Loading
Kepemimpinan memang merupakan suatu topik bahasan yang klasik, sudah sangat tua usianya, namun tetap sangat menarik karena sangat menentukann. Masalah kepemimpinan masih tetap seksi untuk diungkap karena tiada habisnya untuk dibahas di sepanjang peradaban umat manusia. Lebih-lebih pada zaman sekarang yang mendapat julukan dari masyarakat “jaman edan” di tengah bangsa yang kian bobrok moral dan mentalnya. Ibaratnya, kita semakin sulit mencari pemimpin yang baik (good leader). Pemimpin yang baik sebenarnya pemimpin yang mau berkorban dan peduli untuk orang lain serta bersifat melayani.
Tetapi, apa yang kita lihat pada para pemimpin kita, dari lapisan bawah sampai pucuk tertinggi, dari pusat hingga ke daerah-daerah? Pada panggung-panggung kepemimpinan terlihat hadirnya pemimpin-pemimpin yang jauh dari harapan rakyat, tidak peduli dengan nasib rakyat bawah, dan hampir tidak pernah berpikir untuk melayani masyarakat. Mengapa? Karena kepemimpinan mereka lebih dilandasi pada ambisi pribadi dan mengutamakan kepentingan kelompok, yang selalu berkedok demi kepentingan masyarakat luas. Pertanyaannya, bagaimana kita menguraikan masalah kepemimpinan di negeri ini, terutama dalam kaitannya dengan masa depan bangsa yang akan diperankan oleh para generasi muda?
Krisis Kepemimpinan
Salah satu persoalan yang membuat bangsa ini masih sulit maju setara dengan bangsa-bangsa lain karena persoalan demi persoalan tak henti-hentinya menjerat bangsa kita, dari pusat hingga daerah yang sulit terselesaikan. Tidak lain dan tidak bukan adalah “Permasalahan Kepemimpinan”. Krisis kepemimpinlah yang menjadi potret bangsa ini dan seolah kita sedang menghadapi jalan buntu untuk pengembangan ke tingkat peradaban yang lebih tinggi.
Dan krisis kepemimpinan tersebut bukan hanya dalam wacana, tetapi sungguh dirasakan oleh masyarakat di seluruh lapisan. Indikasinya, banyak pejabat dan politisi dari tingkat bawah sampai yang teratas, dari seluruh pelosok daerah sampai ke pusat, peran kepemimpinan hampir tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Kekuasaan telah dilihat oleh masyarakat bukan lagi dijadikan sebagai media pelayanan bagi kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi lebih dilihat sebagai panggung tempat para pemimpin mempertontonkan kebolehan dan kehebatannya. Karena itu, masyarakat merasa ada jurang lebar antara pemimpin dengan masyarakat bawah.
Masalahnya, mengapa bangsa ini dari bawah sampai ke yang paling atas, dari tingkat daerah sampai ke pusat, di mana setiap posisi selalu ditempati oleh para pemimpin atau orang yang menempatkan diri sebagai pemimpin, justru mengalami krisis kepemimpinan? Jawabannya, karena para pemimpin tersebut, yang ada selama ini atau yang ada saat ini, tidak memiliki “karakter yang kuat”. Ibaratnya, kita tidak perlu kecewa kehilangan jabatan, karena bisa kita peroleh lagi. Kita juga tidak perlu khawatir kehilangan harta, karena bisa kita dapatkan lagi. Yang patut kita khawatirkan apabila kita kehilangan kharakter, “we will lost everything”.
Untuk menjadi pemimpin yang baik dan sukses, bukan hanya sekedar memiliki keahlian teoritis saja, atau bahkan menguasai bidangnya (professional knowledge), namun yang paling penting dari semuanya adalah bagaimana cara memimpin atau yang utama adalah memiliki karakter yang kuat.
Karakter yang kuat antara lain terwujud keharmonisan atau keserasian antara pikiran (thought), kata (words) dan apa yang diperbuat (what must be done). Yang paling penting adalah bagaimana seorang pemimpin berbuat sesuatu sesuai dengan apa yang dipikirkan dan diucapkannya. Dan seorang pemimpin yang sukses, bukan hanya mengandalkan kekuatan pikiran dan kata-katanya saja, tetapi yang paling penting dari kesemuanya adalah melakukan tindakan nyata tentang segala sesuatu yang telah dipikirkan dan diucapkannya.
Ironisnya, para pemimpin kita saat ini tidak pernah menjaga keharmonisan antara pikiran, kata-kata, dan perbuatannya. Jadi singkatnya, harus ada satunya kata dalam perbuatannya. Hal seperti inilah yang akan saya angkat, ajarkan, dan latihkan kepada para mahasiswa UPN “Veteran” Jakarta dalam rangka mempersiapkan mereka menjadi pemimpin masa depan yang memiliki kharakter yang kuat.
Nilai luhur Pancasila
Masalahnya di sini, bagaimana membangun dan mengembangkan para calon pemimpin masa depan, sesuai dengan JUDUL essay ini. Dan bagaimana mencetak calon pemimpin masa depan yang berkarakter kuat? Sebagaimana teori yang ada, baik yang berasal dari Barat maupun dari Timur, untuk menjelaskan masalah karakter unggul bagi pemimpin. Tetapi, sebenarnya, bangsa Indonesia secara konstitusional telah memiliki sebuah perangkat lunak sebagai filosofi kepemimpinan berupa Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya yang dirumuskan secara padat dan jelas itu. Dalam Pancasila itu jika digali nilai-nilainya, sudah tersirat nilai-nilai tentang karakter unggul itu, yang semestinya dimiliki oleh para pemimpin bangsa kita dari pucuk tertinggi hingga terendah, dan dari pusat hingga daerah.
Menjadi seorang pemimpin itu pun telah melewati proses yang panjang, hingga terbentuknya watak dan karakter yang kuat dalam diri seorang calon pemimpin. Proses kepemimpinan bisa dipelajari dan bisa dilatihkan seperti yang dilakukan di UPN “Veteran” Jakarta, dimana para mahasiswa harus mengikuti pendidikan dan pelatihan, dengan tekun dan sabar, disertai motivasi yang tinggi sebagai kuncinya. Terbentuknya seorang pemimpin yang handal memerlukan proses panjang yang sejalan dengan perubahan pada diri seseorang (self transformation). Suatu self transformation yang efektif, dngan memimjam kata dari Sudhamek AWS, akan terbentuk dengan pendekatan-pendekatan moral dan spiritual.
Karena itu, kepemimpinan yang baik, unggul, kredibel dan berintegritas, dapat dikatakan sebagai suatu product dari proses pengembangan moral dan spiritual dari kehidupan seseorang, sehingga menjadi manusia berjiwa besar, berpandangan universal, tidak egois, dan tidak mementingkan diri sendiri atau kelompok. Pemimpin berintegritas dan berkarakter, secara sukarela mau mengorbankan dirinya dan bahkan kelompoknya untuk kepentingan masyarakat luas atau orang-orang yang dipimpinnya.
Dari situlah muncul hasil akhir, bagaimana para generasi muda dapat dididik dan dibina untuk menjadi calon pemimpin berkarakter kuat, berintegritas dan berkapabiltias tinggi? Sebenarnya, banyak lembaga pendidikan di tanah air telah menaikkan bendera soal keutamaan pendidikan terhadap mahasiswa dengan penekanan pada penciptaan calon pemimpin bangsa di hari esok. Tetapi, di sinilah menjadi berbeda dengan lembaga yang saya pimpin, yaitu Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ).
UPNVJ sangat memperhatikan aspek pendidikan karakter bagi para mahasiswanya untuk siap terjun menjadi pemimpin di tengah masyarakat dalam berbagai aspek, baik pemimpin bisnis atau perusahaan, pemimpin politik, maupun pemimpin-pemimpin di bidang-bidang sosial lainnya. Sementara itu “wawasan kebangsaan” akan terus ditanamankan sejak awal pendidikan, sehingga para mahasiswanya mempunyai rasa tanggungjawab yang besar terhadap negara dan bangsanya serta peduli terhadap kepentingan nasionalnya.
Koesnadi Kardi, Rektor Unversitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta.