujikan secara nasional, dengan tenaga pengajar 19 orang. Cendekia juga menyediakan guru khusus untuk siswa dengan kebutuhan khusus pula. Misalnya mereka yang menderita autisme atau gejala mental lainnya.
   
Untuk segala fasilitas ini, Cendekia memasok biaya Rp 75.000 untuk tingkat SD-SMP dan Rp 100.000 untuk SMA setiap satu kali pertemuan privat. Dalam sebulan, ditetapkan 12 kali pertemuan. Untuk kelas komunitas, biayanya tergantung banyaknya peserta, tapi rata-rata mencapai Rp 600.000 per bulan.
   
Berbeda dengan Siswa Homeschooling Primagama (HSPG) bisa memilih salah satu dari sistem tersebut. Hal ini memungkinkan dilaksanakan karena Homeschooling Primagama  memiliki beberapa Sekolah Payung (Umbrella School) yang bisa menaungi mereka di pendidikan Formal, dan juga bekerjasama dengan Center of Cambridge yang memungkinkan siswa ujian dalam standar internasional
   
Untuk Program Internasional, siswa bisa mengikuti sertifikasi dalam Cambridge International Examination yang terdiri dari level: International Certificate of Secondary Education (IGCSE), General Certificate of Education Ordinary Level (GCE O Level), General Certificate of Education Advanced Subsidiary and Advanced Level (GCE AS & A Level)
   
HSPG menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diolah menjadi GBPP Primagama. Mata pelajaran yang harus diikuti oleh siswa adalah mata pelajaran yang diberikan di sekolah sesuai jenjang/kelasnya.

Sumber: Harian Sore Sinar Harapan

Penulis : Patricia Aurelia

Fokus Terbaru