Oleh: Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, MSc
Ada bagusnya Forum Rektor Indonesia (FRI) mengangkat ide Kementriean Ristek dan Perguruan Tinggi. Kalau tidak, bisa jadi orang tidak paham bahwa di PT ada masalah yang menyebabkan ilmu pengetahuan jarang disumbangkan dari negeri ini.
Alasan gagasan FRI itu cukup masuk akal dengan semakin besarnya tugas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menangani pendidikan dasar dan menengah. Itu saja sudah rumit, apalagi ditambah beban Perguruan Tinggi (PT). Selain itu, FRI juga menyatakan bahwa di zaman orde lama kementrian yang menangani ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi pernah ada. Memang betul, setahu saya SK pendirian IPB (Institut Pertanian Bogor) 1 September 1963 itu ditandatangani oleh Prof. Tojib Hadiwidjaja sebagai Menteri PTIP (Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan). Dan pada saat itu pun, PT kita termasuk bagus-bagus, terbukti dengan banyaknya mahasiswa dari negeri jiran yang dikirim ke sini. Saya masih merasakan kuliah bersama-sama mahasiswa dari Malaysia di pertengahan dekade 70. Sebagai hasilnya, di akhir tahun 90 - awal 2000, banyak pimpinan universitas di Malaysia adalah alumni S1 PT Indonesia, terutama dari UI, IPB, ITB, dan UGM. Begitu juga para saintisnya. Tapi, kisah sukses ini saya pikir tidak akan berlanjut.
Atas dasar itulah FRI menyodorkan gagasan agar kelembagaan PT dipindahkan dari Kemendikbud ke Kemenristek. Dengan demikian, harapan FRI, PT bisa fokus membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan melalui riset yang berbobot. Ketika saya ditanya beberapa wartawan soal ini, saya bukan tidak setuju dengan upaya alih naungan ini, tetapi saya tidak yakin bahwa ini adalah solusi yang tepat. Akar permasalahan dari ketertinggalan PT kita dalam membangun ilmu pengetahuan bukan terletak pada persoalan organisasi atau struktural, tetapi lebih cenderung ke persoalan kultural. Artinya, persoalannya sangat kompleks, tidak sekedar tempat kedudukan kementrian yang menaungi PT.
Pemindahan PT ke Kemenristek hanya akan memindahkan masalah yang sama ke lembaga berbeda, dus ini bukan solusi. Itulah hakekatnya saya kurang setuju dengan ide FRI. Maka pada wawancara itu saya menyarankan agar FRI mengkaji dulu secara mendasar apa persoalan kemandegan ilmu pengetahuan di Indonesia ini. Kepada wartawan saya katakan bahwa solusi melalui pendekatan struktural itu bersifat trivial, tidak mendasar, hanya lapis luar saja. FRI yang mewakili PT sebagai tempat berkumpulnya para intelektual, sebaiknya menyodorkan saran yang lebih mendasar, bukan sekedar lapisan luar.
Membangun Budaya Akademik
Persoalan yang mencuat di hampir semua PT di Indonesia adalah lemahnya budaya akademik. PT saat ini keranjingan birokrasi yang cukup akut. Seorang Rektor PT jarang menjadi panutan pemikiran akademik yang mampu mencerahkan civitas akademikanya, apalagi masyarakat luas. Dia terlalu dianggap sebagai pimpinan birokrasi paling atas, diteruskan oleh pimpinan lapis berikutnya seperti para Pembantu Rektor, Kepala Biro, Dekan, dan seterusnya. Bagi seseorang yang berbakat feodal dan jiwa politik, tentu saja kondisi ini sangat menyenangkan. Tetapi bagi kemajuan ilmu pengetahuan, hal ini justru merugikan. Kalaupun ada penemuan-penemuan di PT, jarang sekali mempengaruhi konstalasi ilmu pengetahuan dunia baik dari tataran teori dan konsep, ataupun aplikasi atau teknologinya.
Sehingga laporan hasil penelitian hanya menumpuk di meja kantor LPPM, atau paling banter di perpustakaan. Hasil riset ini sering jadi hiasan kebanggaan pimpinan PT yang merasa bahwa kampusnya memiliki penemuan terbanyak. Tetapi, kalau kita telusuri, dampaknya terhadap masyarakat masih nihil, jauh dari harapan. Dan hal ini terus terjadi dari tahun ke tahun. Berulang-ulang, menghambur-hamburkan kertas.
Memang situasi birokrasi yang sangat kental itu adalah efek dari kelembagaan dikti (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi) yang diposisikan di atas. Dengan demikian, perilaku birokrat dikti tidak hanya menetes ke bawah, tetapi dipercepat dengan pola surat edaran, SK-SK, instruksi-instruksi dan surat birokrasi lainnya yang harus ditaati oleh birokrat kampus. Terjadilah percepatan perilaku birokrasi di PT sebagai satuan kerja atau jawatan yang berada di bawah naungan dikti. Hubungan dosen dan pimpinan akhirnya mirip pola atasan-bawahan. Hubungan dosen-mahasiswa cenderung transaksional. Semuanya serba administratif, kurang substansial. PT tidak lagi menjadi tempat belajar atau learning society. Faktor-faktor inilah penyebab kemandekan perkembangan ilmu pengetahuan di PT.
FRI menganggap bahwa itu adalah akibat dari keberadaan PT di bawah kemendikbud. Akhirnya harus dipindahkan. Yang tidak dianalisis dalam gagasan itu adalah faktor kultural. Tidak mustahil pola atasan-bawahan dengan kerijidan administrasi dan birokrasi model perkantoran ini juga sebenarnya ada di Kemenristek. Para deputi dan birokrat yang ada di kementrian itu kelak otomatis akan nenjadi atasan para pimpinan kampus yang akan membuat situasinya tidak akan berubah. Sejauh pola yang diambil hanya dari pendekatan struktural, keadaan PT akan sama saja seperti saat ini. Hanya beda tempat.
Jadi, apa yang harus dilakukan? Singkatnya kembangkanlah budaya akdemik dan jadikan kampus sebagai masyarakat ilmiah. Hubungan civitas akademika dengan pimpinan kampus lebih bersifat fungsional, bukan atasan-bawahan. Serta hubungan antara dosen bersifat dialog gagasan, percaturan ide, kolaborasi riset, pertukaran paper akademik, uji coba konsep dan teknologi, serta pergumulan berbasis pemikiran lainnya. Untuk itu, PT harus disokong oleh staf administrasi dan manajemen profesional yang handal. Bukan malah dosen pada ramai-ramai mengisi jabatan administrasi, misalnya seorang doktor mikrobiologi menangani unit fasilitas dan properti. Jelas hal ini merugikan keduanya, kampus dan dosen itu sendiri. Sebagai akibat langsung, PT itu tidak maju dan ilmu pengetahuan mandek. Akhirnya mahasiswa dan dosen hanya menjadi pemamah biak ilmu pengetahuan penemuan ilmuwan asing.
Itulah persoalannya, mohon agar para pengurus FRI memikirkan hal-hal yang mendasar. Jangan terbawa oleh para politikus yang memanfaatkan tahun politik. (***)
Penulis adalah: Rektor Universitas Trilogi/Guru Besar Statistika FMIPA IPB
Penulis : Prof. Dr. Ir. Asep S