Minggu ini, saya akan pergi ke Tokyo untuk bergabung dengan Akie Abe, istri perdana menteri Jepang, dalam rangka mengumumkan kerja sama baru Amerika Serikat (AS) dan Jepang untuk mendidik semua remaja perempuan di dunia. Sebagai bagian dari upaya ini, pemerintah AS telah merilis inisiatif internasional bernama “Let Girls Learn” untuk menyekolahkan anak-anak perempuan di negara berkembang sampai selesai.
Melengkapi investasi sebelumnya oleh negara-negara seperti Inggris, investasi baru ini mencerminkan konsensus global yang menilai banyak potensi manusia terbuang tragis ketika 62 juta anak perempuan di seluruh dunia tidak bersekolah. Hal ini merupakan masalah kesehatan publik serius, tantangan ekonomi nasional dan kemakmuran global, serta ancaman terhadap keamanan negara-negara dunia, termasuk AS.
Riset jelas menunjukkan remaja perempuan yang mengenyam pendidikan sampai sekolah menengah akan menikah dan punya anak di usia yang lebih tua, serta memiliki tingkat kematian ibu-bayi dan risiko terpapar HIV/AIDS lebih rendah. Setiap pendidikan tambahan selama satu tahun dapat berarti peningkatan 10%-20% dalam kemampuan seorang remaja perempuan meraup pendapatan. Ekonomi satu negara dapat terangkat jika lebih banyak remaja perempuan bersekolah. Pengamat keamanan nasional telah mencatat ekstremisme, kekerasan, dan ketidakstabilan dapat diperangi dengan mendidik perempuan.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah kita harus berinvestasi dalam edukasi perempuan dunia, terutama pendidikan bagi remaja putri, namun bagaimana. Sampai 2012, setiap negara berkembang di dunia telah atau hampir mencapai kesetaraan gender dalam hal pendidikan dasar. Namun kesenjangan gender masih ditemui dalam pendidikan sekolah menengah, mengingat remaja perempuan harus memenuhi nilai-nilai dan praktik budaya yang mendefinisikan, dan membatasi, prospek perempuan dalam masyarakat mereka.
Kita tidak bisa membahas masalah pendidikan remaja perempuan tanpa menyinggung tantangan rumit yang membuat banyak remaja putri tidak bersekolah: dari mutilasi atau pemotongan alat kelamin perempuan, pernikahan dini dan paksa, hingga hambatan ekonomi seperti tak terjangkaunya biaya sekolah dan hilangnya sumber pendapatan dalam keluarga para remaja perempuan.
Keselamatan adalah contoh yang tepat. Banyak orang tua di negara berkembang takut putrinya akan menjadi korban pelecehan seksual saat berjalan ke atau dari sekolah. Ini adalah kekhawatiran yang wajar dan dialami setiap orang tua. Namun di banyak negara, orang tua tidak hanya khawatir soal ancaman fisik dan emosional bagi putri-putrinya, mereka juga cemas akan risiko prospek pernikahannya. Orang tua takut putrinya akan dipandang sebagai “barang rusak” dan tidak ada yang mau menafkahinya ketika dewasa.

Oleh karenanya, dalam upaya kami mengusahakan pendidikan bagi remaja perempuan, kami sering meminta orang mengubah atau mengabaikan nilai-nilai dan tradisi komunitas yang telah mengakar dan mengambil tindakan yang seolah-olah bertentangan dengan kepentingan putri-putri mereka. Meski kesenjangan gender dalam pendidikan adalah tantangan global, penyebabnya kerap kali lokal dan harus dipecahkan sesuai adat setempat. Ini adalah prinsip Let Girls Learn, yang bekerja dengan inisiatif baru berfokus komunitas dan dijalankan oleh Peace Corps.
Sebanyak hampir 7.000 sukarelawan Peace Corps asal AS tinggal dan bekerja di negara-negara berkembang dan tahu banyak soal kesulitan yang dihadapi remaja perempuan. Lewat Let Girls Learn, Peace Corps akan melatih semua sukarelawannya dalam masalah gender dan pendidikan bagi remaja perempuan. Ratusan sukarelawan ini lantas akan bekerja penuh waktu untuk mengembangkan program edukasi berbasis lokal, dari kamp kepemimpinan sampai proyek mentoring.
Upaya ini sepenuhnya mensyaratkan keterlibatan komunitas dan memakai solusi dari pemimpin lokal, keluarga, dan para remaja perempuan itu sendiri. Jepang juga memakai pendekatan komunitas serupa dalam upayanya mengembangkan pendidikan bagi remaja perempuan. Selama lawatan saya ke Asia minggu ini, saya akan mengunjungi sebuah sekolah di Kamboja, salah satu negara pertama bagi program Let Girls Learn. Sukarelawan Peace Corps pun telah mengubah kehidupan remaja perempuan di sana.
Mengingat besarnya tantangan ini, aksi AS dan beberapa negara yang prihatin saja tidak akan cukup. Itulah mengapa minggu ini di Jepang kami akan menyerukan semua negara dunia untuk bergabung dengan kami dalam menciptakan program mereka sendiri guna membantu remaja perempuan belajar.
Meski fokus program ini pada komunitas internasional, Let Girls Learn juga ingin menginspirasi pemuda-pemudi AS untuk tetap mengenyam pendidikan. Lewat Let Girls Learn, saya ingin remaja perempuan—dan laki-laki—di AS paham soal tantangan yang dihadapi remaja perempuan di negara lain untuk bersekolah. Saya ingin mereka paham bahwa, meski sekolah mereka jauh dari sempurna—dan suami saya bekerja keras untuk mengubah itu—mereka tetap punya tanggung jawab untuk bersekolah setiap hari dan belajar sebanyak mungkin. Saya ingin remaja AS terhubung dengan remaja lain dari latar belakang dan negara yang berbeda, terutama dengan perempuan muda yang telah memberi contoh kuat.
Remaja perempuan ini berjalan berkilo-kilometer jauhnya setiap hari ke sekolah, belajar berjam-jam setiap malam, dan bertahan meski komunitasnya mengatakan mereka tidak perlu belajar. Jika mereka siap berkorban, komunitas global seharusnya mampu mengumpulkan sumber daya agar mereka dapat memanfaatkan potensi diri, keluarga, komunitas, dan negara mereka. [16. March 2015, 17:25:19 SG]
Michelle Obama adalah Ibu Negara Amerika Serikat.
Sumber: http://indo.wsj.com/posts/2015/03/16/michelle-obama-setiap-remaja-perempuan-harus-bersekolah/