Loading
Pentas drama bertajuk I La Galigo (Ist)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Sebagai lembaga yang mengutamakan pembangunan karakter dan bakat siswa, Sekolah Cikal kembali mengadakan kegiatan sebagai sarana mengembangkan kreativitas siswa. Ragam karya berbasis seni dan sosial tersaji di gelaran CAS (Creativity, Arts and Service) . Sekolah Cikal Setu. Kegiatan ini juga sebagai proyek tugas akhir.
Murid-murid Sekolah Cikal kelas 12 yang terdiri dari Rio, Victo, dan Agung membuat School Production yang berjudul I La Galigo yang sukses dipentaskan tahun lalu. Melalui tema tersebut, mereka berupaya untuk mengangkat budaya Indonesia yakni penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan.
Dengan menampilkan seni teater yang menarik dan epik, murid-murid melakukan serangkaian tahapan untuk membuat karya, mengingat I La Galigo merupakan sebuah pementasan yang naskahnya diadaptasi dari 'Sureq Galigo', wiracarita tentang mitos penciptaan suku Bugis yang terabadikan lewat tradisi lisan dan naskah-naskah.
Adapun tujuan kegiatan ini adalah mempromosikan budaya Indonesia, karena I la galigo merupakan legenda dari Bugis. Jadi, kita ingin membuat ini agar dikenal oleh teman-teman dan menjadi bangga atas kekayaan Indonesia.”
Sebagai bagian dari pembuatan produksi teater ini, Rio menyatakan tantangan terbesar yang diharapkan adalah mempertahankan komitmen, dan dituntut untuk menempatkan diri dengan baik dalam kolaborasi tim.
“Bagiku tantangan terbesar adalah komitmen. Semua proses ini memakan waktu 5-6 Bulan. Apalagi kita membuat script yang sudah sempat jadi dan harus direvisi ulang. Tapi, karena aku melihat teman-temanku menyemangati, jadi aku ingin tetap bertahan dan membuat school production berjalan.”ucap Rio, yang menjadi salah satu penulis Script dan Music Director Produksi Seni Teater I La Galigo.
Berbagi Kompetensi Sukarela
Selain mengangkat karya seni, ada pula Murid Sekolah Cikal yang tidak sungkan melakukan aksinya secara sukarela dengan berbagi kompetensi Bahasa Inggris. Nafisah Mazaya Azzahra, murid kelas 12, memilih mengajar bahasa inggris di salah satu yayasan yatim dan dhuafa, Yayasan Alpha Indonesia.
Berbekal keinginan untuk berkontribusi, Nafisah memilih untuk membagikan pengetahuannya dalam bahasa Inggris dua kali seminggu. “Aku berpikir saat itu aku kan punya kemampuan bahasa Inggris yang baik, kenapa aku tidak bagikan saja.” ujar Nafisah.
Dengan keinginan membagikan kompetensinya itu, Nafisah ingin menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian bagi anak-anak di Yayasan Alpha untuk belajar bahasa asing dengan cara yang menyenangkan dan tanpa beban. “Bahasa Inggris itu kan bahasa asing yang mulai dipakai di masyarakat, paling gak aku bisa memperkenalkan mereka tentang bahasa inggris dengan cara yang menyenangkan, misalnya games yang tidak membuat mereka tegang juga,” katanya.
Ia pun menyampaikan perasaannya setelah menjalankan proyek ini. “Aku merasa ada kepuasan tersendiri (self-satisfaction), dimana aku tidak hanya bisa berbuat sesuatu untuk diriku dengan proyek CAS ini, tapi juga buat teman-teman di luar sana. Rencananya, aku akan melanjutkan proyek ini.” tutupnya.
Kolaborasi Nyata
Selain dibentuk untuk mendorong murid-murid memberikan kontribusi di masyarakat, CAS ini juga menjadi ruang nyata bagi murid untuk membangun kolaborasi dengan sesama. Beberapa murid melakukan kegiatan magang di beberapa tempat seperti Lembaga Hukum MRA Law and Attorneys, PT.Indosat, PT Arkorior, IBL dan Keluarga Kita. Selain itu, adapula murid-murid yang mengembangkan majalah (bertemakan fashion, dan pengembangan diri), dan pembuatan proyek pembelajaran di sekolah melalui Sidang Simulasi PBB (Model United Nations).