Mahasiswa asing yang belajar di Indonesia berperan besar dalam menyebarluaskan Bahasa Indonesia ke seluruh dunia. Jumlah mereka terus meningkat. Bahasa Indonesia menjadi semakin penting dalam percaturan internasional.
Mahasiswa asing yang belajar di Indonesia berperan besar dalam menyebarluaskan Bahasa Indonesia ke seluruh dunia. “Dan itu prospektif pasalnya jumlah mahasiswa yang tertarik mempelajari Bahasa Indonesia dan kuliah di sini terus meningkat," kata Direktur Kelembagaan dan Kerja Sama Dirjen Dikti Hermawan K Dipojono di Bandung, Jumat seperti dikutip dari antaranews.com.
"Dan itu prospektif pasalnya jumlah mahasiswa yang tertarik mempelajari Bahasa Indonesia dan kuliah di sini terus meningkat," kata Direktur Kelembagaan dan Kerja Sama Dirjen Dikti Hermawan K Dipojono di Bandung belum lama ini.
Ia menyebutkan, memperkenalkan Bahasa Indonesia di dunia internasional tidak hanya dilakukan orang Indonesia di luar negeri, namun juga mahasiswa asing.
Menurut Hermawan, jumlah mahasiswa asing yang belajar di Indonesia sekitar delapan ribu orang, meski masih kalah jauh dari mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri yang bisa sepuluh kali lipatnya.
"Bila mahasiswa asing belajar di Indonesia, maka mereka otomatis belajar dan menggunakan Bahasa Indonesia, mereka cukup efektif dan yang pasti minat mempelajari Bahasa Indonesia cukup tinggi," katanya.
Pemerintah terus meningkatkan angka mahasiswa asing yang belajar di Indonesia, salah satunya melalui program pertukaran pelajar dan pameran pendidikan Indonesia di luar negeri.
Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Unpad Setiawan menyatakan kehadiran mahasiswa asing membawa dampak besar bagi penyebaran dan pengembangan Bahasa Indonesia.
Posisi Indonesia di kancah global semakin penting. Di bidang ekonomi, Indonesia menempati 16 besar kekuatan ekonomi dunia dan masuk kelompok G-20. Pada 2030 Indonesia diperkirakan menempati tujuh besar ekonomi dunia. Karena itu, peran sosial, politik, dan budaya termasuk bahasa Indonesia juga akan semakin berpengaruh secara global.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh kala itu meminta agar memperkuat peran bahasa Indonesia di percaturan internasional.
Dia mengatakan, bahasa Indonesia tidak hanya sekedar digunakan sebagai bahasa lokal saja, tetapi untuk berinteraksi dengan bahasa dunia.
Mendikbud mengemukakan hal tersebut saat membuka Kongres Bahasa Indonesia X akhir Oktober Kongres pada 28-31 Oktober lalu yang mengambil tema "Penguatan Bahasa Indonesia di Dunia Internasional".
Mendikbud menyebutkan, saat ini bahasa Indonesia memiliki jumlah penutur terbesar keempat dunia karena jumlah penduduk Indonesia sebanyak 240 juta dari 7,2 miliar penduduk dunia.
Bahasa Indonesia, lanjut Mendikbud, juga dipelajari di 45 negara."Oleh karena itu, kita ingin mendorong terus agar bahasa Indonesia bisa dipelajari dan dikenalkan di berbagai negara," katanya.
Mendikbud menambahkan, saat ini telah dilakukan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di dunia untuk mendirikan pusat-pusat pembelajaran bahasa Indonesia misalnya dengan China, Australia, dan Jerman.
Antusias Mahasiswa Asing

Warga negara asing terutama mahasiswa asing sangat antusias mengikuti program belajar Bahasa Indonesia di puluhan negara di dunia.
Program itu disebut BIPA yakni program pembelajaran ketrampilan berbahasa Indonesia (mendengarkan, berbicara-poduktif dan interaktif, membaca, dan menulis) bagi penutur asing.
"Warga negara lain terutama mahasiswa asing sangat antusias terhadap bahasa Indonesia, itu sangat tinggi sekali," kata Ketua Satgas Program Darmasiswa Republik Indonesia (DRI), Pangesti Wiedarti, kepada media.
Ia menjelaskan, program DRI merupakan program beasiswa bagi mahasiswa asing yang negaranya memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia untuk belajar di Indonesia.
Menurut dia, program DRI ini untuk bahasa Indonesia menjadi jurusan favorit para peserta. Hal itu sebagaimana hasil survei pada 2012, yaitu 65% Bahasa Indonesia, 30% seni-budaya, culinary dan tourism 3%, lain-lain 2%.
"BIPA dipelajari semua mahasiswa DRI yang belajar di 46 - 59 universitas di Indonesia. Tiap tahun, ada sekitar 700 mahasiswa asing dari sekitar 77 negara yang belajar seni, budaya, dan bahasa Indonesia, juga bidang-bidang lain seperti tourism dan hospitality," jelas Pangesti.
Universitas Lampung seperti dikutip dari situsnya menjadi salah satu perguruan tinggi yang dipilih mahasiswa dari luar negeri yang mendapatkan beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk belajar bahasa Indonesia.
“Kami sudah lancar berkomunikasi, sudah bagus, hanya ada beberapa kata saja yang belum kami pahami dan sulit mengucapkannya. Kegiatan kami ya hanya begini, kuliah, main, tidur, baca buku. Kawan-kawan kuliah juga sering main ke sini, belajar bareng, main juga. Kami juga kadang main ke rumah dosen yang ada di sekitar komplek dosen ini,” ungkap Andrianony Eliane Deborah, mahasiswa asal Madagaskar yang kini menempuh pendidikan di Jurusan Bahasa dan Budaya Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung (FKIP Unila).
"Bahasa Indonesia itu gampang," jawaban singkat ini diungkapkan dengan lugas oleh mahasiswi asal China Liang Jingyu menjawab pertanyaan GudegNet dalam acara sharing Mahasiswa Asing Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jumat (09/01/09) di Yogyakarta.
Liang Jingyu (20) atau dalam sehari-hari disapa dengan Fiona, saat ini masih tercatat sebagai mahasiswi semester enam Jurusan Bahasa Indonesia di Universitas Guangxi China. Maka tak diragukan lagi bahasa Indonesianya tak kalah lancar dengan mahasiswa asli Indonesia.
Meski telah hampir tiga tahun belajar bahasa Indonesia di kampusnya di China, mahasiswi yang pertama kali tiba di Yogyakarta pada 5 September 2008 ini terlihat semakin lancar saja bahasa Indonesianya berkat Program Darmasiswa Pusat Bahasa UAJY yang diikutinya.
"Program Darmasiswa Pusat Bahasa UAJY ini sangat bagus dan membantu saya yang ingin belajar bahasa Indonesia dan budayanya lebih jauh," kata Fiona.
Menurut Fiona, peminat bahasa Indonesia di China masih tergolong sedikit. Dari alasan tersebut, mahasiswi yang bercita-cita menjadi penerjemah atau interpreter bahasa Indonesia ini mengambil jurusan ini di Universitas Guangxi.
"Di China, mahasiswa masih jarang yang mempelajari bahasa Indonesia. Tapi saya malah tertarik untuk mempelajarinya. Satu angkatan saya hanya terisi oleh 14 mahasiswa saja," ujarnya.
Ketika ditanya mengenai metode pengajaran bahasa Indonesia yang diterapkan oleh UAJY selama empat bulan, Fiona mengaku bahwa cara yang diterapkan efektif dan sangat membantu semua mahasiswa, bahkan bagi mereka yang sama sekali belum bisa berbahasa Indonesia.
Sedikit berbeda dengan Fiona, mahasiswi asal Madagaskar Haja Tiana (25) bahkan sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia ketika pertama kali datang ke Jogja. Berkat Program Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dari Departemen Pendidikan Nasional, mahasiswi yang akan menempuh gelar pascasarjana Manajemen di UAJY ini terbantu dalam belajar bahasa Indonesia.
Menurutnya, belajar bahasa Indonesia memang sedikit sulit meski tidak terlalu susah. "Belajar bahasa Indonesia itu sedang saja, tidak sulit, tapi juga tidak mudah," katanya.
Sumber: Harian sore Sinar Harapan
Penulis : Patricia Aurelia