Selasa, 27 Januari 2026

Transformasi Pendidikan Nilai Pada Anak


  • Penulis Dr. Muhammad Basrow
  • Rabu, 24 Juni 2015 | 00:00
  • | Perspektif
 Transformasi Pendidikan Nilai Pada Anak Dr. Muhammad Basrowi (Foto: Ist)
Oleh: Dr.  Muhammad Basrowi

Secara substansial, pendidikan nilai sangat emergensi untuk segera diterapkan di seluruh struktur pendidikan yang ada, mengingat dekadensi moral yang terjadi selama ini telah meresahkan masyarakat.

Pendidikan nilai berorientasi pada pentingnya seseorang memiliki sikap dan perilaku positif terhadap diri dan orang lain. Pendidikan nilai berupaya membentuk pribadi anak menjadi manusia, warga masyarakat, dan warga negara yang baik, yaitu mereka yang memiliki dan melakukan nilai-nilai sosial dalam hidupnya.

Penerapan pendidikan nilai perlu dilakukan secara holistik dan didesain dalam proses pembelajaran yang menyenangkan. Pendidikan nilai hendaknya tidak hanya mewarnai, tetapi mampu mentransformasi ruang publik yang sebelumnya didominasi oleh wacana hedonis. Kehadiran pendidikan nilai, di ruang publik harus dilihat bukan semata sebagai bagian dari aspirasi-aspirasi publik, namun juga sebagai identitas sosial yang menonjol.
Proses penanaman nilai-nilai yang terjadi pada masyarakat modern yang dilakukan oleh dunia pendidikan formal dan nonformal yang berfokus terutama pada penekanan nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran dalam wacana publik telah mengubah tatanan masyarakat dari masyarakat yang tidak mengenal nilai menjadi mengetahui, memahami, mengamalkan nilai-nilai.


Strategi gerakan penanaman nilai ke masyarakat hasilnya memang belum sepenuhnya mampu mengubah wilayah-wilayah kelompok masyarakat yang amoral, akan tetapi dengan upaya serius dalam mendorong pendidikan nilai pada ranah publik diharapkan mampu mengubah tatanan masyarakat menjadi lebih bernilai.

Untuk mengubah secara cepat tatanan masyarakat yang tidak bernilai menjadi bernilai, sesungguhnya dapat dilakukan dengan merefleksikan spirit masyarakat pada dedikasinya untuk mempelajari berbagai pendidikan nilai secara serius.

Berkaitan dengan peran guru, tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan media yang terjadi dalam proses pendidikan nilai pada masyarakat, pada dasarnya dapat memberikan bimbingan kepada masyarakat dalam menerapkan pendidikan nilai dengan sempurna. Proses menanaman nilai-nilai pada masyarakat dapat dikatakan telah berhasil manakala ekspresi pendidikan nilai di tengah-tengah masyarakat menjadi semakin marak, dan masyarakat telah dengan ekspresif mengamalkannya. Selain itu, pola kehidupan masyarakat menjadi tertata melalui kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang sistematis dan terbuka. Begitu juga, kesadaran masyarakat melaksanakan nilai-nilai kebaikan menjadi semakin tinggi, yang selanjutnya pendidikan nilai diperluas ranah pengaruhnya pada pola kehidupan kemasyarakatan secara umum.

Proses pendidikan nilai yang berhasil juga ditandai adanya perilaku masyarakat yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai, bahkan nilai-nilai yang dianut menjadi pertimbangan penting dalam hidup bermasyarakat, menjadi rujukan utama dalam melaksanakan kegiatan ekonomi, menjadi muatan isi ruang-ruang publik wilayah politik, dan menjadi nafas utama masyarakat secara umum. Pendidikan nilai juga mewarnai dinamika diskursif, yang ditandai antara lain oleh pembangunan kurikulum pendidikan formal, penampilan pendidikan nilai di ruang publik, pembentukan institusi pengembangan pendidikan nilai pada wilayah publik. pelaksanaan berbagai kegiatan yang bernilai, pembangunan jaringan afiliasi dengan seluruh pilar demokrasi, pembentukan akhlak generasi muda yang sarat nilai, pendidikan nilai-nilai di lembaga keagamaan, pelantunan musik yang bermuatan pendidikan nilai, pemasangan spanduk-spanduk yang bermuatan pendidikan nilai yang diletakkan di tempat-tempat umum. penempatan dan penugasan tokoh-tokoh muda menjadi agen pendidikan nilai di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam proses penanaman pendidikan nilai, secara sosiologis telah masuk dalam lingkup sosial, kekuasaan politis, kesejahteraan, kewajiban hukum, afeksi personal, dan rasa akan keindahan. Pendidikan nilai telah membentuk seluruh tatanan sosial, sebagai konstruksi dari realitas objektif, dan menjadi sumber seluruh tindakan dan tatanan tentang keteraturan itu bersumber. Maraknya penanaman pendidikan nilai di ruang publik merupakan bagian integral dari  proses pembangunan sumber daya manusia di tanah air yang berlangsung sejak lama, dan kini tengah mengalami proses penguatan dan pendalaman yang berarti.
Terkait dengan itu, tenaga pendidik perlu mengenal beberapa hal penting yang berkaitan dengan penddikan nilai yaitu: pendekatan penanaman nilai, perkembangan kognitif anak, analisis nilai, klarifikasi nilai, dan afeksi. Pendekatan tersebut dapat diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat sehingga dimungkinkan dapat menerapkan pendekatan secara kolaboratif atau campuran.

Pertama, penanaman pendidikan nilai yang baik  adalah pendidikan nilai yang sesuai dengan pribadi masa kini dan masa yang akan datang, bukan indoktrinasi nilai menurut agama tertentu, tempat tertentu, atau adat tertentu, tetapi nilai universal yang berlaku secara umum. Kedua, perkembangan kognitif anak menjadi dasar dalam penanaman pendidikan nilai pada anak. Tingkat-tingkat perkembangan moral anak dimulai dari kesadaran akan adanya konsekuensi yang sederhana, sampai kepada penghayatan dan kesadaran tentang nilai-nilai kemanusian universal. Ketiga, analisis nilai memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan anak untuk selalu berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Hasil analissi ini telah mampu mengubah masyarakat menjadi tidak lagi termarjinalkan, tetapi telah menjadi bagian dari ekspresi politik, kegiatan ekonomi, dan aktivitas sosial budaya lainnya. Keempat, klarifikasi nilai memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. Pendekatan ini memberi penekanan pada nilai yang sesungguhnya dimiliki oleh seseorang. Kelima, pendekatan pembelajaran berbuat memberi penekanan pada usaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok.

Berbagai benang merah yang dapat ditarik melalui uraian di atas, adalah bahwa berbagai pendekatan pendidikan nilai yang berkembang dapat digunakan untuk mengimplementasikan kurikulum 2013 yang proses pembelajarannya memadukan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Pelaksanaan program-program Pendidikan nilai perlu disertai dengan keteladanan guru, orang tua, dan orang dewasa pada umumnya. Lingkungan sosial yang kondusif bagi para siswa, baik dalam keluarga, di sekolah, dan dalam masyarakat juga memberikan kontribusi positif dalam penerapan nilai pekerti secara holistik.(Sumber: http://opinisosiologipendidikan.blogspot.com)

Penulis adalah Doktor Sosiologi, Pengarang Buku Sosiologi Pendidikan, PNS, Pengamat Pendidikan, dan Pengajar di berbagai PTS di Serang dan Jakarta.
Penulis : Dr. Muhammad Basrow

Perspektif Terbaru