Oleh: Oleh: Jonas KGD Gobang S. Fil; MA
Media adalah tempat di mana pertarungan ideologi terjadi. Sementara itu, Habermas menegaskan bahwa media merupakan sebuah realitas di mana ideologi dominan dalam hal ini kapitalisme disebarkan kepada khalayak dan membentuk apa yang disebutnya sebagai kesadaran palsu (false consciousness) (Maryani, 2011: 40). Media massa di Indonesia hendaknya tetap berperan sebagai instrumen sosial yang mencerahkan masyarakat. Rakyatpun semakin kritis menilai pemberitaan dan informasi yang disajikan media sehingga hal itu akan menjadi taruhan bagi bertahan atau tidaknya sebuah media.
Media lokal yang independen, disemangati oleh idealisme dan manajemen yang baik dapat menjadi entitas penting di daerah. Media lokal tidak hanya memberikan informasi yang akurat tetapi juga mampu memberikan pendidikan politik bagi masyarakat di daerah. Media lokal menjadi kuat dan memiliki kapasitas untuk mengawal tata kelola pemerintahan daerah yang baik. Namun yang patut mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta, dalam hal ini civil society termasuk media lokal itu sendiri adalah literasi media bagi masyarakat di daerah terpencil, seperti masyarakat di wilayah Provinsi NTT yang literasi medianya masih sangat rendah.
Studi kritis dengan menggunakan analisis wacana kritis mengungkapkan bahwa literasi media belum memadai sehingga butuh kerja keras media lokal untuk mengembalikan hak-hak rakyat. Media sebagai institusi dan pekerja media sebagai subyek harus tetap menampilkan diri sebagai institusi media dan pekerja media yang bebas (independen) disertai keberanian moral untuk tidak “dibeli” oleh para pemilik modal dan pemegang kuasa.
Media harus bekerja dengan prinsip-prinsip tertentu sehingga akuntabilitasnya dapat ditakar oleh pembaca, pendengar, pelanggan dan pemirsanya. Media massa di Indonesia hendaknya tetap berperan sebagai instrumen sosial yang mencerahkan masyarakat agar menjadi warga yang cerdas dan kritis sehingga bisa membangun demokrasi yang substantif dalam sistem pemerintahan kita. Bila media mengingkari perannya ini, rakyatpun akan semakin kritis menilai pemberitaan dan informasi yang disajikan media sehingga hal itu akan menjadi taruhan bagi bertahan atau tidaknya sebuah media.
Rakyat menjadi gerah dengan semua yang terjadi di panggung politik yang dimainkan para aktor politik yang diberitakan oleh berbagai media massa baik cetak maupun elektronik. Rakyat perlu mendapatkan informasi yang tepat dan akurat tentang berbagai permasalahan, seperti korupsi yang terus menggerogoti berbagai lembaga negara, dari pusat sampai ke daerah dan bahkan sampai ke desa-desa. Penegakan hukum carut-marut padahal demokrasi kita adalah demokrasi konstitusional yang mengedepankan penegakan supremasi hukum agar rakyat menemukan keadilan sesuai dengan cita-cita keadilan yang ada dalam nurani masyarakat.
Media massa yang menghasilkan produknya berupa informasi, berita dan hiburan harus mampu memberikan pencerahan bagi masyarakat, khususnya di daerah terpencil dan terisolasi. Masyarakat atau rakyat janganlah menjadi “jargon” atau pun istilah klise yang biasa dipakai di dalam kampanye-kampanye bombastis. Rakyat atau masyarakat adalah subyek riil yang ada di setiap tempat, wilayah di tanah air ini. Mereka perlu memahami dengan benar apa yang diberitakan oleh media massa. Mereka juga perlu mendapatkan akses informasi dan berita-berita yang berkualitas, tidak sekadar hiburan yang murah. Sebab dengan mengakses informasi dan berita-berita yang berkualitas, masyarakat dapat ikut mengontrol tata kelola pemerintahan mulai dari pusat hingga ke pelosok desa. Masyarakat membutuhkan berita-berita yang membawa pencerahan dan harapan untuk berkehidupan yang lebih baik.
Berita dapat didefinisikan sebagai "signalizing dari suatu peristiwa". Semua karakteristik yang biasa dinegosiasikan dengan berita atau urusan publik media dapat ditemukan di media lain, and those we associate with popular or entertainment media can be dan orang-orang yang terkait dengan atau media hiburan populer dapat found in the news. ditemukan dalam berita. We do not conclude from this that.
Bila kita mengamati berita-berita yang diproduksi oleh berbagai media (pers) di Indonesia), kita boleh bertanya, informasi apa yang publik dapatkan dan ada kepentingan apa dibalik informasi yang menjadi berita media itu? Dalam tataran ini bahasa memainkan peranan penting. Bahasa dipakai oleh media untuk menyampaikan informasi kepada publik. Bahasa media akan menjadi alat (tools) ideologi tertentu yang dimainkan baik oleh penguasa, pemilik modal maupun pemilik media.
Identitas khalayak komunikasi politik di semua level (elit, kelas menengah, grass root) harus nampak dalam partisipasi politik yang aktif. Jangan sampai rakyat di level paling rendah hanyalah sesuatu yang “hampa” belaka. Banyak program atas nama rakyat tetapi yang terjadi adalah untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Inikah yang sedang terjadi di bumi Indonesia?***
Penulis adalah Wakil Rektor I, Universitas Nusa Nipa, Maumere, Flores NTT yang juga Dosen Filsafat Komunikasi pada Program Studi Ilmu Komunikasi.