Loading
Tidak semua siswa maupun orang tua murid memiliki ponsel, komputer maupun laptop. (Antaranews)
Pandemi sudah lebih dari setahun berlangsung di Indonesia, sudah setahun juga Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Tabukan Utara, Sangihe, harus menerapkan sistem belajar daring.
"Karena sudah setahun belajar online, orang tua (murid)
kami berusaha memenuhi kebutuhan anaknya, membeli ponsel Android," kata
Kepala SMAN 1 Tabukan Utara, Sangihe, Sulawesi Utara, Juinar Usman, saat
webinar tentang belajar online, Jumat (1/7/2021).
Juinar mengingat setahun belakangan merupakan tantangan
besar baginya, bagaimana di tengah pandemi, sekolah bisa tetap berlangsung
sambil menjaga kesehatan dan menghindari penyebaran virus corona.
Perubahan yang sangat mendadak ini mengagetkan komunitas
tempatnya bekerja, begitu juga di sekolah sekitarnya, tidak memiliki
infrastruktur dan alat yang memadai.
"Banyak yang tidak punya internet dan alat seperti
komputer, HP (ponsel) atau laptop," kata Juinar sebagaimana diberitakan
Antara.
Tidak semua siswa maupun orang tua murid memiliki ponsel,
padahal keberadaan gawai untuk sekolah daring adalah hal yang mutlak. Pun
begitu Juinar maklum, tidak semua orang sanggup membeli ponsel atau laptop.
Mereka yang memiliki gawai tidak berarti bebas kendala,
kenyataannya, sekolah secara daring ini membutuhkan kuota internet yang tidak
sedikit.
Keadaan ini ditambah ketersediaan internet yang belum merata
di Sangihe, menurut kesaksian Juinar, tidak semua wilayah terjangkau sinyal
seluler di sana.
Ketika metode kerja hibrida, campuran bekerja di kantor dan
dari jarak jauh, disebut sebagai cara kerja yang efektif, mereka di Sangihe
sudah mempraktekannya sejak awal pandemi.
Tidak jarang guru harus menyeberang pulau untuk menyambangi
siswa yang tidak punya ponsel atau akses internet.
Pembelajaran jarak jauh di tempat-tempat seperti Sangihe
tidak bisa melulu mengandalkan internet, siaran radio juga menjadi tumpuan
untuk belajar online.
Menurut Juinar, radio lokal pada jam dan hari tertentu
memiliki program khusus untuk belajar dari jarak jauh, guru diundang siaran
untuk memberikan materi.
Perluasan Infrastruktur
Sangihe bukan satu-satunya wilayah yang mengalami kendala
lantaran internet belum masuk sepenuhnya, catatan Badan Aksesibilitas
Telekomunikasi dan Informasi, Kementerian Komunikasi dan Informatika, masih ada
12.548 desa dan kelurahan yang belum terjangkau sinyal 4G.
Sebanyak 9.113 dari lokasi tersebut berada di wilayah terdepan, terluar dan tertinggal atau sering disingkat sebagai 3T.
Jaringan 4G begitu penting di masa pandemi COVID-19 ini, ia menjadi dasar berbagai aplikasi penunjang belajar maupun bekerja dari jarak jauh seperti Zoom dan Google Classroom, yang sering dipakai siswa dan guru SMAN 1 Tabukan Utara, bisa berjalan lancar.
Pekerjaan BAKTI pun semakin menantang ketika di masa pandemi
ini kehadiran internet cepat begitu dinantikan, khususnya untuk mendukung
program Pembelajaran Jarak Jauh.
Hingga 2020, BAKTI sudah membangun 1.096 menara base transceiver
station (BTS) dan meningkatkan kapasitas dari 2G atau 3G ke 4G untuk 113
menara.
Artinya, masih ada 7.904 yang harus dikerjakan hingga 2022,
target pemerintah menghadirkan sinyal 4G di seluruh kabupaten dan desa.
"Tantangan kami, mengoptimalkan infrastruktur yang ada
meski pun kapasitas belum ideal," kata Direktur Layanan Masyarakat dan
Pemerintah BAKTI, Danny J. Ismawan.
Usaha menyediakan internet di daerah 3T tidak bisa hanya
menggunakan kabel serat optik, pemerintah harus menggunakan satelit untuk
menjangkau daerah-daerah tersebut.
Indonesia, berdasarkan data pemerintah Maret, lalu, memiliki
lima satelit telekomunikasi nasional dan mengelola empat satelit asing. Total
kapasitasnya mencapai 50GBps.
Setidaknya butuh kapasitas 1TBps untuk pemerataan akses
telekomunikasi, jumlahnya diperkirakan masih akan bertambah.
Pemerintah akhirnya meluncurkan strategis satelit
multifungsi SATRIA-1 berkapasitas 150GBps, tiga kali lebih besar dari satelit
yang mengorbit di Indonesia saat ini.
SATRIA-1 diharapkan bisa menyediakan akses internet di
150.000 titik layanan publik, alokasi terbesar untuk sekolah dan pesantren
yakni 93.900 titik.
Masalah internet di Indonesia tidak selesai ketika daerah
tersebut sudah tersambung ke 4G, bagaimana dan untuk apa jaringan
telekomunikasi ini digunakan juga menyisakan pertanyaan.
Khusus untuk pendidikan, BAKTI berkolaborasi dengan
Ruangguru, penyedia platform belajar online, untuk mengadakan program Indonesia
Teaching Fellowship, untuk pembinaan dan pengembangan kompetensi guru.
Kabupaten Sangihe, bersama Kabupaten Sorong, Papua Barat,
menjadi sasaran kegiatan ini pada 2019 lalu.
Menurut Juinar, sembilan dari 31 guru yang mengajar di
sekolahnya mengikuti program ini. Mereka dilatih menggunakan platform digital
untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar.
Setahun Pandemi
Pelatihan digital tersebut menurut Juinar cukup membantu para guru dalam kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh saat ini, mereka terpacu untuk membagikan hasil pelatihan ke guru-guru lainnya agar belajar online bisa berjalan.
"Guru lain jadi termotivasi untuk sama-sama belajar dan
mendesain mode pembelajaran sedemikian rupa sehingga siswa bisa belajar nyaman
di masa pandemi ini," kata Juinar.
Dia mencontohkan, salah seorang guru membuat video
pembelajaran agar siswa bisa mengikuti pelajaran dari rumah.
Sekolah ini masih menggunakan metode daring dan luring,
masih ada sekitar 20 siswa kelas 10 dan 11 yang belum memiliki ponsel. Guru
akan mengantar materi ke rumah siswa tersebut.
Sementara untuk kelas 12, masih ada tujuh dari total 132
siswa yang belum punya ponsel. Beberapa waktu lalu, sekolah berinisiatif
meminjamkan ponsel agar mereka bisa mengikuti ujian.
Pembelajaran jarak jauh masih berlaku di sebagian besar
daerah di Indonesia, sejumlah tempat dibolehkan menggelar pertemuan tatap muka
(PTM) terbatas jika berada di luar zona merah dengan sejumlah syarat, antara
lain guru sudah divaksinasi dan orang tua murid mengizinkan. (ANTARA)