Loading
Sekolah harus mendukung siswanya untuk memahami setiap aspek Industri 4.0 . (Foto: Istimewa)
TAHUN 2021 kembali
menjadi tahun yang penuh tantangan, dengan pandemi COVID-19 yang terus
memberikan dampak besar bagi banyak orang, tidak hanya di Indonesia tetapi juga
seluruh dunia. Meski demikian, di balik tantangan selalu ada peluang. Pandemi
telah meningkatkan kecepatan perkembangan dan penerapan teknologi baru. Semakin
hari kita semakin melihat peran bermanfaat dari teknologi industri 4.0 yang
mengubah cara kita hidup dan terhubung dengan satu sama lain, bekerja, serta
mendidik anak-anak kita.
Tak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi baru ini akan
mengambil alih sebagian pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia. Kabar
baiknya, McKinsey & Company memprediksi bahwa meskipun sebanyak 23 juta
pekerjaan dapat digantikan oleh otomatisasi di Indonesia hingga 2030, ada 27-
46 juta pekerjaan baru dalam bidang teknik dan creative thinking yang dapat
tercipta dalam periode yang sama. Selain itu, Pemerintah Indonesia telah
merancang Making Indonesia 4.0 Roadmap untuk mengimplementasikan beberapa
strategi guna mendorong daya saing bangsa di Industri 4.0, salah satunya dengan
meningkatkan tenaga kerja masa depan melalui pendidikan masa kini.
Di saat pemerintah dan pemimpin industri sibuk menyesuaikan
diri dengan kebutuhan Industri 4.0, sektor pendidikan termasuk sekolah harus
memikirkan kembali pendidikan dan bagaimana mempersiapkan generasi muda untuk
menangkap peluang masa depan. Siswa harus dilengkapi dengan keterampilan dan
pola pikir yang tepat untuk membantu mereka berkembang di dunia kerja masa
depan, menurut Lloyd Jeeves, Manajer Pengembangan Kurikulum, Cambridge
International. Inilah salah satu alasan yang mendorongnya membantu
mengembangkan kurikulum Komputasi terbaru untuk program Cambridge Primary and
Lower Secondary.
Industri 4.0 bertopang pada konektivitas antar perangkat dan
pemahaman yang berkembang tentang bagaimana konektivitas ini bekerja. Lloyd
menjelaskan bahwa kurikulum komputasi baru ini akan memperkenalkan konsep
tersebut kepada siswa muda. "Kurikulum Komputasi kami dirancang bagi siswa
muda untuk mengembangkan keterampilan yang berkaitan dengan Industri 4.0
seperti pemrograman, pemikiran komputasi, konektivitas, dan analisis data.
Kurikulum ini akan membantu mereka untuk mengenali peran ilmu komputer dalam berbagai
industri, mengembangkan keterampilan ilmu komputer mereka sendiri, dan
mengenali peran yang akan dijalankan oleh ilmu komputer dalam karir mereka di
masa depan," jelasnya.
Lantas, mengapa penting bagi siswa untuk mengembangkan
keterampilan ini di usia muda? Lloyd menerangkan sangatlah penting memiliki
kemampuan komputasi yang kuat saat ini, di mana semakin dini seorang anak dapat
mulai membangun dan mengembangkannya, semakin siap mereka untuk pembelajaran di
masa depan dan dunia kerja.
"Dengan mempelajari pemikiran komputasi dan
keterampilan pemrograman sejak usia dini, siswa akan dapat mengembangkan
kompetensi seperti logika dan dekomposisi secara progresif, sebelum mereka
harus bersaing dengan menerapkannya dalam lingkungan profesional dan kerja.
Pelajar muda akan dapat bersenang-senang dengan program yang mereka buat,
sambil mengembangkan pengetahuan dan keterampilan penting yang kemudian dapat
diterapkan pada konteks yang semakin kompleks sepanjang pendidikan mereka dan
seterusnya."
Ia menambahkan: "Pengkodean, dan memahami perlunya presisi, juga akan membantu pelajar muda untuk memahami bagaimana segala sesuatu bekerja dan bagaimana perangkat dan mesin merespon instruksi dan input. Pengetahuan ini, terlepas dari apakah dikembangkan di kemudian hari dalam pendidikan mereka, akan tetap membantu siswa untuk memahami hubungan antara komputer, program, dan mesin yang merupakan inti dari Industri 4.0."
Namun, Lloyd menyadari bahwa tidak semua siswa ingin menjadi
ilmuwan komputer ketika mereka dewasa, tetapi ada banyak alasan mengapa anak
muda akan mendapatkan keuntungan dari mempelajari ilmu komputer.
Ia mengatakan, "Walaupun mereka tidak bercita-cita
menjadi ilmuwan komputer, tetapi mereka akan bekerja dalam dunia industri 4.0
saat dewasa. Karena itu, siswa muda perlu memahami hubungan antara komputer dan
dunia di sekitar mereka. Hubungan ini termasuk bagaimana teknologi diterapkan
pada praktik yang ada dan berkembang, serta etika dalam pengambilan keputusan
terhadap penerapan teknologi. Hubungan dan pertimbangan tersebut merupakan
bagian penting dari kurikulum Komputasi."
Kendati sekolah harus mendukung siswanya untuk memahami
setiap aspek Industri 4.0 dengan cara yang mudah dipahami, memiliki akses ke
komputer dan internet tidak selalu diperlukan untuk setiap pelajaran komputasi.
Lloyd mengatakan bahwa meskipun sekolah-sekolah yang bekerja
sama dengan Cambridge International di Indonesia memiliki akses yang baik ke
komputer, banyak sekolah lain yang mungkin tidak memiliki banyak sumber daya.
Namun, mereka masih dapat mengajarkan banyak aspek dari mata pelajaran tersebut
kepada siswanya. Pelajar, sambungnya, bisa mendapatkan keuntungan dari
penggunaan komputer secara bersamaan. Selain itu, setelah aplikasi seperti
Scratch diunduh, sebagian besar pekerjaan di layar dapat dilakukan secara
offline. Komputer mini, seperti Micro:bits, yang dapat diperoleh dengan harga
relatif murah juga dapat digunakan bersama di seluruh sekolah, bersama dengan
penggunaan komputer.
Ia menambahkan, "Banyak kegiatan yang dapat dilakukan
tanpa komputer, terutama dalam pemikiran komputasi, jaringan dan komunikasi,
dan konten sistem komputer. Mengerjakan aktivitas 'unplugged' dapat membantu
meningkatkan pemahaman siswa. Jika guru juga dapat menunjukkan kepada siswa
contoh otomatisasi di industri lokal atau memungkinkan mereka untuk mendengar
langsung dari orang-orang yang bekerja di industri ini, siswa akan memperoleh
pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana suatu hari nanti mereka dapat
menerapkan apa yang telah mereka pelajari di tempat kerja nanti."
Selain Komputasi, Program Cambridge Primary and Lower
Secondary juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar tentang
Literasi Digital. Melalui mata pelajaran terpisah ini, mereka akan belajar
bagaimana menggunakan teknologi digital dengan aman dan melindungi
kesejahteraan fisik dan emosional mereka sendiri sejak awal perjalanan
pendidikan.
"Jika ingin anak-anak kita siap menghadapi Industri 4.0
dan menghadapi tantangan serta peluang yang akan hadir di kemudian hari, sangat
penting bagi kita untuk memberikan mereka pendidikan yang menyeluruh disertai
landasan yang kuat, termasuk membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan
komputasi mereka dan pemahaman tentang bagaimana menggunakan teknologi digital
ini secara bertanggung jawab. Kami berharap ini akan membantu mereka mengembangkan
rasa keingintahuan dan semangat belajar yang abadi untuk membuat mereka siap
bekerja di masa depan," tutup Lloyd.