Loading
Lima mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UKDW Yogyakarta merancang sebuah alat bernama Clogging Detector and Destroyer (CDD) yang berteknologi laser dan IoT. (Foto: Humas UKDW)
YOGYAKARTA, SCHOLAE.CO - Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB) mencatat ada 7.574 kali bencana banjir yang terjadi di Indonesia
selama periode 2011 hingga 22 September 2020. Meski trennya fluktuatif, bencana
ini memiliki tingkat intensitas yang cukup sering selama 10 tahun terakhir.
Berangkat dari permasalahan tersebut, lima mahasiswa Fakultas Teknologi
Informasi (FTI) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta merancang
sebuah alat bernama Clogging Detector and Destroyer (CDD) yang berteknologi
laser dan IoT.
Giovanni Harrius, Stefani Fransisca, Meylisa Putri
Ishariyanti, Hedwig Ghenis Karisma Pradata, Kevin Alvaro Adianto mengusulkan
alat tersebut sebagai solusi untuk mengatasi banjir di perkotaan akibat
penyumbatan selokan. Clogging Detector berfungsi mendeteksi apakah ada sampah
penyumbat di sekitarnya berdasarkan ada/tidaknya hambatan yang dideteksi
sensornya. Sedangkan Clogging Destroyer berfungsi menghancurkan sampah di
sekitarnya menggunakan teknologi laser yang sangat kuat sehingga sampah
berukuran besar dapat terurai dengan cepat.
Giovanni selaku ketua tim menjelaskan kedua alat diletakkan
di sepanjang dinding selokan dalam jarak 50-100 meter dan terhubung ke pusat
data di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemerintah Kota setempat.
Clogging Detector maupun Clogging Destroyer terbuat dari bahan kuat, kedap air,
tahan goncangan, dan baterai yang praktis dapat dipakai seumur hidup. Pada
kondisi dimana tidak ada sampah penyumbat, Clogging Detector mengirim status
“idle” ke BPBD.
“Apabila terdeteksi sumbatan, Clogging Detector akan
mengaktifkan Clogging Destroyer di lokasi sekitarnya agar menghancurkan sampah
penyumbat. Selain itu, Clogging Detector mengirim status “blink” ke BPBD
sehingga BPBD mengetahui lokasi sampah penyumbat dan usaha yang sedang dilakukan
Clogging Destroyer. Clogging Destroyer akan menghancurkan sampah selama jangka
waktu tertentu. Namun apabila ada sampah yang sulit dihancurkan (misal logam,
kabel), Clogging Destroyer akan mengirim status “beep” pada BPBD. BPBD
mendatangi lokasi penyumbat dan membersihkannya secara manual,” imbuhnya, Jumat
(21/05).
Inovasi kelima mahasiswa UKDW ini berhasil mendapatkan
pendanaan lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2021 skema Gagasan
Futuristik & Konstruktif (GFK) yang diselenggarakan oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI melalui Direktorat Pembelajaran dan
Kemahasiswaan. Keberhasilan tim ini tentu tidak lepas dari bimbingan Drs. Jong
Jek Siang, M.Sc. Dosen Sistem Informasi sekaligus Kepala Program Studi Sistem
Informasi UKDW.
Drs. Jong Jek Siang,
M.Sc. menuturkan bahwa ide pengatasan banjir dengan Clog Detector dan Destroyer
tersebut sangat relevan dengan kondisi kota besar di Indonesia yang sering
terkena banjir akibat tidak disiplinnya masyarakat dalam pembuangan sampah. Clog
detector memanfaatkan teknologi IoT yang dipadukan dengan laser. Apabila
diimplementasikan oleh pemerintah daerah, deteksi dan penghancuran sampah
menjadi lebih mudah sehingga akibat penumpukan sampah dapat dikurangi secara
signifikan.
“Saya mengapresiasi usaha keras kelima mahasiswa pengusul
sehingga proposalnya lolos PKM skema Gagasan Futuristik-Konstruktif (GFK).
Terlebih di masa pandemi yang mengharuskan semua pengerjaan dilakukan secara
daring, mahasiswa-mahasiswa kami masih dapat berprestasi tingkat nasional,”
pungkasnya.