Selasa, 27 Januari 2026

Ini yang Harus Dilakukan Orangtua Bila Anak Mengalami Cyber Bullying


  • Penulis Maria L Martens
  • Sabtu, 15 Desember 2018 | 00:00
  • | Ragam
 Ini yang Harus Dilakukan Orangtua Bila Anak Mengalami Cyber Bullying Dampingi anak bila mengalami cyber bullying (Net)

SEPANJANG minggu ini, kita mengikuti pemberitaan tentang kegigihan artis Ussy Sulistiawaty mendampingi putrinya yang mengalami bullying (perundungan) dari teman-temannya. Ia dibuat geram dengan tindakan para warganet yang membully putrinya di media sosial Instagram. Sang putri bahkan sampai drop mental dan tidak mau makan. Buntutnya, Ussy memperkarakan hal itu untuk membuat efek jera bagi para pelaku.

Tidak ada orangtua yang membayangkan jika suatu hari putra dan putrinya menjadi korban bully. Bullying, juga dikenal dengan istilah perundungan, memang masih menjadi PR besar bagi pihak sekolah, orangtua, dan terutama anak-anak itu sendiri.

Sebuah penelitian kesehatan menyebutkan, bullying bisa berpengaruh sepanjang hidup anak, hingga ia dewasa. Ketika seseorang merasa stres dengan ancaman konstan dari bullying, respon fight or flight mereka akan bekerja. Ketika ini terjadi, otot-otot menegang, jantung berdebar kencang, dan tubuh melepaskan adrenalin dan kortisol. Seiring waktu, reaksi ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Misalnya, kecemasan (anxiety attack), depresi, sakit punggung, sakit perut, cedera fisik (patah tulang, luka sobek, dan lainnya), pusing dan kepala berkunang-kunang, serta mudah marah.

Bagaimana orangtua harus bersikap ketika terjadi cyber bullying pada anak?

Kebanyakan anak-anak dan remaja yang mengalami cyber bullying tidak mengerti sepenuhnya apa yang terjadi. Mungkin ketika mereka merasa tertindas, mereka akan merasa ketakutan atau bahkan marah. Maka itu, butuh peran orangtua untuk mendampinginya. Ini hal yang harus dilakukan orangtua saat cyber bullying menyerang anak.

Buat anak merasa aman dan nyaman di rumah

Yang pertama kali harus Anda lakukan adalah membuat anak merasa aman dan nyaman bersama Anda di rumah. Pasalnya, di sekolah atau lingkungan pergaulannya, anak sudah merasa terancam dan ketakutan. Karena itu, pastikan bahwa kondisi di rumah cukup tenang, mendukung, dan aman buat anak. Ketika anak bercerita soal pengalamannya jadi korban bully, dengarkan dengan tenang dan sabar. Jangan memburu-buru atau memotong ceritanya supaya ia merasa cukup aman untuk memberi tahu Anda.

Anda juga harus meyakinkannya bahwa Anda akan selalu ada untuk mendukungnya menghadapi masalah ini. Sampaikan juga padanya bahwa Anda tidak marah atau kecewa padanya, bahwa anak tidak salah. Yang salah hanyalah si bully alias pelaku.

Jangan menanggapi pelaku

Berikan pengertian pada anak bahwa hal utama yang harus dilakukan ketika kekerasan di media sosial terjadi padanya adalah tidak membalas atau menanggapi si pelaku. Beri tahu bahwa semua komentar negatif atau cercaan yang ditujukan pada dirinya sebaiknya diabaikan saja.

Meski memang sangat sulit untuk menahan diri agar tidak melawan, justru hal ini akan mencegah keadaan semakin buruk. Biasanya orang yang melakukan cyber bullying cenderung lebih senang jika ‘umpannya’ diterima oleh sang korban.

Bangun kembali kepercayaan diri anak

Sangat wajar jika anak dan remaja Anda sangat ketakutan, cemas, marah, dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Tentu sebagai orangtua, peran Anda untuk membuatnya tenang dan mengembalikan kepercayaan dirinya kembali sangat penting.

Jelaskan bahwa hal ini bisa saja terjadi pada siapa pun, tak hanya pada dirinya. Ada banyak orang yang tak bertanggung jawab dan menggunakan media sosial untuk menindas orang lain. Jika memang perlu, Anda bisa mengajaknya ke psikolog untuk memantau kondisi mentalnya.

Penting untuk tidak menyudutkan atau menyalahkan anak, misalnya dengan berkata seperti, “Memangnya apa yang kamu lakukan, sampai-sampai dia mem-bully kamu seperti ini?” Apa pun alasannya, cyber bullying pada anak tidak bisa dibenarkan.

Perkuat komunikasi dengan anak

Perkuat hubungan orang tua dengan anak, sehingga anak merasakan nyaman dengan orang tua. Jika anak merasa nyaman, mereka tidak akan segan untuk terbuka membicarakan masalah-masalah mereka dengan orang tuanya. Hal ini penting, karena keterbukaan anak akan membuat orang tua lebih memahami situasi dan kondisi anaknya.
Anak korban bully biasanya merasa tidak berdaya, putus asa, dan ketakutan. Karena itu, penting bagi Anda untuk memberdayakan anak mencari jalan keluar masalahnya sendiri.

Kemampuan pemecahan masalah akan sangat berguna, bahkan sampai anak dewasa nanti. Misalnya anak bercerita bahwa setiap hari bekalnya selalu diambil oleh pelaku perundung. Pancing anak dengan bertanya, “Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan supaya dia berhenti mengambil makananmu?”  Nah, di sini jawaban anak bisa bermacam-macam dan mungkin mengagetkan Anda. Tetaplah tenang dan arahkan anak untuk mencari solusi.  Contohnya dengan berkata, “Memangnya kalau kamu mendorong dia sampai jatuh, apakah menurutmu besoknya dia bakal berhenti mengganggu dan mengambil bekalmu?”. Dengan begitu, anak pun akan terlatih untuk memikirkan konsekuensi dari setiap tindakan dan perkataannya secara matang.

Pastikan bahwa anak merasa solusi tersebut datang dari dirinya sendiri, bukan didikte oleh kedua orangtuanya. Orangtua pun perlu meningkatkan kepekaan. Kepekaan seperti apa yang perlu ditingkatkan? Orang tua tentu hafal karakter dan perangai anak-anaknya–bagaimana sikapnya saat sedih atau gusar, seperti apa ekspresi kegembiraannya, dan sebagainya. Orang tua perlu mengamati ekspresi perasaan anak dalam kaitan interaksi mereka dengan internet dan media sosial.

Ingatkan korban untuk ‘istirahat’

Salah satu caranya adalah dengan memintanya untuk stop baca media sosial untuk sementara waktu. Minta ia untuk fokus pada diri sendiri dulu. Remember that not everyone gonna like us. Fokuslah pada hubungan yang real (bukan virtual). Bagilah pemikiran dan perasaan pada orang yang benar-benar dipercaya dan pasti mendukungnya. Dapat juga menghimbau anak untuk mengatur privacy setting media sosialnya agar orang lain tidak dapat berkomentar di postingan-postingannya untuk sementara waktu. Ingatlah bahwa satu-satunya yang harus diutamakan adalah kesehatan mental korban, bukan apa kata para pem-bully yang jelas-jelas tidak akan membantu proses penyembuhan mentalnya.
Siapa saja bisa jadi korban bullying. Jika bukan Anda, maka anak, saudara, teman, murid, dan bahkan pasangan Anda. Menahan diri untuk mem-bully akan menyehatkan mental dan melatih diri sendiri agar dapat menolong orang sekitar kita yang jadi korban bullying.

Kumpulkan bukti, lalu laporkan

Setelah berhasil menahan diri, tanyakan pada anak apa saja bentuk kekerasan media sosial yang ia dapatkan. Entah itu komentar yang tidak pantas, foto pribadinya, dan lain-lain. Kumpulkan semua hal tersebut untuk dijadikan barang bukti.

Banyak anak yang justru menghapus semua bukti tersebut karena merasa ketakutan. Jadi tenangkan dirinya dan berikan penjelasan bahwa hal ini bisa dijadikan barang bukti. Jika memang Anda sudah memiliki bukti yang cukup, maka sebaiknya laporkan pada pihak sekolah atau pihak mana pun yang berwenang dalam situasi Anda, sehingga si pelaku tidak akan melakukan kekerasan pada anak lainnya.

Dalam kasus tertentu, anak mungkin menjadi korban bully yang cukup parah. Sebagai contoh, pelaku menggunakan ancaman kekerasan, pelecehan seksual, atau bahkan sudah melakukan tindak kekerasan terhadap anak. Ini sudah bukan ranahnya pihak sekolah atau antar orangtua, melainkan harus ditindak lewat jalur hukum.  Akan tetapi, alangkah baiknya bila Anda memberi tahu pihak sekolah dulu sebelum melaporkan pelaku. Pihak sekolah mungkin menawarkan untuk melakukan mediasi, tetapi dalam kasus yang sudah disebutkan di atas, Anda tetap harus lapor ke kepolisian demi melindungi anak.

Selain itu, ajari anak menyimpan bukti Bila memang terjadi mengalami cyber bullying, ajarkan pada anak untuk menyimpan bukti bullying itu. Bukti-bukti itu akan berguna jika tingkat bullying sudah membutuhkan penanganan yang lebih serius.

Memantau kegiatan anak dalam media sosial

Hal yang terpenting adalah memantau segala kegiatan putra dan putri Anda dalam bermedia sosial. Ketahui apa saja akun media sosial yang ia miliki hingga teman-temannya di dalam media tersebut. Beritahukan ia jika sebaiknya tidak berteman dengan orang-orang yang tidak dikenal. Penting juga untuk mengetahui segala postingan yang ia unggah di akun pribadinya.

Orang tua perlu mempelajari dan memahami internet dan media sosial agar bisa mendiskusikan manfaat dan dampaknya dengan anak. Baik juga jika orang tua juga membuat akun di media sosial, sehingga tetap bisa berinteraksi dengan anaknya, sekaligus mendapat gambaran seputar pergaulan anaknya di media sosial.



Penulis : Maria L Martens

Ragam Terbaru