Mendiktisaintek: Politeknik Bukan Pilihan Kedua, tapi Kunci Daya Saing Global


 Mendiktisaintek: Politeknik Bukan Pilihan Kedua, tapi Kunci Daya Saing Global Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto memberikan keterangan di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (28/11/2025). ANTARA/Mentari Dwi Gayati/aa.

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa pendidikan politeknik bukan sekadar alternatif kedua setelah universitas, melainkan strategi utama dalam mencetak tenaga kerja terampil yang mampu bersaing di pasar global.

Pernyataan tersebut disampaikan Brian saat membuka Lokakarya Nasional bertema “Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia untuk Bekerja di Luar Negeri” yang digelar di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Depok, Jawa Barat, Sabtu (20/12/2025).

“Politeknik adalah institusi pencetak skilled labor yang siap bersaing dengan talenta dari negara lain seperti India dan China. Jadi ini bukan pilihan kedua,” ujar Brian Yuliarto dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Ia menekankan bahwa penguatan pendidikan vokasi menjadi bagian penting dari strategi nasional untuk menutup kesenjangan keterampilan (skill gap) antara lulusan Indonesia dan kebutuhan dunia kerja internasional.

“Kita harus memastikan potensi skill gap dengan dunia global bisa kita atasi. Arah kebijakan kita jelas, yaitu menaikkan kelas kualitas SDM Indonesia,” lanjutnya.

Menurut Brian, pendidikan tinggi vokasi dituntut mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga profesional dan percaya diri saat berkompetisi di level internasional.

“Konteksnya adalah bagaimana pendidikan tinggi Indonesia, khususnya vokasi, mampu membuktikan kualitasnya di panggung global,” kata dia.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Mendiktisaintek menyoroti sejumlah aspek penting, mulai dari pembelajaran berbasis praktik terbaik (best practices), penguasaan bahasa dan komunikasi, sertifikasi kompetensi yang kredibel, hingga penguatan jejaring dengan industri dan pemangku kepentingan lintas sektor.

“Langkah-langkah ini krusial agar lulusan pendidikan vokasi memiliki kesiapan kerja yang matang dan berkelanjutan,” ujar Brian.

Ia juga menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung penuh pendidikan vokasi, termasuk melalui kebijakan dan regulasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.

“Sertifikasi kompetensi sebagai syarat masuk pasar kerja global harus bisa dimaksimalkan pelaksanaannya di dalam negeri,” tegasnya.

Brian Yuliarto turut memperkenalkan konsep brain circulation sebagai strategi jangka panjang pembangunan SDM nasional.

“Kita kirim putra-putri terbaik bangsa ke berbagai negara agar mereka mendapat pengalaman dan nilai tambah. Saat kita membangun industri strategis, mereka kita panggil pulang. Inilah yang saya sebut brain circulation, dan ini harus disiapkan oleh pendidikan tinggi vokasi,” jelasnya dikutip Antara.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia (FDPNI) Ahyar M. Dyah menyatakan bahwa politeknik negeri di seluruh Indonesia telah menjalin kerja sama internasional dalam pemenuhan tenaga kerja terampil.

“FDPNI siap mendukung penuh upaya mempersiapkan lulusan vokasi agar mampu menembus pasar kerja global serta memastikan keberlanjutan program ini sebagai bagian dari transformasi pendidikan vokasi nasional,” ujar Ahyar.

Editor : Patricia Aurelia

Berita Scholae Terbaru