Loading
Daniel Dike Tukan (Foto: Ist)
Oleh: Daniel Dike Tukan
Merefleksikan pengalaman sekolah di Desaku, Tuakepa Flores Timur Nusa Bunga, tempat saya bersekolah dahulu 35 tahun silam, sangat terasa bahwa banyak hal telah berubah sangat jauh bila dibandingkan level Sekolah Dasar seperti Yogyakarta saat ini. Tidak hanya lingkungan fisik tetapi juga lingkungan sosial, lingkungan psikologis, lingkungan alam, mutu guru, kultur social, seting kelas, media dan sumber belajar, pembiayaan dan pengelolaan bahkan sarana prasarana.Tak pernah terbanyangkan dahulu bahwa sebagai anak kampung tidak pernah memimpikan sebuah horison holistik ketika mempersoalkan mutu belajar di ruang-ruang kelas. Dari sisi pembiayaan misalnya, sekolah TK SD dekat kontrakan biaya awal fantastic dengan nilai Rp menembus angka 20 jutaan. Menjadi sangat mustahil bagi orangtua-orangtua petani kampung bermimpi anaknya bisa menikmati sekolah semacam ini.
Kebanyakan sekolah mulai mempercantik tampilan fisik dan mutu layanan agar memberikan perspektif dan prosepek yang lebih Ok. Setiap sekolah menggagas berbagai visi agar uptodate bahkan sangat ideal, visioner dengan label sekolah unggulan, sekolah plus untuk merebut hati masyarakat. Nilai ekonomis dan bisnis terasa sangat dominan mewarnai sekolah yang menyebut diri unggul tentu dengan angka biaya pendidikan yang tidak murah. Masuk sekolah dasar saat ini bahkan mengalahkan pembiayaan untuk kuliah S2 dan S3 jika dikalkulasi dalam durasi enam tahun seorang siwa SD menjalankan pendidikan di sekolah dasar. Jika kita rupiahkan mulai dari harga 4 jutaan sampai 25 jutaan untuk tahapan awal tahun pertama seorang anak TK menjalani pendidikan sehingga sekolah oleh Friere menyebutnya “sebuah kapitalisme yang licik” (Escobar, Miguel, 1998). Benarkah semakin mahal sekolah semakin bermutu? Apakah sekolah yang bermutu harus mahal? Problemnya adalah takaran mutu dan mahal untuk tiap orang tak sama?
Mereleksikan fakta dan asumsi semacam ini membuat saya berpikir dan bermenung dengan pertanyaan berikut apa sesungguhnya yang terjadi dalam kelas-kelas di Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar kita saat ini? Apa yang guru dan siswa lakukan selama beberapa jam tiap hari dalam satu pekan, dalam beberapa bulan bahkan dalam beberapa tahun sampai siswa tersebut menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar? Kondisi-kondisi serta strategi apa yang dapat dilakukan untuk mendukung agar proses dan tujuan belajar dapat dilakukan dengan baik dan mencapai hasil yang maksimal sesuai harapan semua stakeholder karena asumsi mutu terjadi bukan hanya pada input output tetapi pada proses sesungguhnya di ruang kelas yang selama ini mungkin kurang dikritisi oleh orangtua dan masyarakat tanpa member penghalkiman dan pengadilan yang tak adil pada guru yang berjuang tanpa pamrih.
Pertanyaan-pertanyaan ini menghantar saya untuk mengkaji secara ilmiah melihat strategi membangun iklim posistif dalam pembelajaran di sekolah dasar sebagai sebuah kondisi mutlak yang perlu dibangun sekolah, bagaimana guru dan siswa dalam pembelajaran dapat mencapai tujuan belajar secara efektif dan efisien. Harapannya, tulisan ini memberikan entrypoint bagi penulis sendiri sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi sekaligus mejadi catatan kritis bagi praktek pembelajaran di sekolah dasar yang barangkali lupa memperhatikan kondisi-kondisi yang mendukung siswa belajar.
Apa yang sesungguhnya terjadi di kelas-kelas sekolah dasar? Bercermin pada situasi terkini pelaksanaan kurikulum nasional saat ini dengan adanya pembatalan atau pelaksanaan secara terbatas kurikulum 2013 dan berlakunya kembali kurikulum 2006 tentu sedikit banyak mempengaruhi aspek psikologis pembelajaran guru dan siswa di kelas. Konteks kurikulum tentu akan bersentuhan dengan hal, ketepatan perumusan standar kompetensi lulusan (SKL), dan struktur kurikulum, isi dan proses implementasi kurikulum dalam kegiatan belajar. Meskipun demikian penulis merasa, hal yang juga penting dalam proses belajar adalah kita tidak hanya berbicara menyusun kurikulum yang hebat untuk sekolah dasar, atau mempersiapkan guru yang bermutu tetapi berbicara juga kondisi-kondisi serta aspek-aspek yang memungkinkan siswa untuk belajar.
Tema ini sepertinya dalam perspektif banyak orang merupakan hal yang diandaikan, bahwa jika guru bermutu dan kurikulumnya bagus maka pembelajaran akan mudah. Karena yang ada dibenak guru adalah bagaimana memiliki sebuah ruang kelas sebagai tempat dimana siswa berkumpul di sekolah dan siap untuk belajar, siswa bekerja dan belajar dengan tekun untuk menguasai standar akademik, dan kembali ke rumah dengan hasil belajar yang akurat, lengkap. Harapan guru setiap hari bahwa siswanya dapat kembali ke sekolah keesokan harinya dan bisa belajar lebih banyak lagi (Siswo Murdwiyono, 2009).
Seringkali, guru begitu terfokus pada perihal untuk memastikan bahwa siswanya harus lulus tes, menyelesaikan target-target guru, target-target kurikulum sehingga siswa hanya memiliki sedikit atau tidak ada banyak waktu untuk memenuhi kebutuhan sosial dan emosional siswa. Guru kurang peduli dengan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa untuk belajar. Tidak jarang pada level Taman-Kanak-Kanak, anak-anak harus dipaksa untuk secepatnya bisa memahami matematika, bisa menulis angka, huruf, berhitung, melafalkan bahasa Inggris, karena itulah ukuran keberhasilan belajar bagi guru dan orangtua. Kebanyakan orangtua merasa bangga jika anak TK Kecil sudah bisa menulis angka 1-10, bisa menghitung, mewarnai dengan baik pada gambar sesuai yang diinginkan untuk dinilai agar raport anak mendapatkan catatan rangking dan pujian. Sebagai orangtua kadang juga cemas jika perkembangan kognitif anak tertinggal dari anak-anak yang lain. Pada konteks inilah saya menyoroti kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa belajar dari perspektif perkembangan sosial, moral, kognitif dan perilaku belajar siswa (Bandura,1991).
Guru Tidak Sekedar Sebuah Pekerjaan
Belajar memiliki peran sentral dalam pendidikan. Meskipun kurikulum cenderung ditentukan oleh pemerintah, dan berbagai kebijakan diatur oleh dinas pendidikan, tetapi soal bagaimana hal mengajarkan kepada siswa seluruhnya diserahkan kepada masing-masing guru di kelas. Penelitian psikologi pendidikan terhadap sifat pembelajaran dan berbagai cara yang digunakan guru memiliki implikasi praktis yang penting bagi siswa (Martin Long, Clare Wood, et.all. dalam The Psychology of Education 2nd edition mencatat bahwa, “Being a teacher is far more than a job, a duty, or a paycheck. It is a calling” (Cunningham, 2009:11).
Ungkapan Cunningham, menjelaskan tentang tidak hanya posisi dan peran guru yang menentukan seorang siswa belajar tetapi visi guru tentang belajar berkaitan dengan semua komponen secara holistik menjadi kondisi yang menentukan bagaimana semua aspek dapat bekerja dan menciptakan pembelajaran. Asumsi guru terhadap siswa sangat menentukan perilaku guru dalam pembelajaran di kelas. Ungkapan “Good teachers come to school and teach students who learn a little. Great teachers have clear goals and a big vision for students to learn and achieve at high levels” (Cunningham, 2009:13), Cunningham mencatat bahwa guru yang baik hanya membuat siswanya belajar sedikit saja tetapi guru hebat datang ke sekolah dan mengajar dengan tujuan yang jelas dengan visi besar bagi siswa untuk belajar dan mencapai level tertinggi.
Guru hebat tahu apa yang siswa inginkan dan menuntun ke arah mana agar siswa dapat mengetahui dan mencapai keberhasilan seperti yang diinginkan siswa. Guru harus memiliki keyakinan bahwa semua siswa memiliki kemampuan untuk belajar (all students are capable of learning), para siswa memiliki kemauan atau keinginan untuk belajar (students want to learn), semua siswa mengingnkan kesuksesan atau keberhasilan (all students want to succeed) dan guru harus sadar bahwa siswa membutuhkannya (students need me). Pada aspek ini kebanyakan guru kita tidak belum memperkuat asumsi pengajaran dan belajar yang jelas bagi siswanya. Hal ini belum banyak dimiliki oleh kebanyakan guru kita dengan visi besar sebagai guru hebat.
Dalam belajar siswa harus memiliki motivasi, siswa harus bersemangat, senang, gembira dengan belajar. Siswa harus bisa mencapai tujuan pelajaran yang dicapai di semua tingkatan. Siswa harus belajar mandiri, siswa harus mandiri dan bersedia untuk menantang diri mereka sendiri. Siswa harus memiliki keyakinan tentang belajar mereka. Semua siswa merasa akan tumbuh sebagai peserta didik, mereka akan memperluas cinta mereka terhadap belajar, memperluas pengetahuan akademiknya, siswa akan mendapatkan keterampilan dan memahami konsep-konsep yang akan membawa mereka untuk sukses dalam hidup.
Kelas merupakan kondisi eksternal yang sangat penting yang mendukung keberhasilan belajar siswa. Kelas yang baik adalah kelas yang sehat, bersih, nyaman untuk belajar, membangkitkan inspirasi, motivasi dan membuat siswa senang dan mencintai bahkan bangga dengan sekolahnya. Sekolah yang baik tidak hanya dilihat dari bangunan fisik yang megah tetapi bagaimana guru dan siswa mendefinisikan dan memaknai kelas pada setiap aktivitas belajar mereka. Kelas tidak hanya sebuah dimensi fisik tetapi ruang batin, ruang kejiwaan dan emosional untuk sebuah komunikasi dan interaksi yang memastikan hati dan pikiran siswa ada di setiap ruang kelas ketika belajar itu terjadi.
Mengasah Kompetensi
Visi besar seorang guru akan mati ketika dia sendiri tidak merasa selalu tertantang, berpikir untuk terus menerus mengembangkan kompetensinya. Dengan formasi kesembilan unsur yang ada pada guru akan memungkinkan guru menjadi orang yang selalu dinanti, menjadi sosok pembeda, ia akan selalu ada pada daftar tunggu bagi siswa yang ingin belajar. Pada situasi dan kebutuhan siswa seperti ini maka guru perlu memberi peluang bagi siswa untuk memperoleh pengalaman melalui kegiatan pengamatan, melakukan eksperimen, percobaan, membaca buku, menelaah teks-teks, membuat sketsa, mencari kata-kata dan istilah baru di kamus dengan demikian kelas menjadi dikelola, terkondisi untuk belajar. Sering guru kita kurang mengasah kompetensinya secara progresif dan inovatif (to be competence) karena guru terjebak pada pola “banking approach” (Freire, 2009). Menuju guru yang kompeten tidak hanya sekedar mengejar sertifikat profesi guru sebagai tujuan ekonomis tentu tidak cukup, memiliki visi sebagai guru hebat, memiliki rencana unit pembelajaran yang jelas, tahu apa yang siswa butuhkan dalam belajar, mengembangkan style mengajar, merancang tujuan belajar adalah sesuatu yang rutin tetapi jika tidak diasah maka kemampuan guru tak akan banyak berubah. Banyak yang berubah gelar, berubah kualifikasi tetapi mungkin tak banyak yang berubah dari sisi komtensinya. Guru yang hebat selalu meningkatkan dan mengasah kompetensinya.
Penulis adalah Dosen STKIP Persada Khatulistiwa, Sintang, Kalimantan Barat.